Artikel Featured

Afirmasi: Perjuangan Putra-Putri Terluar di Kampus Ganesha

Atas nama pemerataan pendidikan, beasiswa sampai ke tangan. Namun, kenyataan di lapangan masih jauh dari angan.

“Ketika terbukanya akses pendidikan seluas-luasnya, maka seluruh putra-putri bangsa harus dapat memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan.”

Pernyataan tersebut dikutip dari sebuah tulisan tentang perjalanan afirmasi di ITB pada website resmi KM ITB. Artikel itu ditulis oleh MWA WM KM ITB 2014/2015 dan beberapa kementrian terkait. Tulisan itu dimuat dengan tujuan agar dunia tahu, dan setiap elemen masyarakat dapat berbenah sehingga kesalahan serupa tak terulang lagi.

Atas dasar pemerataan pendidikan yang tersirat pada UUD 1945 Pasal 31, program afirmasi dibentuk oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (Dikti). Beasiswa ini dikhususkan untuk putra-putri Indonesia wilayah 3T (Terluar, Terdepan dan Tertinggal). Dengan program ini, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi di beberapa universitas ternama di Indonesia. Proses seleksi yang dilakukan diawali dengan seleksi rapor SMA. Kemudian mereka mengikuti tes yang mirip dengan SBMPTN, hanya saja mereka cukup bersaing dengan teman sekabupaten.

Setelah hampir setahun silam tulisan itu dimuat, apa kabar afirmasi dan para beswannya pada saat ini?

Pada mulanya, suatu sistem yang dibuat pasti tidak akan sempurna. Namun, seiring berjalannya waktu, dengan evaluasi dan perbaikan, sistem akan berjalan dengan baik. Program afirmasi sudah berjalan sejak empat tahun yang lalu. Dan setiap tahunnya mengisahkan cerita yang tak dapat diabaikan.

Pada tahun 2012, ITB menyambut beberapa mahasiswa afirmasi yang semuanya berasal dari Papua. Tidak dapat dipungkiri bahwa wilayah asal 3T tersebut memiliki standar pendidikan yang berbeda dengan asal mahasiswa ITB pada umumnya. Kenyataan tersebut menyulitkan mereka dalam hal beradaptasi. Hal itu juga berdampak pada hasil akademik yang sangat tidak memuaskan. Berdasarkan peraturan akademik yang dimiliki ITB, mereka disarankan untuk mengundurkan diri. Berbeda dengan drop out, mahasiswa yang mengundurkan diri dapat melanjutkan studinya di perguruan tinggi lain tanpa harus mengulang dari semester awal.

Sekitar empat orang mahasiswa afirmasi ITB 2012 akhirnya ditransfer ke UPI, proses ini dibantu oleh Ignatius Yudki, PJS K3M ITB 2013/2014 dan Marshella Ramdhania, Mentri Kesejahteraan Mahasiswa KM ITB 2013/2014. Harapannya, mereka dapat lebih berkembang di UPI dengan beban akademik yang lebih ringan.

Tapi ternyata tidak, kualitas mereka belum kunjung membaik. Hal inilah yang menyulitkan proses transfer mahasiswa afirmasi 2013 yang bernasib serupa dengan mereka.

Di tahun 2013, ITB kembali menyambut mahasiswa afirmasi, kali ini mereka berasal dari Kalimantan Barat. Belum banyak perubahan, mereka semua mengulang TPB dan tiga mahasiswa mendapat SP. Rencananya mereka akan kembali ditransfer ke UPI, namun pihak UPI menolak.

Menurut Reza Hafidz Sukamto, PJS Mentri Advokasi KM ITB 2014/2015, pemerintah masih instan dalam melaksanakan program ini. Program ini bertujuan untuk pemerataan agar putra-putri terluar mendapatkan hak pendidikan yang sama, tapi pemerintah belum melihat pemerataan standar pendidikannya.

Seorang mahasiswa afirmasi pernah bercerita, dia sedikit merasa tidak adil dengan program TPB. Program TPB berlangsung di kampus ini dengan tujuan untuk menyamaratakan ilmu mahasiswa ITB sehingga memiliki modal yang sama pada saat masuk jurusan. Baginya, program TPB cukup mengintimidasi. Teman-teman afirmasinya di universitas lain yang tidak memiliki program TPB, memiliki start yang sama sejak awal mengikuti program akademik kampusnya.

