Artikel Featured

Jatinangor Turut Mendengar dan Didengar

Keriuhan Pemira K3M-ITB tidak hanya dirasakan oleh massa ITB di Kampus Ganesha. Semalam rombongan panitia pemira, calon-calon K3M, dan para tim suksesnya menyambangi Kampus ITB Jatinangor.

Jatinangor Turut Mendengar dan Didengar Lewat Hearing Calon K3M-ITB Zona Jatinangor

Keriuhan Pemira K3M-ITB tidak hanya dirasakan oleh massa ITB di Kampus Ganesha. Semalam rombongan panitia pemira, calon-calon K3M, dan para tim suksesnya menyambangi Kampus ITB Jatinangor. Hearing kali ini tentunya berjalan sedikit berbeda dengan hearing di Kampus Ganesha. Massa Jatinangor antusias menunggu gebrakan baru dari masing-masing kandidat K3M untuk Kampus Jatinangor yang rasanya kurang seriuh Kampus Ganesha.

[URIS id=1146]

Kamis, 19 November 2015, selasar TB2 Asrama ITB Jatinangor mendadak ramai. Para mahasiswa yang biasanya bergerombol bersama terman seprodinya untuk mengerjakan tugas kuliah, kini duduk bersama dalam suatu acara. Ya, hearing calon K3M-ITB akhirnya terlaksana di Kampus ITB Jatinangor. Acara ini dimulai pukul 19.30 WIB, mundur setengah jam dari jadwal yang semestinya. Namun, kuorum pada malam hearing tersebut dapat terpenuhi oleh masing-masing lembaga. Hearing calon K3M-ITB yang dihadiri oleh massa HIMAREKTA ‘Agrapana’, HMRH, HMH ‘Selva’, HIMASDA, dan KMIL berjalan lancar dengan panduan Paulinus (BA’12).

Angga Fauzan (DKV ’12), calon K3M-ITB nomor urut satu mendapat giliran pertama untuk memaparkan visi dan misinya. Seperti pada hearing-hearing sebelumnya, Angga juga menggaungkan visinya yaitu Satu KM-ITB yang Sinergis dan Bersemangat dalam Berkarya untuk Menginspirasi Indonesia untuk memikat massa Jatinangor. Visi tersebut akan diimplementasikan dalam lima program kerja  unggulan yang diusulkannya. Sebagai calon K3M-ITB, Muhammad Mahardhika Zein juga memaparkan visinya, yaitu KM-ITB Sebagai Simpul Aksi untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa. Lima program kerja unggulan juga dicanangkan oleh Dhika.

Usai penjelasan visi dan misi dari masing-masing calon, dilakukan sesi tanya jawab. Massa Jatinangor lebih banyak bertanya perihal penanganan masalah yang dialami di Kampus ITB Jatinangor. Mengenai wujud konkret dari sinergisasi Kampus Ganesha-Jatinangor, Angga akan menempatkan Deputi di Kampus ITB Jatinangor. Selain itu, Angga juga akan memberikan pelayanan advokasi untuk pemenuhan kebutuhan mahasiswa dan melakukan riset tentang potensi yang ada di Jatinangor. Sementara itu, dalam menyinergiskan Kampus Ganesha-Jatinangor, Dhika akan melakukan pemenuhan kebutuhan dasar, pendekatan secara top down  dan bottom up, serta pembenahan portal informasi agar informasi dari kedua kampus dapat tersebar secara baik.

Lagi-lagi massa melemparkan isu tentang sinergisasi KM-ITB. Kembali Dhika menjelaskan sinergisasi yang akan dilakukannya adalah dengan membuat suatu isu bersama dan menjadikan isu tersebut sebagai program kerja kabinet dan HMJ. Di lain hal, Angga akan mengusahakan advokasi agar KM-ITB dapat bergerak bersejalan. Sinergisasi ini akan diimplementasikan dalam karya-karya yang sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing anggota dengan memandang kebutuhan masyarakat dan juga kebijakan pemerintah.

Salah satu kebutuhan krusial bagi mahasiswa ITB Jatingor adalah transportasi berupa bus Transnangor. Seperti yang telah kita ketahui, Transnangor memiliki banyak kendala dalam keberjalanannya. Ditanya tentang hal ini, kedua calon lagi-lagi menawarkan solusi yang berbeda. Dhika akan mengusahakan biaya operasional Transnangor agar dapat beroperasi hingga hari Sabtu melalui program duduk bareng rektorat. Koin untuk Transnangor adalah usaha lain yang dicetuskannya sebagai bentuk sindiran jika kesepakatan fasilitas Transnangor tidak disetujui oleh rektorat. Lain halnya dengan program yang dilontarkan Angga. Angga mengungkapkan tiga masalah yang dialami oleh Transnangor, yaitu mengenai pembiayaan, supir, dan armada. Masalah-masalah tersebut rencananya akan diselesaikan dengan sinergisasi lembaga internal dan eksternal kampus. Angga lebih condong untuk bekerja sama dengan sponsor dalam menjalankan Transnangor.

