Artikel Featured

Surat Pembaca: FAQ Seputar Isu Dayang Sumbi

Apa, siapa, kenapa, bagaimana, sebuah kumpulan pertanyaan dan jawaban untuk isu PKL Dayang Sumbi

oleh: Annisaa Nurfitriyana (Kriya 2013), Dian Perkasa (Fisika 2013).


Halo, massa kampus! Beberapa minggu yang lalu, saat mayoritas mahasiswa sedang berlibur kuliah semester genap, kita semua dihebohkan dengan isu mengenai penggusuran PKL di Jalan Dayang Sumbi (belakang ITB). Banyak dari kita yang mengetahuinya melalui grup ataupun personal chat di LINE. Ada juga beberapa teman yang memang berdomisili di Bandung dan berada di sekitar area kampus pada waktu itu mendapatkan informasinya langsung dari pihak PKL Dayang Sumbi.

Namun, seringkali informasi yang kita dapatkan bias ataupun kurang lengkap apabila didapatkan melalui media sosial (LINE) sehingga dirasa perlunya diterbitkan FAQ (Frequently Asked Questions) ini. FAQ ini juga bertujuan agar teman-teman bisa menangkap dan memahami isu secara holistik dan objektif berdasarkan fakta-fakta yang aktual.

Berikut adalah FAQ dalam isu ini:

  1. Bagaimana kronologis penggusuran PKL Dayang Sumbi kemarin?

Tanggal 7 Juli 2015 kemarin, PKL Dayang Sumbi mendapat surat peringatan dari satpol PP bahwa akan terjadi penertiban di tanggal 10 Juli 2015 dan meminta PKL untuk merapikan barang dagangannya. Sementara, PKL yang merasa surat ini amat mendadak kurang setuju dengan adanya penggusuran. Terlebih sebelumnya tidak ada sosialisasi terlebih dahulu dari pihak ITB maupun pihak Kecamatan Coblong mengenai hal ini. PKL merasa mengalami ketidakadilan. Mereka tidak mau terulang kejadian yang sama seperti pada tahun 2013, di mana mereka merasa telah ditipu oleh pemerintah saat itu.

Kemudian, malamnya di hari yang sama, berita dan surat mengenai penertiban ini sudah sampai di berbagai pihak, diantaranya KM ITB dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi. Merasa tergerak, KM ITB dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi melakukan upaya yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini.

  1. Apa yang terjadi di tahun 2013?

Awal kejadian di tahun tersebut hampir sama dengan awal kejadian yang baru-baru ini. Surat peringatan diterbitkan dan ditujukan ke PKL Dayang Sumbi. PKL pun berusaha melakukan advokasi dengan bertanya ke Wakil Walikota Bandung yang sedang menjabat saat itu (Ayi Vivananda). Beliau mengatakan bahwa PKL Dayang Sumbi tidak akan digusur karena bukan agenda utama dari 7 titik yang sedang difokuskan untuk dilakukan penertiban.

Oleh karena itu, PKL Dayang Sumbi dihimbau untuk kembali berdagang. Namun janji hanyalah sebatas janji, keesokan harinya Petugas Satpol PP datang dan menggusur lapak PKL Dayang Sumbi tanpa dilengkapi berkas penggusuran yang merupakan prosedur umum eksekusi penggusuran.

Detail lebih lanjut mengenai kronologis penggusuran PKL Dayang Sumbi tahun 2013 dapat dilihat di Majalah Boulevard edisi 74 atau di:

http://ganecapos.com/2015/07/mengingat-penertiban-pkl-dayang-sumbi-tahun-2013/

  1. Siapa saja anggota Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi?

Anggotanya adalah PKL Dayang Sumbi itu sendiri, mahasiswa, komunitas-komunitas di Bandung, dan masyarakat yang peduli akan nasib PKL Dayang Sumbi ini.

  1. Bagaimana peran KM ITB dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi dalam kasus ini?

KM ITB mengupayakan membantu PKL Dayang Sumbi dengan mengadvokasi ke pihak ITB dan mengumpulkan kongres untuk mengkaji langkah yang akan dilakukan kedepannya terkait PKL Dayang Sumbi.

Sementara itu, Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi lebih ke lapangan, mengupayakan advokasi jangka pendek terkait penggusuran (seperti upaya penundaan penggusuran sampai PKL Dayang Sumbi diberi solusi, yang diantaranya relokasi dan pembinaan).

