Artikel

Antara ‘Yuk Bergerak’ dan ‘Melukis Indonesia’

Selalu ada yang menarik dari setiap Pemilihan Ketua Kabinet KM ITB. Salah satunya adalah jargon para calonnya yang unik dan kreatif. Untuk tahun 2013 ini ada dua calon ketua kabinet KM ITB yaitu Nyoman Anjani (MS ’09) dan Muhammad Yorga Permana (MRI ’09) yang masing-masing memiliki jargon ‘Yuk Bergerak’ dan ‘Melukis Indonesia’.

Sebenarnya dari mana mereka mendapatkan kata-kata untuk jargon mereka tersebut? Ditanya seperti itu Yorga, calon ketua kabinet KM ITB nomor urut 2,  sempat terdiam sesaat, “Keluar dari mana ya? Sebenarnya kepikiran dari warna-warna sih,” ujarnya. “Sebenarnya dulu ada banyak opsinya. Ada mewarnai Indonesia, menggambar, berkarya dengan berbagai warna, dan akhirnya terpilih melukis Indonesia. Indonesia adalah sebuah kanvas putih yang harus kita berikan isi di dalamnya.” Esensi dari kata-kata ‘Melukis Indonesia’ yaitu menggambarkan gerakan-gerakan mahasiswa yang beragam dan sesuai dengan minatnya masing-masing namun dengan tujuan yang sama yaitu memajukan bangsa Indonesia.

Lalu berapa lama sampai akhirnya kata-kata ‘Melukis Indonesia’ ini terpilih? “Kalau kata-kata ‘Melukis Indonesia’ ini fix nya baru satu bulan, namun esensi dari kata-kata ‘Melukis Indonesia’ udah dari dulu saya bawa,” jawabnya. Ide kata-kata ‘Melukis Indonesia’ ini murni dari Yorga sendiri.

Lain halnya dengan Yorga, Nyoman, yang menempati nomor urut 1,  mendapatkan kata ‘Yuk Bergerak’ dari ucapan salah satu temannya. Namun kata-kata ‘Yuk Bergerak’ tersebut tetap saja bersumber dari visi yang telah ia buat sebelumnya. “Jadi waktu itu pertamanya bikin visi dulu kan, terus cari tagline yang sesuai sama visi tersebut yang bisa mengajak orang. Terus ada temen saya yang ngasih ‘kayaknya harus ajakan’ biar orang-orang tuh mau diajak bergerak. Awalnya bukan ‘Yuk Bergerak’ dulu, ada yuk apa-yuk apa gitu. Sampai akhirnya ada yang mencetuskan ‘Yuk Bergerak’, ya udah akhirnya dapet,”  ujar Nyoman.

Inspirasi dari kata-kata ‘Yuk Bergerak’ berasal dari realita anak muda sekarang yang malas bergerak. “Concern saya adalah bagaimana untuk mendekatkan anak muda kepada masyarakat dan lingkungan,” ujarnya. Nyoman berkata bahwa zaman dahulu mahasiswa ITB tidak terkenal karena IP nya yang tinggi-tinggi, tetapi justru karena mempunyai bakti kongkret untuk masyarakat. Ia ingin menggelitik lagi massa kampus untuk bergerak. Arahnya adalah untuk memberi manfaat kepada masyarakat dan lingkungan sehingga dari situ muncullah kata-kata ‘Yuk Bergerak’.

Hal unik dan menarik lainnya adalah media kampanye dari para calon. Untuk media kampanye Yorga lebih memilih gencar di dunia maya dan membuat video, bahkan hingga membuat soundtrack lagu ‘Melukis Indonesia’. Untuk video-video sendiri yang membuatnya yaitu Tim Marketing dari Yorga. Namun inspirasinya bisa dari mana saja, “Video yang ada soundtracknya itu terinspirasi dari video klip Nugie yang ‘Lentera Jiwa’,” ujarnnya.

Tetapi yang paling menarik tentu lagu ‘Melukis Indonesia’ nya yang hingga dinyanyikan oleh pengamen di kawasan Gelap Nyawang. Lalu mengapa memilih untuk membuat soundtrack? “Soalnya lagu itu bikin semangat. Kalau saya menang ini jadi soundtrack kita selama satu tahun.” Jawabnya. Menurut Yorga media kampanye yang menarik merupakan gerbang awal agar orang lain mau menoleh kepadanya. “Setelah melihat media tersebut, tentu orang-orang jadi penasaran dan akhirnya sering dateng hearing, baca artikel dan lain-lain,” ujarnya.

