Uncategorized

Mandiri Lewat Berbisnis? Bisa!

Di tahun keempat perkuliahannya, Intan Chandra Septidia sudah mengantongi sejumlah pengalaman berbisnis. Berawal dari program KM di pertengahan 2010, Intan mengembangkan sayapnya pada sejumlah kesempatan.

“Saya menjalani bisnis untuk menjadi pribadi yang mandiri,”tutur mahasiswi bernama Intan Chandra Septidia, sosok mahasiswi yang penuh semangat dan ceria dalam kesehariannya. Sebagai mantan Menteri Keuangan KM ITB, mahasiswi yang sedang menjalani perkuliahan di jurusan Manajemen Rekayasa Industri Fakultas Teknologi Industri ini memang telah memiliki banyak pengalaman. Masuk ke ITB pada tahun 2010 dan menjalani tahun keempat pekuliahannya, Intan telah banyak berkarya hingga saat ini. Selain bergelut di bidang akademik yang juga berhubungan erat dengan uang, Intan merupakan mahasiswi yang aktif di berbagai organisasi dan tentu bisnis.

Intan, yang lahir di Madiun pada tanggal 13 September 1991, merupakan salah satu mahasiswi ITB yang memiliki pengalaman luas di bidang entrepreneurship. Dengan moto pribadi ‘Untuk Terus Mandiri’, sejak kecil Intan memang dididik untuk hidup dalam kemandirian. Kebiasaan inilah yang menempanya untuk mengambil setiap peluang bisnis dan menjadikannya sebagai profit. Sejak awal masuk ITB, organisasi di bidang yang berhubungan dengan bisnis sudah menjadi hobi tersendiri. Unit seperti TEC (Techno Entrepreneur Club), Kokesma (Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa), dan KSEP (Kelompok Studi Ekonomi dan Pasar Modal), merupakan organisasi di mana Intan menuangkan gairah dan mengembangkan kemampuan berbisnisnya.

“Waktu saya masuk ITB, lingkungan saya memang sangat mendukung saya untuk berwirausaha. Saya ingat waktu itu program dari kabinet kewirausahaan yang menggalakkan anak ITB untuk berwirausaha,” jelas Intan. Pada tahun 2010, awal masuk ke ITB, memang kegiatan kewirausahaanlah yang digalang oleh rektorat, kabinet, dan massa kampus untuk terus dikembangkan. Sehingga tidak sedikit mahasiswa yang termotivasi untuk bisa berwirausaha. Intan mengungkapkan, bahwa ia merupakan salah satu mahasiswi yang menjadi ‘korban’. “Waktu itu banyak mahasiswa yang mulai menghasilkan uang, bisa menghidupi diri sendiri, bayar uang kuliah sendiri, saya menjadi terdorong untuk berbuat hal seperti itu,” ujarnya.

 Di awal bisnisnya, Intan merintis karier menjadi manager katering yang cukup booming di ITB. Katering yang bernama Caco, Catering Company, merupakan katering yang biasa menggarap borongan konsumsi acara-acara di ITB. Jatuh bangun sebagai wirausahawan muda dijalani oleh Intan hingga setelah sekian lama merintis usaha, catering ini menjadi cukup terkenal di kalangan mahasiswa ITB dan masih beroperasi sampai saat ini.

 Tak lama kemudian, bersama timnya, Intan mendirikan badan usaha yang lain, yaitu percetakan Mahawarna Ganesha. Terobosan ini berhasil didirikan pada tahun 2011. Borongan juga sering ditujukan kepada massa kampus ITB. Berbagai acara, mulai dari unit, himpunan mahasiswa, kabinet, dan organisasi lainnya mulai ramai menggunakan jasa percetakan Mahawarna.

Setelah usahanya cukup berasil, Intan tidak mau terus berleha-leha. Setelah cukup mapan di satu bidang, bidang usaha lain pun terus digarap. Intan juga mendirikan usaha jasa persewaan alat acara. Mulai dari tenda, bangku, meja, dan barang lain sebagai logistic dalam pertemuan, event, dan berbagai kegiatan lainnya mulai ia rintis dengan nama Java Event Contractor.

 Maka, lengkap sudah keperluan acara mahasiswa di kampus. Intan dan berbagai usaha event organizing yang dikembangkan bisa memenuhi hampir keseluruhan keperluan untuk acara. Konsumsi, percetakan, dan keperluan logistic memang sering diincar dan menjadi kebutuhan pokok mahasiswa saat berbagai event berlangsung. Tidak heran kalau bisnisnya melejit dan berkembang pesat. Dari satu badan usaha terus beranak ke ranah usaha yang lain. Dari yang semula kecil-kecilan terus berkembang pesat menjadi bisnis yang lebih besar dan terbilang cukup ‘wah’ bagi seseorang yang masih menyandang status mahasiswi.

 Di luar dunia kampus, Intan sempat pula menjual kripik pedas ke Kalimantan dengan mengandalkan relasi ke beberapa temannya di sana. Dengan melihat peluang ini, dibuatlah brand kripik pedas bernama Soldadulada. Tentu dengan tantangan yang lebih besar karena harga dan kualitas yang harus memperhatikan biaya transportasi dan kondisi untuk menempuh jarak yang jauh ke Kalimantan,  dengan harapan Intan bias terus melebarkan sayap wirausaha ke lebih banyak ranah lagi.

Mahasiswi tingkat empat  ini juga telah merasakan pahit, manis, dan hikmah sebagai seorang wirausahawan. Dari mulai berbisnis yang dulunya hanya berorientasi kepada profit menuju niat yang lebih mulia, mensejahterakan pegawainya. Dari niatan mencapai kesejahteraan menuju tingkatan yang lebih tinggi lagi, hidup mandiri. “Saya mulanya hanya memikirkan profit dalam usaha, ternyata akhirnya saya menemukan sisi lain dalam berbisnis. Ternyata banyak orang yang bergantung di pundak saya untuk meraih kesejahteraan. Saya bekerja keras.Saya ingin menjadi orang yang mandiri.”

Intan juga berbagi tips kepada seluruh adik tingkat dan rekan-rekannya yang lain di ITB agar tidak segan-segan dalam berwirausaha. “Untuk menjadi pengusaha itu tidak boleh setengah-setengah, harus diniati sepenuh hati dan dilakukan semaksimal mungkin. Memang sebagai pengusaha harus memiliki motivasi yang kuat, jadi harus dimantapkan tujuannya.” Sambil bergurau wanita yang ternyata sudah menikah sejak Januari lalu ini mencurahkan harapannya kepada mahasiswa ITB. “Indonesia itu sebenarnya kaya, namun kaya ini hanya bagi orang yang tahu. Jadi tugas kita, mencari tahu kekayaan tersebut dan mengajarkannya kepada banyak orang.” [dzikra,dkk]

Komentar