Berita Featured

Kecelakaan Lalin Memakan Korban Mahasiswa ITB

Rabu (30/11) awan duka kembali menyelimuti civitas ITB. ITB kehilangan salah satu rekan kita, Alfons Gorby (FTSL ’13) yang telah berpulang Rabu malam sekitar pukul 19.00 WIB. Ia meninggal karena mengalami kecelakaan di daerah Tubagus Ismail hari Senin malam.

Berdasarkan keterangan dari Ketua Angkatan FTSL 2013, Alexander, kecelakaan ini Gorby alami hari Senin menjelang tengah malam ketika hendak pulang seusai makan. Ketika menyebrang jalan ia ditabrak oleh pengendara sepeda motor yang ternyata masih di bawah umur. Saat itu Gorby terpental dan kepalanya membentur aspal jalan. Gorby sempat tak sadarkan diri, namun beberapa saat kemudian ketika hendak dibawa ke rumah sakit ia sadarkan diri kembali. Terlihat tidak ada pendarahan, namun kondisinya shock.

“Badannya bergetar, dan ia terus bertanya ‘Gue kenapa? Gue kenapa?’ hingga berpuluh kali meskipun sudah dijawab,” tutur Alex.

Sekitar pukul setengah empat pagi pernapasan Gorby mulai terlihat tidak normal. Namun, ketika dilakukan CT scan tidak terlihat adanya pendarahan di kepala yang terkena benturan, akan tetapi terlihat bahwa tulang tengkoraknya retak. Selain itu, saat diperiksa tensinya tinggi, hingga mencapai angka 140. Saat itu ia dibawa ke ICU dan pernapasannya sudah dibantu ventilator.

Pada hari Rabu sekitar pukul 18.00 kondisi Gorby mulai drop. Tensinya lebih tinggi dan pernapasannya lebih tidak stabil. Ketika diperiksa terlihat bahwa di paru-parunya terdapat cairan putih yang makin lama makin banyak. Dokter pun bingung cairan tesebut berasal dari mana dan apa korelasinya dengan benturan yang Gorby alami. Sekitar pukul 18.45 dokter mulai menyuruh keluarga dan teman-teman terdekat Gorby untuk masuk ke ruang ICU. Akhirnya, sekitar pukul 19.00 Gorby menghembuskan napas terakhirnya diiringi oleh isak tangis keluarga dan teman-teman terdekatnya. Pukul 22.00 jenazahnya dipindahkan ke rumah duka Rumah Sakit Santo Borromeus. Rencananya jenazah Gorby akan dikebumikan hari ini di TPU Pondok Kelapa, Jakarta setelah dilakukannya ibadat tutup peti.

“Gorby  itu orangnya tekun. Di saat lingkungan sedang tidak mendukung ia tetap bisa keep up. Dia periang, ketika teman-teman sedang down dia bisa cheer up,” ungkap Alex ketika ditanya pendapatnya mengenai Gorby. “Yang jelas kita semua sekarang merasa kehilangan dia,” tambahnya.

Hingga kini kasus ini masih ditangani oleh pihak kepolisian. Meskipun keluarga korban tidak melakukan tuntutan namun polisi akan tetap membawa kasus ini ke jalur hukum dengan ada atau tidaknya tuntutan dari pihak korban karena kasus ini termasuk kasus pidana. Pelaku akan dikenai hukuman karena dianggap telah melakukan kelalaian yang mengakibatkan tindak membunuh saat berkendara. Namun hingga saat ini belum ada keputusan mengenai berapa lama hukuman yang akan diterima oleh pelaku. Tetapi polisi sudah melakukan olah TKP dan berdasarkan saksi yang melihat langsung kejadian, kesalahan ini murni berasal dari pelaku yang mengendarakan sepeda motornya tidak berhati-hati.

Pelaku penabrakan dan keluarganya sempat menjenguk Gorby di rumah sakit. Pelaku mengaku bahwa motor yang dikendarainya saat itu bukan motor miliknya. Ia mengaku lalai saat mengendari sepeda motor tersebut karena saat insiden kecelakaan terjadi ia sedang mengbrol dengan teman dekatnya yang dibonceng tersebut, sehingga ia tidak fokus ke jalan. Melihat bahwa keluarga pelaku merupakan keluarga yang kurang mampu, pihak korban pun memutuskan untuk tidak melakukan tuntutan.

Seharunya ITB Mau Membantu

Ditemui di tempat yang berbeda Ade Sjafruddin, Wakil Dekan Bidang Akademik FTSL ITB, mengungkapkan belasungkawanya mewakili seluruh civitas FTSL ITB, “Saya, atas nama FTSL ITB, menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kejadian ini. Semoga (kejadian ini) dapat membuka mata bagi khalayak mengenai kasus kecelakaan yang harus ditangani dengan baik. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan atas cobaan ini,” ungkapnya.

Ade sangat menyayangkan hal ini dapat terjadi, apalagi ternyata pelaku penabrakan masih tergolong di bawah umur. Menurut Ade, hal seperti ini masih sangat kompleks, seperti ujung gunung es. Sebab banyak sekali yang membutuhkan pembenahan. Mulai dari visi keselamatan, peran penegak hukum (pemberian SIM, dll), dan bimbingan orang tua. Ia mengatakan bahwa agar tidak terulang lagi peristiwa yang seperti ini maka semuanya harus ikut berperan dan bergerak. Caranya adalah dengan kesadaran bagaimana berkendara dan pendidikan mengenai hal tersebut.

Sejauh ini, menurut Ade, tindakan dari pihak ITB hanya menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada pihak keluarga. “Namun apabila keluarga minta ITB untuk ikut membantu mengusut, seharusnya ITB mau membantu untuk melapor ke pihak berwajib,” tuturnya. [annisa]

Komentar