Artikel

REKTOR ITB DARI MASA KE MASA

Sejak didirikan pada tahun pada 1920, saat itu masih bernama Technische Hogeschool, sampai saat ini, ITB sudah mengalami beberapa kali periode kepemimipinan. Terhitung sejak 1920 sudah sekitar 28 kali kampus ini mengalami pergantian kepemimpinan.Namun, jika dihitung sejak namanya berubah menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1959 lalu,  pergantian rektor  terjadi sebanyak sebelas kali. Di antara era-era kepemimpinan rektor tersebut, ITB  pernah  juga dipimpin oleh pejabat sementara (PJS), tim presidium dan juga rektorium. Berikut ini nama-nama tokoh yang pernah menjabat sebagai rektor ITB

Prof. Ir. R. O. Kosasih (1959 – 1964)

Prof. Ir. R. O. Kosasih  menjabat sebagai rektor ITB sejak 1 november 1959. Sebelum beliau menjabat, tugas-tugas administrasi penyelenggaraan ITB sejak ITB diresmikan tanggal 2 Maret 1959 dilakukan oleh tim presidium yang dipimpin oleh Prof. Ir. Soemono dengan beranggotakan Prof. Ir. Goenarso, Prof. Dr. Djuhana Wiradikarta, Prof. Ir. Soetedjo dan Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri sebagai panitera.

Ir. R. Oekar Bratakoesoemah  (1964 – 1965)

Ir. R. Oekar Bratakoesoemah dilantik pada tanggal 14 April 1964. Beliau menjabat sebagai rektor Institut Teknologi Bandung, hanya selama 10 bulan , yakni hingga 22 Februari 1965. Periode kepemimpinannya merupakan periode tersingkat kepemimpinan rektor di ITB.

Letkol Ir. Koentoadji  (1965 – 1969)

Sejak berganti nama menjadi ITB, Letkol Ir. Koentoadji  merupakan rektor pertama yang berasal dari kalangan militer

Prof. Dr. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja (1969 – 1976)

Masa kepemimpinan Prof. Dr. Doddy Achdiat Tisna Amidjaja saat itu bertepatan dengan kondisi kampus yang dinamis, banyak gerakan mahasiswa yang terjadi dan juga kritik-kritik sosial yang dilakukan Dewan Mahasiswa ITB, Pada saat itu Doddy dapat menjembatani kedua belah pihak, dia dapat mengayomi mahasiswanya namun tetap bisa menjalankan kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakannya selaku pemimpin ITB. Pada tahun 1978 dinamika kampus ITB mencapai puncaknya dengan dikeluarkannya pernyataan DM ITB: “tidak mempercayai & tidak menghendaki pencalonan kembali Suharto sebagai Presiden RI” dan “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa ITB 1978”. Kampus ITB ditutup dan diduduki militer, Prof. Iskandar Alisjahbana diberhentikan dari jabatannya selaku Rektor ITB dan menyerahkan kepemimpinannya kepada Rektorium (16 Februari 1978).Namun kemudian Rektorium ini juga harus mengakhiri tugasnya dan Prof. Doddy yang pada saat itu menjabat sebagai Dirjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, diberi tugas sebagai Pejabat Sementara Rektor ITB pada periode 30 Mei 1979 – 22 November 1980.

Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana (1976 –1978)

Rektor yang dilantik 7 Desember 1976 ini diberhentikan dari jabatannya sebelum periode kepemimpinanya berakhir. Hal ini terajadi karenaia dianggap mendukung aksi demonstrasi mahasiswa, yang melancarkan protes kepada pemerintah pada masa itu.

Prof. Hariadi Paminto Soepangkat, Ph.D. (1980 – 1988)

Pada masa kepemimpinan Prof. Hariadi Paminto Soepangkat, Ph.D., tepatnya pada tahun 1984. Fakultas Seni Rupa dan Desain resmi berdiri. Beberapa program studi seperti Teknik Geologi  serta Teknik Informatika juga dibangun. Tidak hanya itu, pusat antar universitas atau yang sekarang lebih dikenal dengan PAU juga dibangun pada periode kepemimpinan Prof. Hariadi. Beliau juga merupakan pelopor pameran karya-karya mahasiswa FSRD yang terus berkembang hingga kini.

Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME  (1988 – 1997)

Prof. Ir. Wiranto Arismunandar, MSME  menjabat sebagai Rektor ITB selama 2 periode. Saat menjabat sebagai rektor ITB, ia tidak segan-segan menskors dan mengeluarkan mahasiswa yang berdemonstrasi. Sedikitnya 12 mahasiswa dikeluarkan dan 61 mahasiswa diskorsing karena kebijakannya selama menjabat sebagai rektor ITB.

 

Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, M.Sc., Ph.D. (1997 – 2001)

Prof. Ir. Lilik Hendrajaya, M.Sc., Ph.D. dilantik pada tanggal 7 Maret 1997. Beliau terkenal memiliki prestasi akademik yang sangat cemerlang hal ini dapat terlihat dari  predikat Gouden Jubileum Prijs (mahasiswa terbaik ITB) tahun 1972 dari Yayasan TH (Indonesia-Belanda) yang pernah diraihnya.

 

Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman (2001 – 2005)

Dilantik pada tanggal 10 November 2001,Kusmayanto merupakan Rektor ITB yang pertama kali terpilih,sejak status kampus ini berubah menjadi BHMN pada 26 December 2000. Saat sedang menjabat sebagai rektor ITB, yakni pada tahun 2004,  Ia dipercaya oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dalam kabinetnya. sehingga Ia pun harus melepaskan jabatannya sebagai rektor ITB, meskipun periode kepemimipinannya saat itu belum berakhir. Kusmayanto berpendapat bahwa jabatan menteri adalah suatu amanah yang lebih besar daripada jabatan rektor yang tengah ia pegang saat itu. Pada saat itu beliau digantikan oleh Prof. Ir. Adang Surahman, M.Sc., Ph.D. sebagai penanggung jawab sementara (PJS).

Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. (2005 – 2010)

Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc. dilantik sebagai Rektor ITB pada  tanggal 29 Januari 2005, Pada masa jabatannya, ITB pernah mengalami  kejadian buruk berupa meninggalnya salah satu peserta OS (Orientasi siswa) dari sebuah himpunan. Akibat kejadian ini rektorat memutuskan untuk membekukan seluruh kegiatan himpunan tersebut dalam rentang waktu tak terbatas serta memberhentikan kaprodi yang bersangkutan pada saat itu.

Prof. Akhmaloka, Ph.D.   (2010-2014)

Prof. Akhmaloka, Ph.D dilantik pada tanggal 29 Januari 2010. Pada era kepemimpinannya status ITB yang sebelumnya  merupakan perguruan tinggi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), diubah menjadi perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pada periode kepemimipinanya pula ITB meresmikan kampus di Jatinangor serta menghapus jalur seleksi mandiri dari penerimaan mahasiswa sarjana sejak 2011 lalu. Pada masa kepemimpinan Akhmaloka pula ITB menghapuskan uang pangkal dan menerapkan BPPS sebesar maksimal 10 juta per semester. [Azifa Risalati]

(Artikel ini disadur dari majalah Boulevard ITB edisi 77 bulan Maret 2014)

Komentar