Langkah

Langkah: Secuplik Kenangan di Pangandaran

Salah satu dataran luas di cagar alam

Adalah sebuah celetukan yang membawa kami menuju Pangandaran liburan semester kali ini. Tak mau menundukkan diri pada wacana, dalam dua minggu anggaran biaya disusun dan berangkatlah rombongan kami ke situs wisata Jawa Barat ini.

Adalah sebuah celetukan yang membawa kami menuju Pangandaran liburan semester kali ini. Tak mau menundukkan diri pada wacana, dalam dua minggu anggaran biaya disusun dan berangkatlah rombongan kami ke situs wisata Jawa Barat ini. Keberangkatan kami dari ITB disetujui pukul 10 malam, dengan tujuan melihat matahari terbit di ufuk pantai.

Kami anak-anak kota. Berbeda dari mahasiswa pecinta alam yang telah menaklukkan satu demi satu pesona nusantara, sehari-hari kami akrab dengan kakas elektronik. Dalam wisata kami ke Pangandaran ini, kami hanya berniat bermain di pantai dan mencoba body rafting seandainya sempat.

Sekitar pukul empat pagi kami tiba. Sayangnya, hujan deras sejak tengah malam tidak pula reda. Alhasil, rencana melihat matahari terbit pun gagal. Kami memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum menyusun rencana dua hari ke depan. Beberapa dari kami langsung menghampiri swalayan terdekat. Beberapa yang lain memilih sarapan di pantai. Sebut mereka, ombak besar bergulung-gulung. Maklum, separuh dari kami tertidur dalam perjalanan sehingga tak sempat melihat pemandangan itu sebelumnya.

Kami akhirnya mengisi hari pertama dengan kunjungan ke cagar alam tak jauh dari pantai. Seorang kenalan mengenalkan kami pada pemandu yang akan membawa kami ke air terjun di ujung hutan. Kala itu kami masih berpikir tidak butuh pemandu, sebab kami tentu dapat menemukan jalannya sendiri. Ini hanyalah satu dari banyak tanda keamatiran kami. Pikir kami, usai menjelajah cagar alam, kami akan langsung bersantap di tepi laut.

Pondok pondok yang terlihat ringkih berjajar di sepanjang pantai, menawarkan makanan dan paket wisata. Jembatan-jembatan yang mengarah ke laut terlihat berada dalam kondisi yang cukup suram. Namun begitu, kami menikmati menyusuri tembok pembatas, merasakan percikan air yang terasa segar. Sayangnya, ketika kami melihat ke bawah, pemandangannya sungguh mengenaskan. Sampah bertumpuk menggunung, kebanyakan sisa botol minuman dan plastik belanja. Demikian menyedihkankah turisme kita? Hal ini terus kami temukan hingga hari terakhir, di berbagai tempat.

Monyet-monyet menyambut kami di cagar alam. Setiap pengunjung sangat disarankan membawa payung atau tongkat untuk ‘mengancam’, dan membawa barang bawaan dengan posisi yang benar. Rusa mulai terlihat beberapa meter sebelum pintu masuk cagar. Tak disangka, setelah itu kami masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan, meninggalkan jalan setapak dengan rusa dan monyet-monyet…

Kalau sebelumnya saya masih berpikir kami hanya akan sekadar ‘berjalan kaki cukup jauh’, saya terpaksa harus berubah pikiran melihat medan yang kami jalani. Bagi yang sudah terbiasa, jalan yang kami daki tak seberapa curam memang. Namun, kondisi tanah selepas hujan ditambah akar-akaran yang melintang sana-sini cukup menyulitkan. Belum lagi, kami tidak menyangka akan melalui jalur seperti ini. Perbekalan yang kami bawa hanyalah sedikit air yang kemudian dibagi beramai-ramai, bahkan hanya satu diantara kami yang memakai alas kaki yang pantas untuk trekking.
[URIS id=1075]

Ada padang luas yang indah tak jauh dari jalan setapak. Dari sana, perbukitan yang menjulang nampak begitu gagah, sementara kami hanya titik-titik kecil di bawah langit biru. Sempat pula kami lewati aliran sungai di hutan, sudut-sudut yang terlupakan. Menurut pemandu kami, jalan yang kami lewati jarang dijamah orang. Kami tanpa sengaja menyetujui hal ini ketika ditawarkan oleh sang kenalan karena kurangnya informasi yang kami miliki.

