Artikel

Taraksa [Nomor 4 : Yang Diam]

Naskah : Sutansyah Marahakim 

Ilustrasi : Fadhel Adam

Adaptasi Twitter : Anissa Rahma Sukardi

Serial Taraksa adalah kisah yang terinspirasi dari petilan #nokturna. Digagas pertama kali oleh Majalah EPIK, cerita ini akan diangkat sebagai naskah seni pertujukan : Teater EPIK vol. 5. Cerita bersambung ini akan terus berlangsung sampai mendekati waktu pertunjukan. Hingga saat itu, kami akan turut memediasi cerita ini.  Juga silakan ikuti linimasa @taraksa_ untuk mengetahui lebih jauh pergulatan diri seorang Taraksa. Mari nikmati rangkaian cerita Taraksa ini, selamat membaca!

Berdiri dengan kokoh, memandang semua yang terjadi di sekitar. Hanya mengamati. Kadang bergerak pelan mengikuti arah angin. Menyediakan tempat untuk burung-burung beristirahat, hingga mereka mampu pergi melintasi dunia. Menyediakan jalur pergerakan semut-semut yang sedang bertualang, membiarkan mereka berjelajah ke tempat baru seiap saat. Sebuah tempat berteduh bagi mereka yang menelan terlalu banyak peluh.

Di utara padang ini, berdiri ia yang sabar. Senantiasa menjadi sandaran bumi, sebagai pelepas letih dunia. Lapisan ketiga adalah tempat bernaung Sang Pelindung tanpa lidah, tak pernah pindah apalagi lelah. Disana hening tak pernah dirusak kata karena ia tak pernah berbicara. Ia hanya menaungi dengan setia. Berdiri tegap, kuat, tanpa pernah mengeluh. Mendamaikan kehidupan dengan bertahan dari tombak ultraviolet kuning kerajaan matahari. Ia disana tanpa perlu diminta, sesosok yang akan setia dan terus selalu ada.

Ialah yang diam, ialah yang berkorban.

Dalam bungkam, aku melihat sebuah langit yang memerah di atas. Menyala-nyala, sesekali membiarkan jilatannya turun, namun tak satupun yang bisa menembus deretan anggun kanopi sang pelindung. Pohon raksasa itu tak bergeming, namun aku bisa rasakan kuatnya ribuan tusukan, nyaringnya erangan langit robek, tombak patah yang terus kalah; pasukan surya yang putus asa. ‘Kerajaan terkuat menyerang tanpa ampun, meledakkan hijau menuju legam, merontokkan dedaunan sembari menihilkan udara, niscaya tak mampu menundukkan ketabahan Drumdaara’.  Mereka yang gagal pun turun, sekedar sisa-sisa namun itulah yang dibutuhkan manusia. Membawa hangat kesuburan, mengusir salju menuntun semi, biarkan terang selimuti bumi.

Dibawah dahan kokoh yang menghitam, aku memandangi betapa semua yang sejuk ini adalah buah karya sang tumbal. Sebuah dunia yang sama sekali tak aku kenal, meninggalkanku tanpa kuasa untuk berbuat apa apa. Aku yang begitu lama memandang terpana, seringkali mencoba untuk masuki cangkang tempat pengetahuan Purna tersimpan, mencari tahu, memilah ilmu, berusaha memahami namun pada akhirnya tak mampu mengerti apa yang harus kulakukan untuk menembus lapisan ini. Seolah setiap aku berhasil tenggelam dalam tempurung penuh jawaban, dindingnya perlahan retak lalu hancur, disergap luapan rasa kagum seraya melihat suatu kebesaran agung, tanah yang secara tak langsung terus mengajakku untuk tinggal.

Kegagalan memahami seringkali berujung putus asa. Dari putus asa, manusia akan mulai bertanya-tanya. Seperti aku. Setelah sekian lama mematung di bawah tarian lembut daun gugur, terbuai guratan cahaya di permukaan rumput yang empuk, diayun lembut suara angin yang berlarian menyusup di antara juntai tangkai, kegelisahan membawaku mencapai puncak ragu yang akhirnya enggan membisu.

Siapakah aku? Lalu perjalanan ini. Mungkin ego telah melahap habis Sang Nalar, hingga berani kususuri perjalanan tak masuk akal. Apakah tempat ini nyata? Atau diriku yang membangunnya, berusaha suapi terus sang ego kelaparan dengan khayalan. Mungkinkah selama ini aku terlalu sombong? Menganggap seluruh bagian dunia berputar mengelilingi kehendakku. Apakah aku gagal melihat diriku sendiri? Yang berlarian tanpa mengindahkan takdir. Berkoar, berseru, jatuh namun terus memaksa bangkit, menentang langit seorang diri, sekuat tenaga memperkosa alam untuk tunduk pada satu keinginan. Mengembalikan Chiandra

Chiandra.

Apakah aku benar-benar mencintainya?

Cukup lama aku terdiam. Namun tak sedetikpun jiwaku duduk tenang. Ada kecamuk tak beraturan, ada sambaran pertanyaan demi pertanyaan, ada jawaban yang dihujam dengan ketidakyakinan. Terkurung dalam belenggu, aku seolah terputus dari dunia, aku tenggelam amat dalam, tanpa menyadari sesosok hitam yang terus menggeram.