Selain memiliki soundtrack dan beberapa video Yorga juga memiliki media berupa grup di situs jejaring sosial dan ‘Spirit from Abroad’ yang menggambarkan bahwa melukis Indonesia bisa dilakukan dengan menjadi duta di negeri orang.

Tidak jauh berbeda dengan Yorga, Nyoman pun memanfaatkan media online untuk berkampanye. Salah satunya adalah dengan membuat video dan menyebarkannya di dunia maya. “Media kampanye yang pertama adalah video. Videonya itu buatan anak-anak LFM. Inspirasi videonya itu total anak-anak LFM yang bikin. Pokoknya mereka itu punya prinsip ‘Don’t Tell, Just Show’. Jadi intinya kita kalau ngejelasin sesuatu jangan cuma pake cara verbal, tapi langsung liatin aja,” ujar Nyoman.

Lalu selain itu ada pula pembatas buku dan gerakan kongkret yaitu kegiatan donor darah yang ia adakan beberapa waktu lalu. Menurut Nyoman kegiatan kampanye yang paling terasa memberikan dampak adalah kegiatan donor darah beberapa waktu yang lalu. “Saya dan tim bukan orang yang gemar berkoar-koar. Saya pengennya mahasiswa ngasih manfaat ke masyarakat. Jadi bikinlah kegiatan-kegiatan yang positif seperti donor darah ini,” ucap Nyoman. Media kampanye selanjutnya yang paling banyak disukai orang menurutnya adalah video.

Salah satu kegiatan yang wajib dilalui oleh kedua calon adalah hearing. Disinggung mengenai hearing, Nyoman berkata bahwa hearing yang paling berkesan baginya adalah hearing Timur Jauh dan hearing Sunken Court. “Wah, itu sampai subuh, diekslpor nya banyak, dan yang disorot itu karakter,” kenang Nyoman.

Hearing Sunken Court tentu mengingatkan kita akan tantangan massa Sunken Court kepada kedua calon mengenai kuorum 1500 massa TPB pada hearing TPB tanggal 22 Maret. “Saya melihat di sini kita memang wajib mencerdaskan anak TPB. Tapi anak TPB sekarang itu kritis-kritis banget. Jadi kemungkinan buat anak TPB dateng itu emang besar,” ujar Nyoman.

Setelah sekitar sembilan kali mengikuti hearing tentu ada pelajaran-pelajaran yang dapat di ambil oleh kedua calon. “Pertama kali hearing itu saya nervous banget. Tapi dari hearing ke hearing saya menjadi lebih santai. Kasih massa kampus jawaban yang kongkret. Setelah itu, selain ngasih masukan buat proker, sebenarnya orang itu lebih suka liat karakter,” jawab Nyoman.

Ditanya dengan pertanyaan yang sama Yorga menjawab, “Jadi pelajaran yang dapat diambil intinya hearing itu bukan sekedar hapalan, tapi bagaimana kita menunjukkan performa kita dan bersikap apa adanya yang menunjukkan jati diri kita,”.

Disinggung mengenai pertanyaan apa yang paling berkesan selama hearing, Yorga sempat berpikir cukup lama. Lalu ia menjawab bahwa ia paling suka jika ada yang bertanya apa yang membedakan antara ia dan Nyoman. Menurutnya ada beberapa hal yang membedakan ia dan Nyoman, yang pertama adalah gagasannya, inspirasinya, dan yang terakhir adalah timnya. Yorga mengaku sudah mempunyai tim yang akan menemaninya selama satu tahun jika nanti ia terpilih, “Untuk ring satunya saya sudah punya lah, untuk menteri-menterinya nanti saya akan adakan oprec,” ujarnya.

Ditanya mengenai berapa persen keyakinan terpilih sebagai ketua Kabinet KM ITB awalnya keduanya enggan menyebutkan angka, namun setelah berpikir selama beberapa saat Yorga menjawab bahwa ia yakin sebesar 75% dan Nyoman yakin sebesar 50%. Mengenai target massa, Nyoman menjawab bahwa target massanya adalah anak himpunan yang sudah merasa bosan dengan kabinet yang begini-begini saja, massa-massa unit yang sudah abu-abu, dan anak-anak TPB yang butuh sesuatu yang baru. “Kalau orang-orang yang tidak memilih wanita sebagai pemimpin mah, sudahlah itu saya lupakan saja,” ujar Nyoman sambil tersenyum. Lain dengan Nyoman, Yorga menjawab bahwa target massanya adalah seluruh massa kampus, dari depan hingga belakang, dan dari barat hingga timur. [annisa]

Komentar