Sekitar dua jam kemudian, dengan goresan di sana-sini dan banyak kejadian konyol di tengah jalan, kami akhirnya sampai di air terjun yang dijanjikan. Tak salah, pemandangannya memang layak diperjuangkan. Sungai menyatu membentuk kolam di pinggir tebing, kemudian jatuh sebagai air terjun seratus meter ke bawah. Di depan kami adalah hamparan lautan. Tentulah kesempatan ini tak bisa kami lewatkan untuk bermain-main. Dalam usaha kami menyeberangi kolam untuk duduk di tebing, korban berjatuhan. Dua orang basah tercebur. Pada saat ini kondisi alas kaki kami sudah cukup mengenaskan. Dapat dikatakan, tak mungkin kami sampai sejauh ini seorang diri. Beberapa daerah sulit dilewati bahu-membahu. Kamera dikeluarkan. Teriakan bersemangat kembali terdengar setelah peluh berjatuhan.

Puas bermain, waktu sudah menunjukkan hampir sore hari. Saatnya kembali. Jalan kembali sayangnya tidak sekering jalur kedatangan kami karena mengikuti aliran sungai. Batu-batu pijakan amatlah licin dan berbahaya bila tidak melihat jalan dengan seksama. Belum lagi, badan kami yang telah lelah berjalan lebih lambat dari sebelumnya. Masalah muncul karena cahaya mulai menghilang sementara salah satu dari kami menderita rabun senja. Bukan hanya itu, jalur yang kami lalui semakin tidak bisa diprediksi dengan banyaknya potongan kayu dan akar bergelantung. Kami mulai panik, berusaha keluar selagi masih ada yang bisa dilihat.

Menjelang pukul enam sore, hutan gelap total. Berpatokan pada si pemandu, kami membentuk rantai agar yang di belakang tetap bisa mengikuti jalan. Karena sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi, pergerakan hanya mengikuti orang di depan dan aba-aba suara. Terantuk atau tersandung otomatis sudah bukan kejutan. Kami sempat melihat kawanan kelelawar terbang ketika mencapai bukaan, namun setelah itu kembali kami harus melalui hutan. Tanpa pemandu, kami pasti sudah lama tersesat.

Pukul tujuh lewat, kami akhirnya berhasil keluar. Di depan kami adalah pantai di bawah sinar bulan, bebas dari orang lain. Sungguh lega rasanya.

Hari kedua diisi dengan body rafting di Citumang. Tujuan awal kami untuk kegiatan ini adalah Green Canyon, namun dengan pertimbangan waktu dan keadaan sungai kami menjadwalkan Green Canyon setelah Citumang untuk sekadar berperahu. Airnya bersih dan pemandangannya bagus, walaupun jalurnya lebih pendek dibanding Green Canyon. Dua tempat ini banyak dikunjungi oleh turis asing. Mereka nampak sangat tertarik dengan wisata alam kita.

Tarif body rafting sekitar Rp 60.000-80.000 tergantung lokasi. Green Canyon menawarkan wisata perahu juga bagi yang tidak ingin berenang. Apabila ada peserta body rafting yang tidak bisa berenang maka akan dibantu oleh pemandu di sana.

Setelahnya, kami makan siang dan mampir ke pantai. Pasirnya memang tidak putih, namun tidak kalah menyenangkan dengan pantai-pantai terkenal lain. Sebagai penutup, sebelum kembali ke penginapan kami mengunjungi penangkaran penyu. Konon disebutkan oleh si pengurus, penangkaran penyu ini sering dikunjungi mahasiswa SITH ITB.

Sore hari kami tertarik dengan mobil mini berhias semarak yang bercahaya warna-warni di sepanjang jalan. Ada pula sepeda tandem yang dapat mengakomodir hingga empat pengendara. Mobil itu bisa menampung hingga enam orang dengan tarif Rp 50.000/jam. Meluncurlah kami di jalan. Sangat tidak dianjurkan mengisi mobil hingga enam orang, sebab yang menggowes pedal hanya empat. Tentunya, akan terasa berat. Biar demikian kami masih sempat berkeliling hingga ujung gerbang masuk kompleks wisata. Sayangnya, sekembalinya kami hujan kembali menerpa. Kali ini disertai angin kencang. Pada perjalanan kami kembali ke penginapan, kami sudah sulit melihat. Belum lagi kecepatan menurun karena menggigil.

Hari ketiga, sekaligus hari terakhir. Pagi-pagi kami kembali ke tepi pantai dan menemukan bahwa jembatan rapuh di sana telah hancur diserang badai semalam. Melihat itu, beruntunglah kami bisa kembali dengan selamat. Beberapa jam yang tersisa kami isi dengan menyewa mobil gowes lagi. Sore pun tiba, saatnya kami kembali ke Bandung tercinta. Selamat tinggal Pangandaran, semoga semarak wisata diiringi kesadaran cinta lingkungan.

Tulisan oleh: Lisa Santika Onggrid (AS’13)
Foto oleh: Maulana Mahardika (EL’3)

Komentar