Artikel

Himpunan sebagai Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Hayati dalam menghadapi MAE 2015

Opini dari HMRH: sebuah artikel untuk kompetisi menulis peran ‘Peran Keilmuan dalam Menghadapi AEC’

Himpunan sebagai Pengembangan Sumber Daya Manusia di bidang Hayati dalam menghadapi MAE 2015

Paulinus Josua Samosir

 

Abstrak

Masyarakat Ekonomi ASEAN akan dimulai pada tahun 2015. Ini merupakan langkah konkret dari integrasi kerjasama antara negara-negara yang tergabung didalam ASEAN. Persaingan kualitas produk dalam negeri dan sumber daya manusia akan menjadi “taruhan”nya. Produk dalam negeri akan bersaing di negeri sendiri dan juga negera lain yang tergabung dengan ASEAN. Peningkatan kualitas diperlukan agar hasil produk dalam negeri seperti hasil pertanian dan kehutanan dapat bersaing dengan negara lain. Peningkatan kualitas hasil produk dapat dimulai dari peningkatan sumber daya manusia. Peningkatan sumber daya manusia dapat dimulai dari mahasiswa jurusan yang akan terlibat langsung dalam mengaplikasikan keilmuan. Himpunan Mahasiswa Jurusan yang salah satu contohnya Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati menjadi wadah mahasiswa yang menjadi anggota dalam mengenal keilmuan dari bidang hayati agar dapat terbentuk soft skill dan hard skill yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas dari lulusan Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan. Lulusan dari ketiga jurusan diharapkan mampu dan berkolaborasi dalam mengolah sumber daya hayati yang terdapat di Indonesia dan mampu bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN.

 

Latar Belakang

Indonesia yang sudah merdeka sejak 1945 memiliki jumlah penduduk pada tahun 2010 mencapai 237,6 juta jiwa (Badan Pusat Statistik, 2013). Jumlah penduduk tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam Pengembangan Sumber Daya Hayati melalui sumber daya manusia yang di negara ini. Data kependudukan 2010 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia berada pada kelompok umur muda. Angkatan muda di negara ini menjadi harapan besar akan keberjalanan negara ini kedepannya.

Potensi Sumber Daya Hayati di Indonesia dapat dilihat dari  jumlah hutan produksi dan lahan pertanian. Data yang dihimpun dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (2013) menunjukkan bahwa jumlah total Hutan Produksi di Indonesia mencapai 28,89 juta Ha dengan luas darat mencapai 124 juta Ha.

Gambar 1. Persentase Penggunaan Hutan di Indonesia (REDD+, 2013)

Lahan pertanian di Indonesia menurut Kementerian Pertanian (2013) menunjukkan bahwa hingga tahun 2012, Indonesia memiliki lahan sebesar 39,59 juta Ha . Nilai itu sudah termasuk Sawah (Wetland), Kebun (Dry Field), Ladang (Shifting Cultivation), dan Lahan yang sementara tidak diusahakan (Temporarify Unused Land).

Gambar 2. Luas Lahan Pertanian di Indonesia 2008-2012 (Deptan, 2013)

Data-data diatas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam Sumber Daya Hayati. Pengembangan dalam bidang Hayati diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas agar dapat memaksimalkan hasil dari sumber daya hayati yang ada tanpa harus mengeksploitasi lahan yang memungkinkan merusak lahan dan merugikan negara. Kualitas Sumber Daya Manusia dibentuk melalui suatu keberjalanan pendidikan formal yang didalamnya terdapat pengembangan bidang keprofesian secara informal melalui suatu wadah kelompok atau organisasi.

Indonesia yang tergabung di ASEAN akan memulai lembaran baru di 2015 melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan memiliki dampak tersendiri untuk negara-negara yang sedang berkembang. Kualitas dari produk dalam negeri akan bersaing dengan negara-negara yang tergabung di ASEAN. Sumber Daya Manusia yang terdapat didalamnya akan menjadi penentu bagaimana kualitas dari produk yang dihasilkan dari hasil pengolahan yang dilakukan oleh anak-anak bangsa di negara ini.

