Artikel

Kencan: Ujang Purnama

“Setiap mahasiswa ITB mempunyai potensi yang besar, hanya…”

Ujang Purnama, Sains dan Teknologi Farmasi 2011, belakangan ini namanya muncul ke permukaan karena meraih Ganesha Prize 2015. Ketika ditanya mengenai perasaannya setelah mendapatkan Ganesha Prize, ia mengutarakan kepada Boulevard bahwa itu tak pernah terbayangkan sebelumnya. “Perasaannya senang, tidak menyangka, semua orang juga pasti ingin, tapi pada awalnya semuanya seperti mimpi,” ujarnya. Saat diwawancara, dia sedang mempersiapkan diri menuju tingkat nasional, dengan banyak membaca berita dan mengasah kemampuan bahasa Inggris. Selain itu, ia juga mempersiapkan presentasi dan berlatih bagaimana cara presentasi yang benar.

Ditanya mengenai motivasi yang membuatnya bisa sampai pada tahap ini, ia justru menjawab bahwa ia hanya ‘menikmati kampus’, “Jadi awalnya, sebenarnya kalau memang kita senang dengan apa yang kita lakukan, biasanya hasilnya bagus. Kalau saya itu emang senang sama kampus, belajar aja dikelas senang,” ungkapnya. Kemudian, ia juga senang berbagi ilmu bersama teman-teman kelasnya. Karena menurutnya, disitulah ladang amal dan menjadi salah satu hal yang dapat memotivasi diri. 

image

Tidak selalu di bidang akademik, seorang Ujang juga aktif di kegiatan non akademik. Ia senang mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan seperti lomba dan komunitas luar kampus. Ia mengutarakan bahwa Ganesha Prize hanyalah dampak dari apa yang telah ia lakukan selama ini. Reswita Dery Gisriani, penerima Ganesha Prize 2011, tak luput menjadi orang yang memotivasi Ujang untuk mendapatkan Ganesha Prize. “Sama-sama dari Sekolah Farmasi, setelah Ka Reswita, belum ada lagi penerima Ganesha Prize dari Sekolah Farmasi,” tuturnya.

Selama 4 tahun di ITB, pengalaman paling menarik baginya adalah ketika menjadi ketua Pharmanova 2013. Saat itu ia sedang berada di semester lima. Menurutnya, semester lima adalah salah satu semester dengan jadwal kuliah terpadat. Sempat khawatir IP-nya akan turun. Tapi, ia tetap berusaha memaksimalkan apa yang menjadi tanggung jawabnya. “Saya mencoba memaksimalkan IP saya dan acara Pharmanova ini juga saya maksimalkan. Ternyata, IP saya bisa naik dan acara Pharmanova ini bisa berjalan lancar juga. Alhamdulillah.”

Selain itu, ia dan teman-temannya pernah menjuarai Lomba Business Plan yang diselenggarakan oleh SBM ITB. Menurutnya, ini adalah salah satu pencapaian paling membanggakan selama di ITB. “Pada waktu itu, saya dan teman-teman benar-benar belajar tentang bisnis dari nol,” jelasnya. Produk yang dibuat adalah Body Jam, lotion untuk tubuh yang terbuat dari ekstrak buah-buahan.

Tak hanya mengikuti kegiatan di dalam kampus, ia juga mengikuti komunitas luar kampus yaitu Kampus Peduli. Kegiatan sosial di Kampus Peduli inilah yang benar-benar membuka hatinya. Ia pergi ke daerah-daerah di Jawa Barat. Ia melihat banyak hal, seperti permasalahan-permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Di Kampus Peduli juga, ia sempat diamanahi menjadi Ketua Pelaksana Qurban di daerah Cirata. Saat itu ia masih tingkat satu. Itu merupakan pengalaman berharga baginya. Ia merasa terwadahi dalam melatih softskill, dibantu rekan-rekan yang lebih senior di Kampus Peduli.