  1. Bagaimana kondisi di lapangan menjelang penggusuran?

Suasana amat tegang, setiap malam PKL dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi berjaga dikarenakan takut sewaktu-waktu pengsusuran dilakukan mendadak (seperti yang biasa dilakukan oleh Satpol PP). Namun tak bisa hanya mengandalkan rasa takut, berbagai upaya masih dilakukan menjelang penggusuran. Menyusun press release, sejumlah solusi, dan upaya advokasi masih dilakukan hingga hariH.

Advokasi dimulai ke tingkat Kecamatan Coblong (yang tidak direspon dengan baik), dan kemudian ke Komisi A DPRD Kota Bandung. Di Komisi A, advokasi berlangsung santai namun menegangkan. Sampai akhirnya Ketua Komisi A menghubungi Satpol PP via telepon selulernya untuk menanyakan mengenai penggusuran ini. Pihak Satpol PP berkata bahwa mereka tidak tahu-menahu dan hanya menjalankan tugasnya yang turun dari Kecamatan Coblong (dan ITB).

Camat Coblong susah sekali dihubungi ponselnya pada saat ini. ITB pun bersikap dingin dan tidak mau tahu dan terkesan mereka hanya menginginkan area Dayang Sumbi bersih dan bebas dari PKL.

  1. Bagaimana kondisi di lapangan di hari-H penggusuran?

Di hariH semua bersiaga. Bersiaga sebenarnya bukan untuk melakukan perlawanan, tetapi untuk menjaga harta benda milik PKL Dayang Sumbi dari penggusuran yang biasanya berantakan dan merusak sejumlah barang. Hal ini juga dilakukan untuk aksi damai bersamaan dengan tahap negosiasi di hariH mengenai penangguhan penggusuran PKL Dayang Sumbi sampai diberikan solusi.

Pada Minggu malam pada 12 Juli 2015, yaitu 4 hari menjelang lebaran, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Semua yang berada di TKP telah berdoa dan mengiklaskan dirinya sepenuh hati untuk membela hak PKL Dayang Sumbi. Mobil polisi anti huruhara datang sekitar pukul 10 malam. Barisan aksi damai menutup dan memblokade jalan untuk berjaga-jaga apabila tindakan yang tak diinginkan terjadi.

Kemudian, beberapa anggota Tim Negosiator dan Advokasi PKL Dayang Sumbi melakukan sejumlah dialog dengan aparat. Tentara dan intel mulai berdatangan. Namun, PKL dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi tak gentar. Suara-suara rakyat dikumandangkan. Sholawat pun dipanjatkan bersamaan dengan negosiasi yang tengah berlangsung.

Hingga tengah malam tiba, kabar gembira pun datang. Penggusuran tidak jadi dilakukan malam itu. Semua memanjatkan puji syukur. Rasa haru pun tak terbendung lagi. Air mata syukur berjatuhan. Para PKL bersyukur karena, paling tidak, kios mereka masih berdiri di hari lebaran. Perjuangan mereka tak sia-sia. Malam-malam susah tidur yang mencekam karena khawatir bangunan kios mereka rata di pagi hari telah sirna. Malam itu telah menjadi malam kemenangan dan syukur PKL Dayang Sumbi.

  1. Bagaimana kondisi di lapangan pasca kegagalan eksekusi penggusuran?

Pasca hari-H, kondisi sudah cukup membaik. PKL Dayang Sumbi paling tidak bisa merayakan momen Idul Fitri dengan perasaan yang lebih tenang daripada sebelumnya.

Terakhir melewati kawasan Dayang Sumbi, kios-kios sudah tutup. Mungkin sebagian pemiliknya sudah pulang kampung.

Namun upaya advokasi masih tetap berjalan terkait solusi relokasi dan lain sebagainya.

  1. Mengapa PKL Dayang Sumbi perlu dibela? Bukankah PKL Dayang Sumbi berdagang di zona merah?

PKL Dayang Sumbi dibela bukan karena dipaksakan untuk tetap berdagang di Dayang Sumbi, tetapi diperjuangkan haknya untuk tidak digusur sampai ada solusi yang solutif, karena pada kenyataannya, di lapangan banyak sekali perlakuan tidak adil yang dirasakan oleh para PKL. Mulai dari surat penggusuran yang mendadak datang menjelang penggusuran tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu, diedarkanya surat oleh PT Wika (salah satu kontraktor pemegang proyek pembangunan gedung-gedung baru di wilayah utara ITB) yang melarang pegawainya untuk membeli makanan/minuman di luar area proyek (termasuk Dayang Sumbi), penutupan gerbang utara yang berdampak terhadap penurunan omset para pedagang hingga 75% sejak ditutup tahun 2013, dan lain sebagainya.