Konsep Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Keberlangsungan suatu hubungan antara negara-negara yang terdapat di ASEAN menunjukkan berbagai dinamika didalamnya. Negara-negara ini menyadari diperlukan adanya suatu integrasi nyata dalam meningkatkan kerjasama yang baik. Pada 15 Desember 1997 di Kuala Lumpur, Negara ASEAN sepakat membentuk ASEAN vision yang kemudian dilanjutkan dengan adanya pertemuan di Hanoi yang menghasilkan Hanoi Plan of Action (HPA). HPA yang berisi visi 2020 berisi antara lain: integrasi diberapa bidang seperti orientasi keluar, hidup berdampingan secara damai dan menciptakan perdamaian Internasional.

Dalam merealisasikan visi tersebut, tindakan yang akan dilakukan adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ekonomi, lingkungan hidup, sosial, teknologi, hak cipta intelektual, keamanan dan perdamaian. Melalui tindakan konkrit tersebut, negara ASEAN mengharapkan suatu hubungan kerjasama baik dan saling menguntungkan. Pada KTT  ASEAN ke 9 di Bali pada tahun 2003 menyepakati pembentukan ASEAN Community dengan 3 pilar utama yaitu dibidang politik dan keamanan (ASEAN Political-Security Community), di bidang ekonomi (ASEAN Economic Community) dan bidang sosial budaya (ASEAN Socio-Culture Community). Ketiga pilar tersebut diharapkan mampu mewujudkan ASEAN Vision 2020.

Dalam membantu ketercapaian integrasi di negara-negara yang tergabung dalam ASEAN dibidang ekonomi, AEC Blueprint menjadi salah satu jawaban untuk mencapai hal tersebut. Ada 4 pilar utama yang tercantum didalam AEC blueprint antara lain:

  1. ASEAN sebagai pasar tunggal dan memiliki basis produksi tunggal yang didukung oleh elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal dengan sistem yang lebih bebas.
  2. Kawasan ASEAN memiliki daya saing ekonomi tinggi, dengan adanya elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan dan e-commerce.
  3. Pengembangan ekonomi pada kawasan ASEAN dilakukan secara merata dengan adanya elemen pengembangan usaha kecil dan menegah dan menjadi awal terbentuknya integrasi terutama untuk negara-negara Kamboja, Myanmar, Laos dan Vietnam.
  4. Negara-negara di ASEAN memiliki integrasi secara penuh melalui perekonomian global dan pendekatan koheren dalam hubungan diluar kawasan guna menciptakan peningkatan peran dalam jejaring produksi global.

Masyarakat Ekonomi ASEAN yang berlaku mulai 2015 akan menjadi perwujudan nyata integrasi ekonomi yang mengacu pada ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint.

Himpunan Mahasiswa sebagai wadah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia

Suatu organisasi yang berbasis kemahasiswaan merupakan wadah pengembangan diri dari mahasiswa diluar dari pendidikan formal yang diperoleh dari perkuliahan sehari-hari. Himpunan Mahasiswa Jurusan merupakan suatu wadah mahasiswa jurusan untuk semakin mengenal bidang keilmuannya. Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung dibentuk sebagai tindakan konkrit dari mahasiswa yang ingin mengembangakan keilmuanya melalui keprofesian dan mengembang diri dalam suatu organisasi.

Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung yang hampir 2 tahun berdiri menanungi 3 jurusan di Kampus ITB Jatinangor. Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan menjadi  jurusan berbeda namun dalam satu lingkup yang sama yaitu Pemanfaatan Sumber Daya Hayati.

