Artikel Featured

Ada Apa Dengan Transnangor?

Transnangor, keberjalanannya rawan penghentian sewaktu-waktu. Mengapa transportasi antarkampus ini seringkali bermasalah?

Sistem multikampus ITB telah melahirkan masalah mobilitas para mahasiswa, yakni mobilitas antara kampus Ganesha dan Jatinangor. Masalah ini menjadi masalah yang patut dipertimbangkan, sehingga untuk meringankannya, dihadirkanlah sebuah armada transportasi bernama Transnangor. Transnangor dihadirkan karena urgensi para mahasiswa sendiri, tentunya berhubungan dengan akademik dan non akademik.

Transnangor memiliki tiga jadwal pulang pergi setiap harinya selama masa kuliah dengan waktu perjalanan kurang lebih 45 menit. Jadwal paling pagi berada pada pukul 06.45 WIB dari Ganesha dan pukul 08.00 WIB dari Jatinangor, sementara jadwal paling petang berada pada pukul 17.00 dari Ganesha dan pukul 18.30 dari Jatinangor. Menurut ketua TEC, Azmi KL’13, dengan jadwal ini Transnangor telah dapat memenuhi kebutuhan akademik mahasiswa, tetapi kebutuhan non akademik masih belum dapat terpenuhi. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya biaya yang disediakan. TEC selaku unit yang mengatur keberjalanan Transnangor mengaku bahwa biaya yang digunakan sudah sangat maksimal dari anggaran yang disediakan setiap tahunnya.

Pendanaan memang menjadi masalah mendasar bagi TEC dan KM ITB dalam menjalankan program Transnangor ini. Hingga sekarang, proses pencairan dana masih didahului oleh pengajuan proposal dari TEC ke pihak LK ITB. Setelah itu baru dana dapat dicairkan. Namun proses pencairan dana ini dinilai terlalu memakan waktu yang lama oleh TEC, akibatnya Transnangor sempat tidak beroperasi selama satu minggu, dan menyebabkan kabar miring di kalangan mahasiswa bahwa Transnangor sudah jarang beroperasi.

Berbagai sistem telah dicoba oleh TEC untuk meminimalisir dana yang dibutuhkan. Oleh sebab itu Transnangor sempat beberapa kali mengalami perubahan sistem. Pada awalnya transnangor ITB bekerja sama dengan Geulis Travel, sebuah unit transportasi antarkota. Pada saat bekerja sama dengan Geulis Travel ini, Transnangor ITB memberikan subsidi sebesar sepuluh ribu rupiah untuk setiap mahasiswa sehingga hanya dengan lima ribu rupiah saja, mahasiswa ITB sudah dapat melakukan perjalanan Jatinangor-Ganesha dan Ganesha-Jatinangor.

Sebuah kerja sama tentunya membawa keuntungan serta kerugian bagi masing-masing pihak yang bersangkutan. Keuntungan yang diperoleh pihak Transnangor ITB salah satunya adalah jadwal keberangkatan yang cukup banyak, yakni lebih dari tiga jadwal dalam sehari. Juga, pada saat menggunakan Geulis Travel, mahasiswa yang menjadi penumpang dapat dijemput di tempat. Tetapi, ada beberapa kendala yang dihadapi pihak Transnangor ITB saat bekerja sama dengan Geulis Travel. Diantaranya adalah mahal di ongkos, kebocoran sistem sehingga yang mendapatkan subsidi bukan hanya mahasiswa ITB, dan juga kurang disetujui oleh rektor dengan alasan bahwa ITB mampu menyediakan unit transportasi  sendiri. Dengan alasan-alasan inilah kerja sama antara Transnangor ITB dan Geulis Travel hanya dapat bertahan selama tiga hingga empat bulan.

Setelah kerja sama dengan Geulis Travel berakhir, Transnangor ITB memiliki unit transportasi sendiri yang disponsori oleh Bank BRI dan gratis untuk seluruh mahasiswa ITB. Program gratis ini sempat dihentikan oleh TEC dengan anggapan bahwa penghentian ini dapat meminimalisir pendanaan. Saat program gratis dihentikan, penumpang harus membayar ongkos senilai lima ribu rupiah untuk sekali jalan. “Tetapi saat program berbayar dilakukan, penumpang transnangor malah semakin berkurang, sehingga tujuan dari adanya transnangor tadi tidak tercapai,” ujar Azmi KL’13. Karna hal itu, hingga kini Transnangor digratiskan untuk seluruh mahasiswa ITB.

Permasalahan Transnangor sebenarnya bukan hanya terletak pada pendanaannya saja, tetapi juga pada birokrasi rektor. Menurut ketua TEC sendiri, pihak rektor belum terlalu memikirkan masalah keberjalanan Transnangor ini. Masih terjadi persilangan pendapat di ranah rektorat, apakah adanya Transnangor ini hanya membuang-buang uang, atau memang efektif untuk mahasiswa ITB sendiri. “Sejauh ini sih efektif banget, terutama buat anak nangor,” ujar Azmi. Persilangan pendapat ini pun kabarnya belum mendapatkan jalan tengah. Meskipun begitu, menurut Azmi, ada kemungkinan bahwa Transnangor akan menambah unit transportasi lagi, “Tetapi masih bimbang harus menambah bus atau shuttle, karena sejauh ini sebenarnya unit Transnangor yang sudah ada masih terbilang kurang memadai,” ujar Azmi lagi.

Harapan dari TEC tentunya menginginkan pihak rektorat ITB benar-benar ikut campur dalam keberlanjutan Transnangor ini. TEC menginginkan pendanaan dan birokasi rektor tidak menjadi masalah lagi, dan Transnangor dapat ditempatkan dibawah naungan sarpras sehingga dananya sudah jelas untuk setiap tahunnya dan tidak perlu mengajukan proposal untuk pencairan dana. [Renica]

Komentar