Artikel

Taraksa [Nomor 1: Yang Terculik]

Naskah : Sutansyah Marahakim

Ilustrasi : Fiona Priscilla Tambunan

Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi

Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan #nokturna. Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini.  Juga silakan ikuti linimasa @taraksa_ untuk mengetahui lebih jauh pergulatan diri seorang Taraksa. Mari nikmati rangkaian cerita Taraksa ini, selamat membaca!

Pada akhirnya setiap perjalanan selalu berangkat dari kasih sayang. Semua selalu berdoa dan bercerita tentang gigitan terlarang dari manusia pertama. Tentang ular sebagai simbol, tentang surga yang hilang dan jatuhnya makhluk kesayangan. Namun pernahkah kalian bayangkan perjuangan Adam mencari Hawa di dunia?

Beberapa menafsirkan kisah mereka sebagai pengkhianatan terhadap Tuhan, keberhasilan setan dalam bisikan. Bukankah kisah mereka juga tentang pengorbanan? Tentang Adam yang rela melepaskan umur abadi demi sebuah pinta dari wanita yang ia cintai.

Maka pada akhirnya setiap kehilangan akan berakhir pada hati yang tak kuasa namun membangkang.

Pada mereka yang membicarakan di telinga setiap orang. Mereka yang berkata pada seluruh warga desa, pada satu sama lain bahwa Chiandra telah diculik para prajurit bulan. Aku menatap mereka dengan tidak percaya. Kuhujamkan tinju ku ke salah satu dari mereka yang berani berkata bahwa wanita yang kucinta telah hilang ditelan lembah cahaya. Dan ia takkan kembali ke desa ini selamanya.

Sebuah fakta yang tak akan pernah aku terima.

Ada tepukan riuh tanpa suara, ada bahagia dan tenang dari wajah kedua orang tua Chiandra. Desa kami telah lama memimpikan adanya Dewi yang tinggal di langit malam. Berdiam di kerajaan tak berbatas detik atau ruang, selalu luas dan sempit setiap saat. Kerajaan gemerlap putih yang melayang di langit, yang tinggi, yang bagi hanya tertangkap manusia sebagai sebuah lingkar sempurna.

Karena singgasana Sang Dewi bukanlah untuk mata kami, rakyat jelata. Karena istananya bersinar terlalu terang, hingga mata kami hanya melihatnya sebagai rembulan di kala malam.

Malam yang membawa pergi Chiandra.

Seberapa kuat pun aku berteriak pada gelap, seberapa keras kulawan setiap kata kata Ayah, Bunda, dan seluruh gubuk tetangga – yang atapnya memancarkan desas desus mati nya Chiandra, seorang manusia yang lemah tak mampu melawan alam yang dijawab percaya sebuah umat. Aku begitu marah bahkan dibuang oleh para sahabat. Tentu itu bukan maksud mereka, namun tentu tidak ada yang mau menjadi teman seseorang yang melontarkan caci pada permaisuri. Mereka mengira aku telah terbutakan oleh kehilangan dan ratap. Aku terus terdiam dan hanya mampu bersembunyi dibalik pintu rumah, dalam rasa iba keluarga yang mau tidak mau harus menerima. “Berhentilah menjadi seperti ini, kembalilah!” satu per satu dari kerabat dan sahabat memberi peluk terakhirnya sambil berseru hal yang kurang lebih serupa.

Nyatanya aku tidak pernah pergi. Terjerat rantai tak terlihat yang mereka sebut sebagai gravitasi. Tak mampu melayang, Seperti halnya seluruh makhluk di dunia. Aku tidak hilang, Aku ada disini. Sebuah keadaan yang begitu aku benci.

Hingga akhirnya tatapanku kualihkan dari wajah warga desa yang menjalani hari seperti biasa. Sungguh tak berguna untuk terus marah pada kerumunan yang kebal dan mati rasa.

Menuju belantara hitam sang langit, yang setelah belasan hari hanya kupandangi dalam diam, kutantang meski tak lagi dengan teriakan. Mengarunginya hanya menjadi mitos, ‘sebuah pelayaran mimpi’, begitu kata Kepala Desa. Namun tentu aku tidak percaya, atau mungkin tidak peduli. Tujuh helai daun Edock, yang dihancurkan dan dibakar di tungku tanah liat berbentuk sampan patah. ‘Karena bahkan dengan tujuh kegigihan tertinggi seorang manusia, perahumu akan terobek-robek oleh rahang angkasa’. Kemudian sisa dari daun itu, yang sekarang hanya bubuk legam berbau harum, ditorehkan ke dalam punggung dengan belati biru metalik, membentuk dua mata burung hantu. ‘Namun gigih itulah satu satunya bekalmu. Yang harus kau miliki selain itu bukanlah dari diri, namun sihir malam sebagai saksi mata. agar langit berhenti menyerangmu, kurobek tubuhmu terlebih dahulu dengan pisaunya’

‘dan terbanglah’

Aku bisa melihat sayap-sayap bermunculan dari kedua mata burung hantu di punggungku. Tidak ada angin. Hanya ada air mata kedua orang tua dan belasan saudara serta warga desa yang mengutukku sebagai calon pembawa malapetaka.

Langit akan runtuh kata mereka. Peperanganku dengan penculik Chiandra akan berakhir bencana. Namun aku terbang. Terus seperti itu.

Hingga hanya hanya gulita yang memeluk sekelilingku.

Hingga kata kata terakhir sang kepala desa entah mengapa terdengar di telinga.

‘Pelayaran ini harus kau mulai dengan tenggelam’

Sepasang sayapku pun meninggalkanku, berubah menjadi alap-alap.

Untuk info lebih lanjut :

@taraksa_
@majalahEPIK
www.majalahepik.com

Komentar