Berita Featured

1st Movement, Sebuah Gerakan Untuk Masyarakat

Tidak jarang  terdengar pendapat bahwa mahasiswa ITB cenderung acuh terhadap dunia luar.  Alasannya bervariasi, namun yang paling sering terngiang adalah karena mahasiswa ITB cenderung terlalu sibuk sendiri dengan aktivitas kampus.

Benar atau tidaknya pendapat ini tidak dapat dibuktikan, namun bila memang benar ada tendensi bagi mahasiswa ITB untuk lebih memilih berada pada zona nyamannya di kampus daripada melihat keluar, sudah banyak kegiatan mahasiswa yang bersifat eksternal yang berusaha menampik pendapat tersebut.  First Movement, misalnya, sebuah acara yang merupakan rangkaian kegiatan bakti sosial oleh ITB angkatan 2012 pada tanggal 9-11 November 2012 lalu.  Sebagai lanjutan dari OSKM tahun ini, tujuan First Movement tidak jauh berbeda yakni menyatukan angkatan dan menyatakan bakti kepada masyarakat.

Rangkaian acara First Movement meliputi lima aspek: lingkungan, kesehatan, kebersihan, pendidikan, dan kesenian.  Kegiatan pertama adalah penanaman 3.400 pohon dengan Kementrian Kehutanan di lahan dekat kampus ITB Jatinangor.  Untuk kesehatan, ITB 2012 akan mengadakan pengobatan gratis untuk warga lingkungan Pasopati dan pembagian kacamata plus bagi yang membutuhkan.  Acara selanjutnya adalah pembersihan Kali Cikapuntung dengan bantuan aktivis dan komunitas pencinta lingkungan, serta pemberian penyuluhan tentang pentingnya menjaga kebersihan kali pada masyarakat lokal.

Di bidang pendidikan, First Movement akan bekerja sama dengan suatu yayasan untuk perbaikan pendidikan Rumah Belajar Sahaja, sebuah sekolah untuk anak-anak jalanan di Cimindi.  First Movement juga menyediakan alat-alat bantu belajar serta sebuah saung sederhana tempat belajar yang nanti ke depannya akan diurus oleh yayasan tersebut.  Acara terakhir adalah lomba fotografi bertema potret kehidupan bangsa serta pengumpulan surat dari kaum dhuafa yang nantinya akan dipajang di kampus.

Gaung First Movement mungking kurang terdengar.  Bahkan masih banyak mahasiswa angkatan 2012 yang tidak mengetahui apa itu First Movement, sehingga esensi acara yang mengusung penyatuan angkatan menjadi dipertanyakan.  Banyak mahasiswa angkatan baru yang mengeluh karena merasa First Movement hanya milik panitia.  “Pingin sih ikut,” ujar seseorang mahasiswa angkatan 2012 yang tidak ingin disebut namanya. “Tapi enggak pernah diajakin gitu.  Terus oprec-nya udah tutup, mau gimana lagi.”

Saat dikonfirmasi Boulevard, ketua panitia First Movement, Angga Fauzan (FSRD’12), berkata bahwa memang sangat sulit untuk semua mahasiswa 2012 tanpa terkecuali untuk benar-benar ikut serta dalam acara ini.  Namun diharapkan bagi mereka yang belum bergabung dengan First Movement dapat mengikuti rangkaian acara di hari-H, misalnya dengan ikut menanam pohon untuk hutan ITB, atau dengan turut serta membersihkan kali Cikapuntung.“Dari situ, diharapkan kami bisa mengatakan tidak benar mahasiswa ITB itu sombong dan tidak peduli dengan dunia luar,” lanjut Angga.

Angga sendiri sudah mengakui bahwa bila tidak ada mandat dari OSKM, ada kemungkin acara First Movement tidak akan terjadi sama sekali, dan ada kemungkinan tahun depan angkatan 2012 tidak akan membuat acara serupa.  Apakah hal ini berarti saat rangkaian acara pengabdian masyarakat sudah selesai mahasiswa-mahasiswa ini juga akan turut larut dalam reputasi mahasiswa ITB yang citranya eksklusif dan kurang peduli?

Evita Purnamasari, sekretaris panitia First Movement, berpendapat bahwa sudah sewajarnya pertanyaan ini dibawa ke pribadi masing-masing.  Dengan adanya acara serupa hampir di tiap fakultas, seperti bakti sosial SAPPK 2012 atau Satoe Indonesia milik SBM, diharapkan semangat bakti dapat terlanjutkan. [hasna]

Komentar