Saat disinggung mengenai cita-cita yang ingin dicapai, ia antusias menceritakan cita-citanya dengan penuh harap, “Banyak. Saya ingin membuat perusahaan.  Saya juga ingin mandiri secara finansial sebelum usia 30, bahkan 25 kalau bisa. Lalu, Saya ingin membuat LSM juga. Kemudian saya juga ingin belajar sampe ujung.” Maksud dari belajar sampe ujung disini, ia berharap bisa melanjutkan studi hingga post doctoral. Setelah wisuda, ia berencana untuk melanjutkan kuliah Profesi Apoteker selama setahun.

Ditanya pendapat seperti apa idealnya mahasiswa ITB baik dalam akademik maupun non akademik, ia menjawab dengan panjang lebar. “Pertama, memiliki IPK cukup tinggi. IPK yang cukup tinggi, sebagai sebuah tiket untuk bekerja. Jika ingin berkerja di sebuah perusahaan misalnya, perusahaan umumnya memberikan syarat IPK 3.00 untuk mahasiswa ITB. Jadi, usahakan agar IPK terus ditingkatkan. Kedua, mengikuti kegiatan kampus seperti unit, kepanitiaan terpusat atau kegiatan di luar kampus. Usahakan ketika di dalam organisasi, kita bisa memegang peranan penting atau jabatan seperti ketua dan lain-lain. Ketiga, mempunyai karya apapun itu. Kita bisa  mengikuti lomba dan PKM. Keempat, menguasai bahasa asing. Kelima, memperluas link pertemanan. Hal ini bisa dilakukan dengan kegiatan organisasi tadi.”

Kemudian, ia juga berpendapat untuk bisa meraih itu semua dibutuhkan niat dan semangat. Menurut Ujang, fokus terhadap apa yang dilakukan juga penting. Ia mengutarakan bahwa kita harus bisa memaksimalkan diri ketika  kuliah dikelas. Ia juga menambahkan, bahwa kita juga harus memanfaatkan waktu diluar kelas dengan baik seperti mengikuti organisasi atau bermain. “Jangan pernah gunakan Sabtu dan Minggu untuk belajar kecuali dalam keadaan mendesak, Maksimalkan Senin sampai Jumat untuk kuliah,” tambahnya.

Menurut Ujang, Mahasiswa ITB itu pintar-pintar dan memiliki potensi yang besar, hanya saja tidak terlihat, potensi itu seperti energi potensial yang berada dipuncak, harus ada sesuatu yang mendorong agar potensi tersebut dapat keluar dan terlihat. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa lingkungan yang berkembang di ITB sangat mendukung dan banyak kesempatan untuk pergi ke luar negeri. Terakhir, ia berpesan untuk jangan takut tidak ada dana selama kuliah di ITB, karena bantuan akan selalu ada.

Hingga artikel ini ditulis, Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, telah merilis nama-nama finalis mahasiswa berprestasi tingkat nasional 2015. Sebagai kelanjutan Ganesha Prize, ITB mengirimkan Ujang Purnama sebagai mahasiswa berprestasinya. Nama Ujang tidak tercantum sebagai salah satu dari 15 finalis tersebut. Namun, walaupun begitu, semangat Ujang sangat menjadi inspirasi, pesan-pesannya memberikan gambaran arah gerak bagi kita dalam menjalani kehidupan kampus ganesha. [YK]

4 Komentar

  • saya dapat informasi ini dari akun Line Boulevard. Artikelnya menginspirasi sekaligus memotivasi diri.

    *sekadar saran* Sayang di web/artikel ini tidak ada tombol ‘share’ dan/atau subscribe ke boulevard.
    Terima kasih

    • Terima kasih atas sarannya, kami memang tengah berbenah agar dapat tampil lebih baik. Untuk sementara anda dapat mengikuti akun Line Boulevard untuk mendapatkan informasi terbaru.

  • Semoga anak desa ini..setalah menjadi orang sukses…dia tetap mau menolong orang yang tidak mampu..tanpa pamrih…semoga aja

Komentar