Artikel

Area Merokok di ITB, Layak?

Perlu adanya peninjauan lebih lanjut terkait penempatan area merokok. Namun, penempatan area khusus merokok akan hanya memanjakan perokok. Sebaiknya memang tidak perlu lagi adanya tempat khusus merokok.

Casmika Saputra | 10212001
casmikasaputra@gmail.com

Tuhan Sembilan Centi

“… Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita …”
-Taufik Ismail-

Picture1
Teringat dengan kutipan puisi Taufik Ismail, semua orang menjadi perokok. Sebagian menjadi perokok aktif dan yang lainnya ikut terkena dampak sebagai perokok pasif. Ribuan jurnal ilmiah telah mengulas rokok, tak ada satu pun berkesimpulan rokok baik untuk kesehatan. Rokok terbukti tidak memberikan manfaat baik. Label dan gambar pada poster dan bungkus rokok pun berkata demikian, bahkan tertulis ancaman (rokok membunuhmu). Namun, rokok telah menguasai perokok dan menjadi “dewa” bagi perokok. Dampak rokok tidak hanya di tanggung perokok aktif, perokok pasif pun kerap merasakan dampaknya. Hal ini disebabkan perokok egois, tidak disiplin, dan menganggap berhak. Egois, mengapa demikian? Asap rokok dapat menyebar dan mengotori udara (polusi). Tidak disiplin, mengapa demikian? Peraturan pelarangan merokok di tempat umum tidak dihiraukan perokok. Menganggap berhak, mengapa demikian? Rokok sama sekali bukan hak dasar warga negara Indonesia.

Mahasiswa yang konon katanya kaum terpelajar, intelek, berintegritas pun nyatanya masih sering penulis temui merokok di sembarang tempat. Bahkan lebih parahnya lagi, pernah penulis pergoki panitia orientasi mahasiswa jurusan (HMJ) ITB merokok di depan juniornya saat kegiatan berlangsung.

ITB masih menjadi kampus perokok, sebab masih disediakannya area khusus perokok. Namun, area khusus merokok di ITB tidaklah layak dan asap rokok masih berisiko terhirup oleh orang lain. Mengapa demikian? Area khusus merokok di ruang terbuka membuat asap rokok tersebar di udara dan memerlukan area yang cukup luas agar menjamin asap rokok lenyap.

PENYEBARAN ASAP ROKOK

Lalu bagaimana perokok dapat merokok tanpa mengganggu bukan perokok? Salah satu yang dianggap solusi adalah dengan merokok di ruang/area khusus merokok. Benarkah? Salah satu area khusus merokok di ITB bertempat di ruang terbuka hijau, dekat aula barat dan lapangan basket, gambar 2. Penempatan area ini tergolong buruk karena ada risiko asap rokok mampu menyebar hingga ke tempat olah raga.

Picture2

Penyebaran asap rokok dapat dimodelkan sebagai difusi dan adveksi. Difusi merupakan penyebaran akibat perbedaan konsentrasi dan adveksi disebabkan oleh angin.

formula 1

Gambaran hasil pemodelan penyebaran asap diperlihatkan pada gambar 3.

Picture3

Gambar 4 menjelaskan bahwa dengan laju angin horizontal membuat jangkauan penyebaran rokok lebih jauh. Artinya jarak aman dari area khusus merokok harus dievaluasi terhadap laju angin. Seperti yang dikutip dalam Liputan6.com (14/08/2013), untuk menghindari bahaya asap rokok, satu studi mendeteksi agar tidak menghirup asap rokok dari perokok butuh jarak sejauh 44 meter.

Picture4

Maka, perlu adanya peninjauan lebih lanjut terkait penempatan area merokok. Namun, penempatan area khusus merokok akan hanya memanjakan perokok. Sebaiknya memang tidak perlu lagi adanya tempat khusus merokok. Serta penegasan kembali larangan merokok di dalam kampus (tempat umum).

Referensi:

Yongzhe, Xu., dkk. Simulation of Smoke to Improve Unity 3D Game Engine Particle System Based on FDS. SoftTech 2013, ASTL vol. 19, pp. 183 – 186

Onate, Eugenio. Derivation of Stabilized Equation for Numerical Solution of Advective-Diffusive Transport and Fluid Flow Problem. Comput. Methods Appl. Mech. Engrg. 151 (1998) 233-265

http://health.liputan6.com/read/664517/butuh-jarak-44-meter-hindari-asap-dari-para-perokok

Komentar