Artikel

Unjuk Kerja Akhmaloka dalam Empat Tahun

Selama  kepemimpinan Akhmaloka, begitu banyak hal-hal dan kebijakan dalam berbagai bidang yang dihasilkan dalam pengelolaan Institut Teknologi Bandung. Hal-hal tersebut menyangkut berbagai macam kebijakan kampus, baik itu yang bersentuhan dengan mahasiswa secara langsung maupun tidak langsung bagi mahasiswa. Namun yang jelas beberapa perubahan tersebut sempat membuat pro kontra di kalangan mahasiswa.

Contohnya yaitu pemberlakuan uang kuliah tunggal (UKT) sebesar maksimal sepuluh juta rupiah per semester untuk mahasiswa angkatan 2013. Pemberlakuan UKT ini sempat membuat gejolak di kalangan mahasiswa ketika keluar pengumuman bahwa mayoritas mahasiswa yang mengajukan keringanan tetap harus membayar UKT antara delapan juta hingga sepuluh juta. Padahal pemilihan pembayaran UKT dapat sebesar empat ratus ribu rupiah, delapan ratus ribu rupiah, empat juta rupiah, delapan juta rupiah, dan sepuluh juta rupiah per semester. Namun menurut Akhmaloka rentang UKT dari empat ratus ribu hingga empat juta rupiah hanya untuk yang mengajukan beasiswa Bidik Misi. Apabila tidak mangejukan maka UKT yang harus dibayar dari rentang delapan juta hingga sepuluh juta rupiah.

Akhmaloka menuturkan bahwa mungkin pada saat itu ada ketidaktahuan mahasiswa sehingga banyak yang mengajukan keringanan UKT hingga di bawah delapan juta rupiah padahal mereka tidak mengajukan beasiswa bidikmisi. Sehingga ketika diputuskan mereka mendapat UKT delapan juta rupiah banyak yang mengeluhkan tidak mampu untuk membayar. “Ya akhirnya mereka disubsidi juga pakai uang ITB,” tutur Akhmaloka. Uang ITB yang dimaksud yaitu beasiswa dari lembaga luar yang disalurkan melalui ITB.

Besarnya UKT yang mencapai angka sepuluh juta rupiah menurut Akhmaloka karena ketika dijumlahkan maka uang yang dihabiskan dalam satu semester memang kurang lebih sebesar itu. “Di universitas lain pun jika ditambah dengan iuran-iuran lain maka biaya satu semester pun bisa besar,” ujar Akhmaloka.

Perubahan dalam bidang keuangan yang baru-baru ini dirasakan adalah permohonan bantuan dana kegiatan yang terbilang ketat dan harus secara rinci. Akhmaloka kembali menuturkan bahwa hal ini disebabkan karena status ITB telah berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Hal ini mengakibatkan seluruh uang yang ada di ITB adalah uang negara sehingga pertanggungjawabannya langsung kepada Menteri Keuangan Republik Indonesia. Itulah yang menyebabkan seluruh dana kegiatan yang diajukan harus tertulis secara rinci di proposal sehingga ITB terkesan ketat dalam masalah pemohonan dan pencairan bantuan dana. “Padahal biasanya pertanggungjawaban keuangan ITB hanya sampai Direktorat Keuangan ITB saja,” tutur Akhmaloka.

Dalam bidang pengembangan fasilitas hal yang paling menonjol selama empat tahun kepengurusan Akhmaloka adalah diresmikannya Kampus ITB Jatinangor. Sejak 2012 di kampus ITB Jatinangor telah berjalan kegiatan perkuliahan untuk beberapa program studi. Kampus ITB Jatinangor dibangun di tanah seluas 47 hektar dan pembangunannya menelan dana hingga satu trilliun rupiah. Keberadaan ITB Jatinangor ini sekaligus mengukuhkan status ITB menjadi universitas yang multikampus. Selain itu, di kampus Ganeca juga selama empat tahun ini ada beberapa pembangunan yang dilakukanSalah satunya yaitu pembangunan Lab Doping. Di samping itu, menurut Akhmaloka rencananya saat ini akan dilakukan pembangunan di tujuh titik kampus ITB Ganeca. Titik-titik tersebut di antaranya berada di dekat gerbang utara ITB, dekat gedung Teknik Perminyakan, dan di sekitar gedung SBM. Pembangunan-pembangunan tersebut memang akan difokuskan di daerah utara ITB. Dengan adanya pembangunan-pembangunan ini maka menurut Akhmaloka akan ada banyak jalan dan akses di kampus yang akan ditutup sementara demi kelancaran pembangunan-pembangunan tersebut. Adapun pembangunan-pembangunan tersebut menurut Akhmaloka akan berlangsung sekitar enam belas bulan. “Ketika pembangunan saya ingin area pembangunan benar-benar tertutup rapat sehingga tidak ada kontak antara mahasiswa dengan pekerja yang sedang membangun,” ujar Akhmaloka.