Para calon juga diuji pengetahuannya oleh seorang massa mengenai himpunan-himpunan yang ada di Jatinangor. Setiap calon menceritakan dengan apa-apa yang diketahuinya mengenai himpunan di Jatinangor, seperti keilmuan tiap himpunan, program kerja besar yang diadakan oleh himpunan, dan beberapa kondisi yang sedang dialami oleh himpunan-himpunan baru ini. Salah seorang massa juga menanyakan tentang kesediaan para calon untuk tetap mengenal Jatinangor apabila tidak terpilih sebagai K3M-ITB. Angga menyatakan akan tetap menyambangi Jatinangor walau mungkin tidak seintens jika dia terpilih. Angga juga menekankan pada massa Jatinangor untuk turut berpartisipasi jika dia mengadakan suatu acara di Jatinangor meskipun Angga tidak terpilih. Dhika menyampaikan hal yang hampir sama. Bentuk kesediaannya untuk tetap mengenal Jatinangor meski tidak terpilih adalah dengan berpartisipasi dalam acara yang ada di Jatinangor dan mengusahakan program kerjanya, yaitu “Sore Bersama”, agar bisa tetap terlaksana.

Mengenai ITB Multikampus, Dhika berpendapat bahwa multikampus merupakan suatu kondisi ITB yang memiliki dua kampus. Keadaan yang demikian merupakan suatu peluang untuk ITB agar dapat saling merasakan dan saling memanfaatkan kampus-kampus yang ada. Sedangkan menurut Angga, multikampus merupakan suatu kondisi ‘jauh di mata, dekat di hati’. Multikampus ini adalah suatu kontribusi ITB yang diperluas untuk masyarakat Indonesia.

“Apakah menurut kalian massa Jatinangor itu penting untuk KM-ITB? Kalo penting, pentingnya tuh apa?”, seorang massa melempar sebuah pertanyaan kepada para kandidat. Angga dan Dhika menjawab dengan yakin bahwa massa Jatinangor penting bagi KM-ITB. “Jatinangor tuh penting, tapi ada ‘jika’-nya. Yang pertama jika mau mengoptimalkan potensinya. Kemudian mau saling sinergis dan di masa depan mau memperbaiki Indonesia,” ujar Angga. Di sisi lain, Dhika berkata bahwa massa Jatinangor ataupun Ganesha sama pentingnya. KM-ITB ini ada untuk anggotanya dan berdampak sangat baik bagi mahasiswa setelah lulus nanti.

Di akhir hearing, massa Jatinangor memberikan tantangan bagi para calon K3M-ITB untuk membuat sebuah aksi kreatif untuk memperkenalkan kemahasiswaan ITB Jatinangor kepada seluruh massa KM-ITB. Aksi ini dapat dilakukan dengan bentuk apapun dan dipublikasikan kepada massa kampus lewat akun official line masing-masing calon dan akun official line pemira. Tantangan ini harus sudah terlaksana saat hearing TPB. Sebelumnya, para calon juga telah mendapat tantangan dari seorang massa saat hearing di Labtek Biru untuk menghadirkan 1800 massa TPB saat hearing TPB hari Minggu nanti. Apakah para calon sanggup untuk merealisasikan tantangan-tantangan dari massa kampus ini?

Pada pernyataan terakhirnya, Angga sekali lagi menekankan tentang persatuan untuk menggerakkan Indonesia, “dan itu terwujud bukan lewat satu obor di Jakarta, tapi lewat lilin-lilin kecil di setiap desa di Indonesia,” pungkasnya. Dhika juga memberikan apresiasinya kepada massa Jatinangor di akhir penuturannya karena hearing Jatinangor adalah hearing  yang pertama kali kuorum. Satu hal yang ditekankan oleh Dhika, yaitu tentang keberanian, “karena berani, mimpi-mimpi dapat terealisasi,” ujarnya.

Tanggapan Massa Jatinangor

Perbedaan sifat dan cara pandang kedua calon sangat dirasakan oleh massa Jatinangor. “Yang satu persuasif, yang satu kurang persuasif. Yang satu lebih kenal ‘Nangor, yang satu kurang,” ucap Viki (BA’12). Namun, menurut Viki juga, massa Jatinangor sudah partisipatif dalam pemira ini dan hearing Jatinangor tahun ini lebih ramai dari pada tahun kemarin. Rafida (TPSDA ’14) juga berpendapat, “awalnya seru, tapi aku lama-lama ngantuk. Harapannya para calon lebih kenal lagi sama ‘Nangor biar waktu terpilih nanti bisa menyelesaikan masalah yang ada di sini.” Rafida juga mengutarakan harapannya agar acara-acara besar KM-ITB juga dilaksanakan di Jatinangor, tidak hanya di Kampus Ganesha. [alcaristia]

Komentar