Integrasi dari ketiga jurusan yang dinaungi Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung merupakan satu perwujudan nyata dalam Pemanfaatan Sumber Daya Hayati yang efektif dan efisien. Rekayasa Hayati yang memiliki fokus dalam menghasilkan Bioenergi dapat berkolaborsi dengan Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan guna memperoleh suatu Biofuel dari hasil Pertanian dan Kehutanan. Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan dapat berkolaborasi menghasilkan suatu AgroForesty yang terintegrasi.

Himpunan Mahasiswa Jurusan memiliki peran dalam membantu anggotanya dalam mengenal dan mengaplikasikan bidang keilmuannya. Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung memberikan fasilitas bagi anggotanya yang memiliki keinginan lebih dalam mengenal dan mempelajari keilmuan melalui Departemen Keprofesian. Pengenalan melalui Departemen Keprofesian yang dilakukan akan membantu anggota himpunan untuk semakin mengerti arahan dari keilmuan dari jurusan dan peluang dalam mengkolaborasikannya. Program Kerja yang diberikan dari suatu himpunan diharapkan mampu meningkatkan kualitas softskill dan hardskill dari Sumber Daya Manusia dari anggotanya yang salah satu contohnya dibidang keilmuan dari suatu jurusan yang dinaungi himpunan mahasiswa tersebut.

Posisi Mahasiswa dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Masyarakat Ekonomi ASEAN akan menjadi suatu persaingan nyata antar negara –negara yang tergabung di ASEAN dalam bidang ekonomi. Kualitas Sumber Daya Manusia akan menjadi parameter kualitas hasil produk yang dihasilkan negara tersebut.

Indonesia pada dasarnya memiliki regulasi penting yaitu UU No. 7 tahun 2014 tentang perdagangan yang berguna membendung produk impor masuk ke Indonesia (Wangke, 2014). Peraturan tersebut sangat penting guna menyelamatkan produk dalam negeri dari “hilang dari peredaran” akibat membanjirnya produk impor di Indonesia. Produk dari hasil Pertanian dan Kehutanan juga mendapatkan ancaman mengalami kegagalan dalam bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN

Metode lain yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan kualitas produk yang ada agar mampu bersaing dengan produk dari negara lain. Kualitas produk seperti hasil Pertanian dan Kehutanan dipengaruhi dari kualitas Sumber Daya Manusia dalam mengolahnya. Mahasiswa lulusan dari Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan yang kedepannya akan terjun ke bidang keilmuannya , harus memiliki kualitas yang mengaplikasikan bidang keilmuannya. Mahasiswa Jurusan dari ketiga jurusan tersebut yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung, sudah seharusnya memiliki softskill dan hardskill yang lebih dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak terlibat langsung dalam suatu himpunan jurusan. Organisasi ini diharapkan mampu dalam meningkatkan kualitas mahasiswa secara softskill dan hardskill agar mampu bersaing di masyarakat terutama Masyarakat Ekonomi ASEAN diluar dari perkuliahan yang diikuti. Kedepannya, kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia mampu bersaing dengan dunia Internasional dan mampu meningkatkan kualitas dari hasil-hasil produk terutama hasil dari Sumber Daya Hayati.

Kesimpulan

Dalam menghadapi Perdagangan Bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN, Indonesia dapat meningkatkan kualitas produk dari hasil yang akan bersaing di Pasar ASEAN. Peningkatan dari kualitas produk dapat dimulai dari peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Mahasiswa dibawa naungan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Institut Teknologi Bandung yang terdiri dari 3 program studi yaitu Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian dan Rekayasa Kehutanan harus mampu meningkatkan pemahaman akan keilmuan melalui pendidikan formal yang dilakukan dan melalui wadah himpunan tersedia. Kedepannya, ada sebuah kolaborasi nyata dari ketiga program studi ini dalam memanfaatkan Sumber Daya Hayati yang tersedia di Indonesi dan mampu bersaing dengan dunia Internasional.

Referensi

 

 

 

 

 

Komentar