Artikel

Empat Tahun dan Perpanjangan Waktu

Tak terasa empat tahun telah berlalu. Amanah yang telah diemban sejak tahun 2010 pun seharusnya sudah hampir habis. Namun tanpa disangka amanah tersebut harus diperpanjang. Dengan adanya status baru ITB periode jabatan pun harus diperpanjang hingga sang rektor baru dilantik.

“Masa jabatan saya seharusnya berakhir 19 Januari lalu,” tutur Akhmaloka ketika diwawancarai di ruang kantornya. “Tetapi sekarang diperpanjang hingga pelantikan rektor ITB yang baru,” tambahnya.

Perpanjangan jabatan rektor seiring dengan belum terbentuknya Majelis Wali Amanat (MWA) ITB yang beberapa tahun yang lalu sempat dibubarkan. Pembentukan MWA ITB kembali menurut Akhmaloka karena perubahan status ITB yang sejak 2013 lalu menjadi Badan Hukum. Pemilihan rektor akan dilakukan oleh MWA, oleh karena itu sebelum pemilihan dilaksanakan maka MWA harus lebih dahulu terbentuk.

Pada akhir tahun 2013 lalu keluar PP Nomor 65 Tahun 2013 tentang Statuta ITB. Statuta tersebut berisi agar tidak ada kekosongan jabatan dan tidak ada kekosongan hukum. Dalam statuta dikatakan bahwa senat akademik dan rektor yang menjabat saat itu jabatannya diperpanjang hingga terpilih senat akademik baru dan rektor yang baru telah dilantik.

Diperpanjang hingga kapan?

“Senat akademik sudah terpilih 10 Januari yang lalu,” ujar Akhmaloka. Dengan adanya senat akademik baru maka senat akademik akan segera membentuk MWA ITB. “Maksimal sudah diusulkan tanggal 10 April itu MWA nya,” tambah Akhmaloka.

Jika MWA sudah terbentuk maka paling lambat enam bulan setelahnya harus mulai dilaksanakan pemilihan rektor baru. Pemilihan rektor sendiri perlu waktu sekitar enam sampai tujuh bulan hingga rektor baru tersebut dilantik. “Kira-kira masa jabatan saya diperpanjang hingga akhir tahun ini atau awal tahun depan,” ujar Akhmaloka.

Perjalana selama empat tahun menjabat

“Banyak yang mengatakan bahwa saya ini adalah rektor transisi,” tutur Akhmaloka. Transisi di sini bermaksud kepada seringnya ITB berganti-ganti status pada saat periode kepemimpinannya. ITB pernah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Perguruan Tinggi Pemerintah (PTP), Badan Layanan Umum (BLU), hingga pada akhir tahun 2013 kemarin ITB berganti status menjadi Badan Hukum.

Menurut Akhmaloka meskipun berganti-ganti status namun ia bisa mengatasinya dengan cukup baik. Begitu pula menurut Kadarsah, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Kadarsah mengatakan bahwa Akhmaloka tetap dapat menciptakan atmosfer keseimbangan intelektual mahasiswa meskipun pada saat itu status ITB terus berubah-ubah. Atmosfer keseimbangan intelektual mahasiswa yang dimaksud oleh Kadarsah adalah keseimbangan porsi antara kegiatan akademik dan kegiatan pengembangan soft skill bagi mahasiswa ITB. Hal ini menurut Kadarsah terbukti dari kenaikan IPK rata-rata mahasiswa ITB setiap tahunnya dan acara yang dibuat mahasiswa yang jumlahnya jika dirata-ratakan mencapai dua sampai tiga acara dalam satu hari.

Tetapi tidak begitu menurut Derian, ketua tim MWA Wakil Mahasiswa ITB. Dengan berubahnya-ubahnya status ITB dan menyebabkan MWA dibubarkan maka hal tersebut menyebabkan akses MWA WM ke rektorat menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan komunikasi antara mahasiswa dengan pihak rektorat pun menjadi terbatas.

Namun Akhmaloka juga mengakui bahwa dengan status yang berubah-ubah maka pasti ada beberapa rencana yang tidak dapat dijalankan karena terbentur peraturan. “Tetapi banyak juga yang sudah dilakukan selama empat tahun ini,” ujar Akhmaloka. Menurut Akhmaloka pada saat periode kepemimpinannya cukup banyak hal baru yang ia bawa. Di antaranya yaitu penghapusan Ujian Saringan Masuk (USM) ITB  karena dianggapnya bahwa dengan adanya USM maka mahasiswa yang berhasil masuk ke ITB menjadi tidak merata. Menurutnya USM menjadikan ITB bukan milik seluruh wilayah di Indonesia. Lalu pada saat periode kepemimpinannya ITB juga tengah gencar-gencarnya mencanangkan program World Class University. Hal tersebut dapat dilihat dengan semakin banyaknya program studi-program studi yang terakreditasi internasional.

Tetapi menurut Akhmaloka pengakreditasian program studi – program studi tersebut bukan untuk membuat ITB sebagai World Class University, “Karena sebenarnya we are world class university, kita sudah disegani,” katanya. “Dengan adanya akreditasi internasional maka orang akan semakin percaya.”

Selain itu, saat periode kepemimpinannya Akhmaloka banyak melakukan pembangunan sarana pra sarana di kampus. Mulai dari peresmian ITB Jatinangor hingga berbagai pembangunan di kampus Ganeca yang menyebabkan gerbang utara ditutup. Penutupan gerbang utara tersebut sempat menimbulkan gejolak di kalangan mahasiswa karena kurangnya sosialisasi dari rektorat pada saat itu. Menanggapi hal tersebut Akhmaloka menjawabnya dengan sebuah senyuman dan berkata bahwa dalam beberapa hal memang rektorat tidak bisa mengikutsertakan mahasiswa dan pengambilan keputusan.

Namun ia menghargai sikap mahasiswa yang selalu kritis dan ingin tahu. “Saya juga dulu pernah seperti itu (jadi mahasiswa),” ujarnya.

Ketika ditanya apakah ia sudah puas dengan kepemimpinannya selama ini ia menjawab bahwa ia merasa biasa saja. “Kesulitan pasti ada, pleasure juga ada. Tetapi insya Allah semuanya sudah diatasi dengan baik,” tutur Akhmaloka.

Lalu bagaimana rektor yang dibutuhkan ITB saat ini? “Rektor yang bisa melihat keadaan ITB seperti apa. Situasi ITB sekarang sudah lebih baik. ITB sudah respected. Saat ini ITB itu world class tapi local content,” pungkas Akhmaloka. [Annisa Ferina Ramadhiani]

(Artikel ini disadur dari majalah Boulevard ITB edisi 77 bulan Maret 2014)

1 Komentar

Komentar