Selain itu, ketidakadilan juga banyak dirasakan oleh pihak PKL karena dianggap kurang berpendidikan, sehingga pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab dalam beberapa kesempatan melakukan tindakan manipulasi dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu akademisi yang mendampingi para PKL ini supaya para PKL tidak diperdaya.

Jadi, pada intinya upaya pembelaan PKL Dayang Sumbi ini bukan semata-mata karena “latah” atau sekedar ikut-ikutan saja, namun upaya ini dilakukan untuk mendampingi para PKL di Dayang Sumbi ini hingga mendapat solusi bersama.

  1. Mengapa PKL Dayang Sumbi perlu dibela secara hukum?

Pada dasarnya, kita ketahui bersama bahwa keberadaan PKL yang terletak membentang dari Jalan Dayang Sumbi sampai Jalan Tamansari memang telah melanggar beberapa peraturan terkait. Peraturan tersebut adalah Peraturan Walikota Bandung No. 888 Tahun 2012, yang dalam pasal 15 poin 12 tertulis jelas bahwa Jalan Dayang Sumbi Samping ITB merupakan Zona Merah bagi PKL.

Namun tentu saja, keberadaan PKL ini tidak dapat kita singkirkan begitu saja. Pelarangan tersebut harus diikuti dengan usaha pembinaan dan relokasi yang sesuai. Hal ini dikarenakan PKL pun memiliki hak untuk mempertahankan hidupnya. Seperti tercantum dalam Pasal 18 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011: PKL mempunyai hak (a) mendapatkan pelayanan penerbitan Tanda Pengenal (b) Mendapatkan penataan dan pembinaan (c) mendapatkan perlindungan (d) difasilitasi untuk mendapatkan penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana kegiatan sektor informal. Sampai saat ini PKL Dayang Sumbi belum mendapatkan usaha-usaha pembinaan dari dinas terkait.

Selain itu, hal inipun memang dijamin dalam undang-undang dasar, yaitu pada pasal 27 ayat (2) UUD 1945 berbunyi “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak”. Melihat juga apa yang telah diamanatkan pada Pasal 28 A UUD 1945 yaitu “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Belum adanya jaminan relokasi menandakan hak-hak warga negara yang tercantum pada UUD 1945 tersebut masih belum terpenuhi.

  1. Apa saja kejanggalan yang terjadi di lapangan menjelang hari H di bulan Juli 2015 ini?

Ada banyak kejanggalan yag terjadi menjelang hari H, beberapa diantaranya

  • Tidak ada sosialisasi yang dilakukan pihak pemerintah menjelang hari H penggusuran. Tiba-tiba tanggal 7 Juli surat dari Satpol PP datang. Namun pada saat dikonfirmasi, dari pihak Lurah dan Camat mengklaim telah melakukan sosialisasi.

  • Perihal absensi yang mencurigakan yang kemudian diambil kembali oleh Ketua PKL Dayang Sumbi.

Kronologinya, PKL Dayang Sumbi diminta datang ke kantor Kecamatan untuk berdialog perihal permasalahan ini. Sesampai di sana, Camat Kecamatan Coblong (Pak Anton) tidak ada di kantor. Sambil menunggu, perwakilan PKL diminta mengisi selembar absensi. Akan tetapi, karena khawatir absensi tersebut disalahgunakan dengan tumpang tindih lampiran administrasi, maka mereka membawa aslinya, karena pertemuan tersebut juga tidak jadi berlangsung, dengan alasan bahwa sesudah dialog ini ada agenda lain yang lebih penting yang harus dibahas di Kantor Kecamatan.

  • Beberapa hari menjelang penggusuran, Lurah dan Camat menjadi sangat sulit dihubungi apalagi ditemui. Berkali-kali warga mendatangi kantor Camat, tetapi Camat tidak berada di lokasi, ponsel Pak Camat pun tak bisa dihubungi bahkan sampai PKL mendatangi Komisi A DPRD Bandung pun untuk menelpon camat, namun tak kunjung digubris.