Sedangkan disini, dia merasa TPB seperti ‘ajang’ siapa yang lebih baik standar pendidikan SMA asalnya. Karena sebenarnya, tidak semua mata kuliah TPB menjadi dasar mata kuliah jurusan. Karena hal itu juga, mereka tidak hanya sulit beradaptasi dengan beban akademik, tapi juga sulit beradaptasi dalam hal pergaulan sesama mahasiswa.
Perubahan cukup signifikan terjadi pada tahun 2014. ITB kembali menyambut mahasiswa afirmasi yang kini asalnya beragam. Mereka berasal dari Papua, Aceh, Nusa Tenggara, Maluku, Aceh, bahkan Garut. Kualitas membaik karena ada salah satu dari mereka yang hasil akademiknya cumlaude. Namun selain kenyataan itu, banyak dari mereka masih bernasib sama seperti kakak tingkatnya.

Sejak inisiasi yang dilakukan pada kepengurusan KM ITB 2013/2014, KM ITB cukup banyak membantu beswan afirmasi hingga saat ini. Kementrian Kesejahteraan Mahasiswa yang kini menjadi sebuah kemenkoan, membantu dalam informasi dan menyiapkan materi tutorial untuk beswan afirmasi. Tugas itu kini diemban oleh Kementrian Kebutuhan Dasar dibawah Kemenkoan Kesejahteraan Mahasiswa. Satu kementrian lagi dibawah Kemenkoan Kesejahteraan Mahasiswa, Kementrian Advokasi, membantu dalam hal administrasi horizontal, seperti pengadaan matrikulasi untuk beswan afirmasi.

KM ITB dapat saja membantu dalam hal tersebut. Tapi walau bagaimanapun, afirmasi butuh perhatian khusus dari beberapa pihak seperti Rektorat dan Dikti. Terutama dalam hal pendanaan untuk matrikulasi dan proses bridging.

Kini, PJS Kementrian Advokasi KM ITB 2014/2015 sedang mengerjakan proyek Buku Afirmasi: Sepenggal Kisah Perjuangan Mahasiswa Terluar Indonesia di Institut Teknologi Bandung. Dibantu dengan mahasiswa dari Desain Komunikasi Visual sebagai tim artistik dan Boulevard ITB sebagai tim editor. Buku ini berisi cerita-cerita dari beswan afirmasi ITB mengenai perjuangan mereka beradaptasi dengan beban akademik dan lingkungan di kampus ganesha.

Buku ini diharapkan dapat menjadi data primer yang diajukan kepada Rektorat nantinya, khususnya bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Selain itu, buku ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi Dikti. Hingga artikel ini ditulis, Buku Afirmasi sudah sampai pada tahap layouting.

Sesuai permintaan Rektorat, pada tahun 2015, ITB dilibatkan dalam proses seleksi. Sehingga ITB tidak menerima mentah begitu saja siapa mahasiswa afirmasi di kampus ini. Pihak Rektorat ingin afirmasi diikutsertakan dalam SBMPTN. Dengan kualitas soal yang sama, kita dapat mengetahui dimana posisi mereka.

Dikti memiliki tujuan yang mulia bersama keberjalanan program ini. Namun jika Dikti tidak segera mengevaluasi dan memperbaiki sistem di dalamnya, program ini hanya akan menyulitkan bagi target, yaitu mahasiswa penerima beasiswa afirmasi. Tidak hanya Dikti, elemen-elemen kemahasiswaan seperti Rektorat, KM ITB serta mahasiswa sendiri seharusnya ikut membantu dalam keberjalanan program ini. Karena jika program ini sukses, berarti kita sudah memberikan sedikit kontribusi untuk melunasi janji kemerdekaan Indonesia yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. [Nurina]

2 Komentar

  • memang benar teman-teman afirmasi yang saya kenal pernah curhat mengenai kesuitan mereka sewaktu menempuh TPB. Semoga kedepannya ada kebijakan yang lebih baik untuk keberjalanan kita semua, semacam metode khusus (mungkin) untuk teman-teman afirmasi ke depannya.
    Semoga kabar baik bisa sampai kepada teman-teman afirmasi terutama yang angkatan 2013 yang SP. aamiin

Komentar