Uncategorized

Mahkota

BERAI. Tidak tahu kemana lagi air mengalir. Tanah kucar-kacir. Pepohonan rimba habis tergelingsir. Ternak hanya sisa segelintir. Rumah, sawah, luluh-lantah menyisakan getir. Beliung semalam sukses benar melumatkan negeri. Matahari bahkan tidak rela menampak guna melihat kekacauan ini.

Oleh Alma C. Aristia

BERAI. Tidak tahu kemana lagi air mengalir. Tanah kucar-kacir. Pepohonan rimba habis tergelingsir. Ternak hanya sisa segelintir. Rumah, sawah, luluh-lantah menyisakan getir. Beliung semalam sukses benar melumatkan negeri. Matahari bahkan tidak rela menampak guna melihat kekacauan ini. Gelap, seperti segalanya telah berhenti. Pengharapan atas sebuah kehidupan pun mati.

Lantas adakah yang tersadar bahwa masih ada jiwa yang tertinggal di sini? Tidak, tidak ada yang peduli lagi. Lebih-lebih para jelata, sang raja saja sudah pasrah. Istana tempatnya bersinggasana telah porak-poranda. Jubahnya coreng-moreng. Kereta dan kudanya binasa. Emas, pusaka, papar dengan tanah. Serdadu kebanggaan bergelimpangan. Tertinggal mahkota di kepalanya yang sudah peot. Pantas saja Matahari tidak mau kembali. Raja, sahabatnya dulu, sudah tidak gagah lagi.

Nestapa sungguh sempurna menimpa pertiwi. Perang, bala, papa. Sempurna!
“Mengapa ini terjadi? Dimana asa yang dulu? Dimana Matahari? Tidakkah sudi sinarnya menyisip walau secercik? Angin, mengapa pula engkau pergi menyisakan pengap? Mengapa tidak sekalian kau bawa aku ke atas sana? Agar dapat kutemui Matahari sehingga dia bisa menyinari negeri kembali,” sebongkah jiwa melonglong, mengeluhkan peristiwa yang terjadi.

Jiwa itu terus bergumam sambil matanya menelusur ranah yang sudah tidak berupa ini. Lamat dia perhatikan sekitarannya. Puing berserakan. Anyir merebak dimana-mana. Banyak raga terhempas memilukan. Satu-dua yang masih mengedipkan mata pun hanya bisa sesenggukan. Ada yang hanya bisa melongo bahkan. Jeritan sejabang bayi di pinggir selokan pun tidak ada yang menghiraukan. Entah mengapa bayi itu masih bisa berteriak sementara patih kerajaan justru sudah tidak bernyawa.

“Mau kemana kau, Gundul?” seseorang memaksa jiwa itu menghentikan telaahnya.
“Mencari udara segar,” jiwa itu, yang dipanggil Gundul, menjawabnya dengan singkat.
“Hah, bedebah kau! Hidungmu masih berfungsi saja seharusnya kau sudah bersyukur!” balas orang itu lagi.
“Hei, kau yang bedebah! Tidak ada yang patut disyukuri untuk ihwal seperti ini,” timpal suara yang lain.
“Kau tak paham hakikat hidup rupanya, ya!”

Jiwa itu, si Gundul, hanya menyerngitkan bibir mendengar sesahutan para bedebah itu. “Begitulah jika orang sok peduli di situasi seperti ini,” imbuhnya dalam batin. Dia meneruskan langlangannya. Ke timur. Dia mengarah ke tempat seharusnya Matahari terbit. Dia ingin mencari Matahari? Haha bodoh! Matahari saja sudah enggan berpandang dengan raja sang pengguna mahkota. Mungkin dia sudah pergi, tidak sudi lagi menerangi kesengsaraan ini.

Di tengah perjalanannya dia berhenti dan menengok sekelilingnya lagi. Pohon-pohon masih berdiri tegak rupanya. Sungai jernih juga mengalir di sela cemara yang berjajar. Semerbak wangi bunga menentramkan sukma. Siulan burung dan tarian kupu-kupu menambah elok pagelaran itu.