Aku berlari. Aku berlari dan kukejar kucing besar itu. Bukan ia yang sebenarnya kukejar, namun sebuah tombak yang tertancap di punggungnya. Tombak itu mencuat, tidak bersinar namun begitu menarik perhatian. Tombak itu tidak melukainya, seolah merupakan bagian dari tubuh meski aku tahu senjata itu sama sekali bukan miliknya. Bisikan legenda, kisah tentang bilahan cakar gelap penembus udara, memaksaku untuk mengejarnya. Ingin kucoba ingat berapa menit detik atau jam yang lalu kucing hitam itu hujamkan kedua taringnya ke tanganku, namun relativitas waktu menjadi tak terukur disini. Yang aku tahu aku harus mengejarnya. Aku terus berlari karena tanpa tombak itu aku takkan bisa melewati langit selanjutnya. Tombak itulah jawabannya. Kurasakan sebuah kaki yang mendahului kaki lainnya, berulang terus mengarungi ribuan tahun atau sebelas detik saja. Kaki itu mengejar keempat cakar yang berayunan, meninggalkan dengan kecepatan sama persis, membentuk jarak yang tak bertambah juga tak berkurang. Diriku yang tidak perduli. Aku harus terus berlari. Aku terus berlari. Aku berlari.

Aku bisa saja berhenti.

Aku tersentak. Aku bisa saja berhenti namun selama entah berapa lama aku tetap berlari. Apa yang kukejar? Sama sekali tidak pasti. Pelarianku justru bertumpu pada suatu kepercayaan, nihil apa dan siapa. Yang menentukan pasti-tidak pasti pun pada akhirnya hanya keyakinan. Dalam tohokan tiba tiba, kubiarkan kaki kiri tidak lagi mendahului kaki lainnya. Bahwa yang aku kejar bukanlah tombak, bukanlah kucing atau kunci menuju ke langit berikutnya, melainkan keyakinan itu sendiri. Akan Chiandra. Akan perasaannya. Akan perjalanan ini. Akan perasaanku. Aku berlari demi menemukan jawaban, dan akhirnya berhenti karena telah kutemukan jawaban. Aku yang bertanya tentang Chiandra mungkin lupa. Demi dirinya aku terbang, aku jatuh, terjerumus dalam gamang kemudian mencoba belajar. Dan aku berlari. Aku berlari di saat aku bisa berhenti. Maka tentu pertanyaanku tak sepatutnya dipertanyakan kembali.

Kucing itu hilang. Ia hanya sosok di kejauhan yang tak mungkin terkejar. Kurasa telah lama kusadari itu namun baru di titik ini aku mau menerimanya. Kuangkat kepalaku, kupandangi jemari Sang Willow yang masih setia menaungiku. Ia masih disana. Masih melindungi dunia, masih berperang dalam diam. Kutatap dirinya yang seolah menatap balik, berkata dengan wajah hangat, ‘sekarang kau mengerti?’. Kubiarkan mataku berlama-lama menikmati arti dibalik segala keindahan, segala keraguan, dan disana, meski tak satu bagian tubuhku menyentuh Drumdaara, aku tahu aku sedang memeluknya. Ia sambut diriku perlahan, memeluk balik lalu melepaskanku demi terus jalankan tugas. Aku tersenyum. Kubiarkan tubuhku tak lagi bergerak banyak, sekedar memalingkan dari Sang Kucing besar dan kembali pulang ke ujung dahan. Aku yang berjalan perlahan, menyusuri kaki-kaki Drumdaara, mencari tempat tubuh bisa diistirahatkan. Aku duduk, sadari itulah satu satunya cara untuk lewati tanah suci, menyelami kembali kontras dunia Purna yang terbang. Di sayap-sayapnya, ia membagi pengetahuan, ia biarkan jatuh segala ilmu malam, ia ceritakan segala sudut terlupakan, setiap peristiwa yang hilang. Purna adalah perekam yang mengajarkan setiap kemungkinan wawasan, namun Drumdaara adalah sosok yang sama sekali berbeda. Sayup kicauan pepohonan, sulur melintang dan bius lembut cahaya temaram, memintaku untuk paham, memintaku untuk melihat dirinya yang sunyi, mengajariku kebijaksanaan sebuah diam.

‘Pertapaan tanpa gerakan, sebuah pencarian. Disana mereka terpejam dalam sila, bahkan mungkin sesekali membiarkan denyut beristirahat. Menemukan makna tidak selalu dengan berlari, tidak dengan melompat apalagi mencoba terbang melayang. Kadang diam. Sebuah keniscayaa.

Yang diam. Tidak hanya tubuh namun juga jiwa, adalah satu-satunya yang bisa menerima makna,  satu-satunya yang menjadi bijaksana lalu bersiap untuk peperangan selanjutnya.’

Disana, di kaki pohon terbesar yang pernah ada. Kutiupkan seruling Chiandra. Kulepaskan pertanyaan-pertanyaan, kutanggalkan ragu, kukuburkan ketidakpastian dalam sebuah lagu. Kusadari arti tempat ini sebagai sebuah peristirahatan. Mereka yang gelisah justru gagal, mereka yang tak tenang, tak akan temukan apa yang dicari. Aku yang berhenti bergumul, sesapi tenang temukan yakin. Akan Chiandra. Akan dunia. Akan tombak yang kucing besar itu persembahkan sendiri kepadaku saat itu, tanpa perlu cucur keringat pengejaran, tanpa perlu otot-otot yang memaksakan.

Kuselesaikan lagu Chiandra. Kuangkat tombak, mengikatkannya di punggung kemudian pergi menuju tempat semua takdir dipertaruhkan. Bukan hanya nasibku, nasib Chiandra, nasib rembulan atau desa. Namun langit yang juga ikut gemetar, seraya takdirnya terguncang halilintar.

 

Komentar