Uncategorized

Pementasan 5 Windu + 1

“Ayahku Pulang, untuk Pergi yang Kedua Kalinya”

Jumat, 22 November 2013, Studi Teater Mahasiswa (STEMA) ITB mengadakan sebuah pementasan yang dinamakan Pementasan 5 Windu +1. Pementasan ini merupakan wadah pelampiasan hasrat berkarya bagi STEMA-ITB yang saat ini telah menginjak usia 41 tahun. Pementasan ini menyajikan beberapa sisi seni teater berupa drama, monolog, dan tari.

Setelah diawali dengan tarian pembuka, acara dilanjutkan dengan monolog berjudul ‘Men(t)ari’ karya Rio Priandi. Monolog ini menceritakan tentang kecintaan seorang penari kepada kekasih yang dicintainya sejak kecil. Namun dalam perjalanan hidupnya, keadaan memaksanya untuk berpisah dengan kekasihnya itu. Sebuah kecelakaan menyebabkan ia kehilangan sebelah kakinya, ia merasa sangat sedih hingga pada suatu hari ia mencoba untuk bertemu lagi dengan kekasihnya. Ternyata kekasihnya tidak meninggalkannya, ia masih bisa menari. Ya, menari memang mentari hidupnya.

Pertunjukan selanjutnya adalah sebuah tarian yang berjudul ‘Aku! Aku? .AKU!’ Tarian ini menggambarkan keegoisan manusia, yang rela mengorbankan orang-orang terdekatnya demi memenuhi keinginannya. Tapi pada akhirnya keegoisan itu menyebabkan petaka untuk dirinya sendiri. Pertunjukan ditutup dengan drama yang berjudul ‘Ayahku Pulang’. Drama ini menceritakan keadaan sebuah keluarga yang ditinggal pergi sosok seorang ayah. Pada suatu malam hari raya sang ayah kembali pulang. Kepulangannya disambut baik oleh istri dan kedua anak perempuannya, tetapi anak laki-lakinya, Sunarto menolak kedatangan ayahnya. Ia memaki-maki dan mengusir ayahnya yang sudah tua. Hingga akhirnya sang ayah kembali meninggalkan rumah itu untuk kedua kalinya. Ketika Maimun, menyusul sang ayah, ayahnya sudah tiada. Hanya ditemukan kain sorbannya di pinggir jembatan. “Ayahku pulang, untuk pergi yang kedua kalinya”.

Pertunjukan ini tidak hanya dinikmati oleh para penikmat teater, ada salah satu pengunjung yang mengaku baru pertama kali melihat teater. Erwin dari Loedroek ITB mengatakan, “Terkesan, nggak nyangka teater ternyata bisa membuat melayang-layang dan terbuai. Kerasa banget magic-nya, STEMA ini menunjukkan anak-anak ITB yang nggak terbatas, walaupun engineer tapi bisa jadi apapun, bisa jadi penari, jadi bapak tua, jadi orang pincang, dan sebagainya.”

Pemain teater dari luar ITB mengaku mendapat banyak pelajaran dari pertunjukan kali ini. Seperti Riman dari STUBA, “Dapat referensi baru untuk observasi sebagai penguatan pas aku main.”, katanya ketika ditemui usai pertunjukan. Kiswoyo dari Teater Tangan Merah BSI Bandung juga mengatakan bahwa pertunjukan kali ini menambah wawasannya mengenai penampilan, tatanan panggung, dan busana dalam pertunjukan teater. [hellen]

Komentar