Ah, rupanya si Gundul hanya berkhayal. Dia hanya teringat akan ruang yang paling dikaguminya dulu. Tempat jaminan kesejahteraan berada. Tempat yang menyuguhkan pertunjukan yang sungguh mengagumkan. Sekarang rimba itu hancur berkeping-keping. Sungainya keruh, dipaksa menelan remah-remah abu. Tanaman terkapar setelah dibuai-buai bayu semalam. Burung, kupu-kupu? Justru desir mencekam yang terhidang.

Satu hal manis yang dirindukannya dalam rimba ini adalah nuansa ketika dia bercengkrama dengan ujung warna pelangi. Melalui pelangi, si Gundul dapat mengetahui cerita Matahari. Sebenarnya dia ingin berbincang langsung dengan Matahari. Dia ingin mendengarkan kisah-kisahnya dalam menerangi negeri. Tapi setiap singgah di tepian sungai, si Gundul melihat pantulan tubuhnya yang tidak bermahkota. Jika tanpa mahkota, mungkinkan Matahari mau bersua?

Sekarang dimana pelangi? Dia ingin menyampaikan salam untuk Matahari. Dia ingin mengabari bahwa seluruh negeri merindukannya. Semuanya sedang membutuhkan cahaya.

Di sela edaran pandangannya, si Gundul melihat sekelebat warna. Samar. Diusap matanya berulang kali agar semakin jelas penglihatannya. Merah, kuning, hijau. Benar itu pelangi! Matahari masih di sini. Sinarnya tampak terurai oleh air yang terjebak di cekungan sebuah pohon yang tumbang. Si Gundul mengayuhkan kakinya perlahan agar semakin dekat dengan warna itu. Tetapi semakin dia melaju, warna itu semakin bias, seolah tak mau ditemui.
Lekas dia berbalik ke tempat para jelata berkerumun. Lihai dia mengisahkan tentang apa yang ditemuinya tadi. Semuanya terdiam. Tidak ada yang peduli dengan celoteh si Gundul. “Jika kalian tidak percaya, ayo ikut denganku!”

Seseorang dari mereka akhirnya menyahut, “Gundul, Gundul! Kau ini mimpi! Jangan suguhkan kami angan-angan lagi! Biarkan kami lelap saja, tanpa mimpi, tanpa bangun lagi!”

Seorang yang lain justru ketus menyodorkan serpihan kaca yang cukup besar, “Ini untukmu, Gundul! Aku tidak menemukan cermin. Tapi setidaknya lewat kaca ini bayanganmu bisa terlihat. Raja saja sudah diabaikan oleh Matahari. Bagaimana denganmu yang tak punya mahkota?”

Si Gundul menyambut kaca itu dengan seringai tipis, “Terima kasih untuk kaca ini!” Lantas dia pergi ke hutan lagi.
Sudah diduganya, warna itu kini hilang sempurna. Matahari pasti mencari tempat persembunyian lain. Si Gundul lalu berkeliling sambil membawa kaca itu. Pada suatu titik dia menemukan berkas-berkas warna. “Aku tahu kau masih di sini, Matahari. Aku ke sini untuk negeriku. Seperti kau yang bersinar untuknya. Aku tidak punya mahkota, tapi kau bersinar tidak untuk membuat raja bangga akan mahkotanya yang berkilau karenamu, bukan? Biarkan aku berbuat secuil saja untuk negeriku, meski hanya mengobarkan pengharapan akan sinarmu. Bersinarlah kembali di atas negeri kami. Biar saja Tuhan mengambil apa yang ingin diambil-Nya. Tapi aku percaya bahwa Tuhan tidak akan mengambil asa kami. Bukankah kau juga tidak mau merenggut angan kami? Terbitlah kembali dan terangi lagi semua mimpi!”

Serentak sinar berpendar di segara diikuti juntaian pelangi. Negeri bercahaya kembali.

Komentar