Selain itu beberapa waktu ke belakang juga Akhmaloka tengah gencar-gencarnya melakukan perbaikan dan revitalisasi gedung-gedung yang ada di ITB. Salah satunya yang paling menarik perhatian adalah perbaikan atau yang disebut Caska, Kepala Seksi Non Kurikuler Lembaga Kemahasiswaan ITB,  sebagai mengembalikan Aula Timur ke fungsi aslinya. Hal ini menyebabkan semua sekretariat unit yang bertempat di Aula Timur dipindahkan ke CC Barat. Saat ini sekretariat-sekretariat unit yang bertempat di gedung Eks MKOR juga akan mengalami pemindahan sementara seiring dengan akan dilakukannya pembangunan di area tersebut. Masih belum jelas ke mana sekretariat-sekretariat unit ini akan dipindahkan sementara. Padahal menurut Akhmaloka bisa jadi bulan April gedung tersebut sudah harus dikosongkan. Menurut Rudy Hermawan Karsaman selaku Direktur Pengembangan ITB, sekretariat-sekretariat unit yang ada di gedung Eks MKOR tersebut nantinya akan ditempatkan di gedung baru yang merupakan hasil pembangunan kembali dari gedung Eks MKOR.

Dalam bidang akademik Akhmaloka menghapuskan jalur masuk ITB melalui Ujian Saringan Masuk (USM) ITB mulai tahun 2011. Hal ini menurutnya karena adanya USM menyebabkan ITB menjadi bukan milik seluruh wilayah Indonesia. “Kalau ada USM maka ada wilayah-wilayah di Indonesia yang tidak bisa menempatkan wakilnya di ITB karena masalah akses dan ketertinggalan pendidikan,” ujar Akhmaloka. Tetapi dengan adanya SNMPTN Undangan maka setiap daeah pasti akan menempatkan satu wakilnya di ITB. “Akan kita cari pelajar terbaik di daerah tersebut untuk masuk ke ITB,” tambahnya.

World Class University memang sebuah program yang sejak dulu ingin dicanangkan oleh Akhmaloka. Hal itu pula yang selalu ia usahakan ketika empat tahun kepemimpinannya. Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Kadarsah, saat ini ITB tengah gencar-gencarnya melakukan internasionalisasi. Tujuannya yaitu agar mahasiswa ITB ‘berstandard’ internasional. Hal tersebut dilakukan dengan cara mengeluarkan kebijakan bahwa minimal dalam satu fakultas harus ada satu program studi yang telah terakreditasi internasional.

Hingga saat ini telah ada beberapa program studi yang terkareditasi internasional oleh lembaga akreditasi internasional. Contohnya program studi Teknik Elektro, Teknik Kimia, Teknik Fisika, dan Teknik Kelautan yang telah terakreditasi oleh ABET. Program studi Teknik Industri, Teknik Informatika, dan Teknik Lingkungan saat ini tengah menunggu proses akreditasi yang dilakukan oleh ABET. Selain itu ada pula program studi Kimia yang telah terakreditasi internasional oleh RSOC, Sekolah Bisnis dan Manajemen yang telah terakreditasi internasional oleh ABEST, Teknik Arsitektur yang telah terakreditasi internasional oleh KAABS, dan program studi Teknik Geodesi yang telah terakreditasi internasional oleh AUN QA.

“Untuk tahun 2014 rencananya ada beberapa program studi yang akan diakreditasi internasional,” ujar Kadarsah. “Di antaranya adalah program studi Teknik Sipil dan Teknik Perminyakan yang tahun ini (2014) sedang dipersiapkan untuk diakreditasi internasional oleh ABET.” Selain itu Kadarsah juga menambahkan bahwa pada tahun ini akan ada beberapa program studi yang akan diakreditasi internasional oleh ASIIN. Di antaranya yaitu program studi Sains dan Teknologi Farmasi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Biologi, Mikrobiologi, Matematika, Fisika, Teknik Material, dan Astronomi. Selain akreditasi internasional, program internasionalisasi yang lain menurut Kadarsah yaitu adanya student mobility dan staff mobility yang merupakan program pertukaran pelajar (student exchange) ataupun pertukaran staff ITB (staff exchange) ke luar negeri. Sebaliknya, ITB pun akan banyak menerima mahasiswa exchange dari luar negeri.

Selain itu, pada masa kepemimpinan Akhmaloka ITB juga telah melahirkan program studi-program studi baru. Di antaranya yaitu program studi Rekayasa dan Infrastruktur Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Air dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Program studi-program studi lainnya yang akan dikeluarkan yaitu di antaranya Ekonomi Pembangunan untuk SAPPK, Terapan Logistik untuk program S2 Teknik Fisikia, Arsitektur Lanskap untuk program S2 SAPPK, dan program studi Gempa Bumi dan Mitigasi Bencana.

Meskipun sudah cukup banyak hal yang dilakukannya selama kurun waktu empat tahun, Akhmaloka mengakui bahwa ada juga beberapa hal yang terpaksa tidak dapat dilakukannya. Tetapi ia enggan bercerita mengenai hal tersebut. Ia hanya berkata bahwa hal itu biasanya terbentur masalah peraturan dan status ITB pada saat itu. [Risky Nur Fitriansyah & Rio Harapan Pangihutan]

 (Artikel ini disadur dari majalah Boulevard ITB edisi 77 bulan Maret 2014)

Komentar