  • Pada saat kami datang ke kantor DPRD Kota Bandung, lebih tepatnya ke Komisi A DPRD dan menyampaikan keluh kesah kami, pada saat ketua Komisi A mengkonfirmasi Korlap Satpol PP melalui telepon selularnya perihal penggusuran ini, beliau menyatakan bahwa penggusuran dilakukan atas perintah dari pihak ITB dan Camat.

Dari pernyataan berikut, dapat disimpulkan bahwa penggusuran dilakukan bukan atas perintah dari Pemerintah Kota Bandung, karena seperti diketahui, daerah Dayang Sumbi juga bukan termasuk 7 titik penertiban yang menjadi agenda Pemerintah Kota & Satpol PP. Berarti kemungkinan saja walikota kurang mengetahui perihal penggusuran ini

  • Polisi anti huru hara, tentara, dan intel baru berdatangan di h+2 setelah tanggal yang tertera di surat. Seharusnya mereka datang tanggal 10 Juli 2015, tapi di lapangan, mereka datang pada tanggal 12 Juli 2015.

  1. Waktu itu pada saat hari H, di grup-grup line ITB tersebar jarkom untuk melakukan bom tweet dan mention via Instragram kepada @Ridwankamil.Mengapa upaya tersebut dilakukan? Apakah upaya tersebut berdampak?

Bom tweet dan mention Instagram diupayakan karena berdasarkan info yang didapat di DPRD, sepertinya pemerintah kota kurang mengetahui perihal penggusuran di Dayang Sumbi. Mungkin Ridwan Kamil juga demikian karena penggusuran diperintahkan oleh ITB dan Kecamatan.

Oleh karena itu, upaya di ataspun dilakukan. Dua jam setelah postingan terakhir Instagram Ridwan Kamil, kami melakukan bom tweet dan mention di twitter. Namun, sampai sekarang Ridwan Kamil belum merespon usaha yang telah kita lakukan ini. Beberapa jam setelah usaha ini dilakukan, beliau malah memposting foto terbaru di akun intagramnya.

Hmm, sepertinya beliau langsung menghilangkan notif di Instagramnya ya

  1. Untuk saat ini PKL Dayang Sumbi tidak jadi digusur. Advokasi terakhir menyatakan bahwa PKL Dayang Sumbi tidak akan digusur sebelum ada solusi kongkrit. Lantas, langkah kedepannya yang akan dilakukan oleh KM ITB dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi akan seperti apa?

Kedepannya, KM ITB dan Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi akan mengawal PKL Dayang Sumbi hingga permasalahan ini tuntas.

KM ITB diwacanakan akan memfasilitasi kajian rumpun himpunan, melalui Kementrian Sinergisasi Rumpun Kajian KM ITB, yang sekiranya keilmuannya berkaitan dengan permasalahan PKL ini, yaitu HMP (Planologi), IMA-G (Arsitektur) dan himpunan-himpunan dibawah naungan KMSR (IMDI, INDDES, IPPDIG, TERIKAT, VASA). Kajian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam waktu dekat, dan diharapkan kajian dilaksanakan hingga mencapai hasil akhir yang bisa dieksekusikan dan direalisasikan, misalnya dalam bentuk Rancangan Relokasi dan Tempat Bagi Para PKL.

Sementara itu Aliansi Masyarakat Peduli PKL Dayang Sumbi akan melakukan sejumlah advokasi kembali dan terus mengawasi lapangan, untuk memastikan hak dan kewajiban PKL Dayang Sumbi terjamin hingga solusi ada & nyata, dan memastikan tidak adanya kejanggalan lagi di lapangan.

Demikian FAQ terkait isu PKL Dayang Sumbi kemarin. Semoga dengan diterbitkannya FAQ seputar info PKL Dayang Sumbi ini, massa kampus dapat mengetahui dan memahami permasalahan ini secara objektif dan lebih bijak.

Semoga kedepannya permasalahan PKL Dayang Sumbi ini dapat segera terselesaikan dengan solusi yang nyata. Amin.

Bandung, Juli 2015

Ditulis oleh:

Annisaa Nurfitriyana (Kriya 2013), Dian Perkasa (Fisika 2013)

(089651423392, annisaa.nurfitriyana@yahoo.com)

Foto oleh:

Faddli Nur Siddiq

Komentar