Artikel

Peran Industri Pertambangan Menghadapi AEC 2015

Menghadapi AEC 2015, ke manakah keilmuan tambang dapat berlabuh? Sebuah entri lomba esai ‘Peran Keilmuan Menghadapi AEC 2015’

Oleh Yogie Reza Pratama

Mimpi bersama beberapa negara yang memilki kesamaan geografis yaitu Asia Tenggara menyebabkan adanya Asean Economic Community (AEC). Mimpi ini didasari dari keinginan untuk mentransformasikan perhimpunan negara Asia Tenggara yang populer dengan sebutan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menjadi kawasan yang stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata serta kesenjangan sosial ekonomi dan kemiskinan yang semakin berkurang. Mimpi ini dimulai dari pertemuan antara pemimpin ASEAN pada KTT ASEAN di kuala lumpur Desember 1997. Pada KTT ASEAN ke-12 tahun 2007, para pemimpin ASEAN mempercepat pembentukan AEC yang dilaksanakan tahun 2015. Dengan adanya AEC ini, maka ASEAN akan menjadi suatu kawasan dimana terdapat aliran bebas barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja terampil, serta aliran modal yang lebih bebas.

Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menghadapi AEC. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, pertumbuhan perekonomian Indonesia meningkat sebesar 5,1%. Selain itu, menurut proyeksi Bappenas, perkembangan perekonomian nasional untuk periode 2015-2019 diprediksikan akan menjadi titik tolak bagi bangsa Indonesia untuk keluar dari middle income trap1. Untuk skenario dasar, PDB akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 6,2% per tahun. Pertumbuhan PDB jangka pendek yang cukup optimis ini harus diikuti oleh peningkatan teknologi, infrastruktur, dan yang terpenting adalah ketersediaan suplai tenaga listrik yang memadai sebagai penyokong berjalannya segala aktivitas perekonomian.

Modal yang kuat dimiliki oleh Indonesia tergantung dari cara mewujudkannya menjadi hal yang nyata. Peranan sektor pertambangan sampai saat ini masih sebagai pemasok utama keuangan negara dengan mengekspor komoditas tambang. Dapat dilihat dalam bagan terlihat bahwa peranan sektor pertambangan dengan komposisi ekspor mencapai 50%-70%. Ketergantungan Indonesia yang sangat besar terhadap ekspor komoditas tambang dan manufaktur yang berbasis sumberdaya alam menyebabkan rentan akan penurunan permintaan dan harga komoditas dunia.

1Diperlukan arah yang baru bagi indonesia untuk melepas ketergantungan terhadap ekspor tambang. Pemerintah telah mencanangkan adanya nilai tambah mineral2 dari industri pertambangan dengan dibangunnya pabrik pengolahan yang diatur dalam UU No. 4 tahun 20093. Adanya nilai tambah ini bertujuan untuk menghasilkan suatu produk baru sehingga nilai ekonomi dan daya gunanya meningkat lebih tinggi dari sebelumnya. Aktivitas yang ditimbulkan akan memberikan dampak positif terhadap perokonomian dan sosial baik bagi pusat maupun daerah. Peningkatan nilai tambah mineral dilakukan untuk mendukung ketersediaan bahan baku industri selanjutnya.

Selama prosesnya pembangunan pabrik pengolahan terkendala dengan minimnya infrastruktur dan ketersediaan listrik. Kedua hal ini dapat diatasi dengan adanya investasi yang masuk ke dalam negeri. Berdasarkan data menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara paling menarik investor dan ekspansi bisnis di ASEAN.

2

Banyaknya investasi yang masuk ke Indonesia tentu membutuhkan persiapan dari pemerintah. Kondisi saat ini pemerintah masih belum menegakkan dengan baik peraturan tentang penanaman modal asing (PMA) dan divestasi saham. Dapat dilihat dengan banyaknya perusahaan tambang besar yang dikuasai oleh pihak asing. Semakin lama sumberdaya alam yang dimiliki Indonesia akan habis dimakan waktu. Penegakan peraturan terkait dengan PMA dan divestasi saham menjadi hal penting oleh pemerintah sehingga saat adanya AEC kemudahan arus investasi dan modal memberikan manfaat yang besar untuk pembangunan di sektor pertambangan.

Kerjasama AEC ini dapat meningkatkan perdagangan dan investasi serta kerjasama dan kapasitas sektor geologi dan mineral untuk pembangunan sektor mineral yang berkelanjutan di kawasan ASEAN. Pembangungan sektor mineral berkelanjutan ditandai dengan adanya nilai tambah mineral yang diolah pada pabrik pengolahan. Diharapkan dengan modal dan peran pemerintah yang baik dalam menghadapi AEC ini dapat membuat industri pertambangan memberikan manfaat yang signifikan terhadap negara.

Majulah Pertambangan Demi Pembangunan!


1 Situasi di mana suatu negara yang telah mencapai penghasilan pada level tertentu akan terjebak pada tingkat pembangunan ekonomi yang stagnan

2Peningkatan nilai tambah mineral dilakukan melalui kegiatan pengolahan, peleburan dan pemurnian mineral, dari bahan baku yang berbentuk bijih (ore) menjadi suatu produk akhir yang berbentuk logam (metal)

3 UU No. 4 Tahun 2009

Daftar Pustaka

CETAK BIRU KOMUNITAS EKONOMI ASEAN

Bahan Kuliah Umum Mirza Adityaswara “Perbankan Indonesia dalam Menghadapai MEA 2015”

1 Situasi di mana suatu negara yang telah mencapai penghasilan pada level tertentu akan terjebak pada tingkat pembangunan ekonomi yang stagnan

2 Peningkatan nilai tambah mineral dilakukan melalui kegiatan pengolahan, peleburan dan pemurnian mineral, dari bahan baku yang berbentuk bijih (ore) menjadi suatu produk akhir yang berbentuk logam (metal)

3 UU No. 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara

Komentar