Artikel Featured

Kupas Tuntas Pemira 2015/2016: Wajah Mereka

Pesta demokrasi di kampus ITB sedang berlangsung, dari distrik-distrik hingga pusat dengan sistem politik yang beragam. Bagaimana dengan Pemira? Pemira dari masa ke masa memiliki kisahnya tersendiri. Tahun ini, Pemira diwarnai dengan adanya lima bakal calon yang mengambil berkas, tiga bakal calon mengembalikan berkas. Lalu saat verifikasi, sempat memberikan hasil akhir tidak ada bakal kandidat yang lulus, hingga keputusan dikembalikan kepada kongres. Setelah verifikasi ulang, akhirnya menyisakan dua bakal kandidat, mereka adalah Angga Fauzan (DKV’12) dan Mahardhika Zein (SI’12).

Kupas Tuntas Pemira 2015/2016 bagian pertama: Wajah Mereka

image

image

Masih segar di ingatan kita atas kegagalan Pemira tahun lalu, hingga perlu dibentuk kepanitiaan baru dan ditetapkan PJS K3M ITB. Dua tahun lalu, Panitia Pelaksana digugat oleh salah seorang bakal kandidat yang merasa adanya cacat hukum. Tiga tahun lalu, kedua calon kandidat didiskualifikasi saat pemungutan suara telah dilaksanakan (selengkapnya dibahas dalam Boulevard edisi 75). Lalu, bagaimana cerita Pemira kali ini?

Dalam keberjalanannya, tentu ada saja hal yang mengancam Pemira diulang dan semacamnya. Namun, Pemira tahun ini sudah lebih kondusif dibanding Pemira-Pemira sebelumnya.

Kegagalan Pemira tahun lalu, diakui Angga yang merupakan ketua pelaksana, menjadi awal baginya untuk merenung apa yang sekiranya menyebabkan hal demikian dapat terjadi. Selain itu, Angga dalam wawancaranya dengan Boulevard ITB mengatakan Ia juga memperhatikan bahwa banyak yang harus dibenahi mulai dari sistem hingga partisipasi massa KM ITB. Di tengah kegundahannya, Angga berdiskusi dengan Anjar, Presiden KM ITB 2012/2013. Banyak petuah dari Anjar yang akhirnya membuat Angga memutuskan untuk menjadi seorang penggerak. Itulah satu refleksi bagi Angga yang cukup berpengaruh dalam keputusannya dalam mencalonkan diri menjadi K3M ITB.

Sementara Dhika, ajang OSKM merupakan refleksi terbesarnya dalam memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di kampus ini. Menjadi ketua OSKM, membuatnya banyak berdiskusi dengan berbagai elemen KM ITB. Dari sana dia mendapatkan banyak wawasan tentang KM ITB, tanggung jawab, potensi, serta manfaatnya. Dhika berprinsip bahwa manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Manfaat itu bisa bertambah besar ketika seseorang memiliki suatu pengaruh.

Angga, calon kandidat nomor 1, membawa jargon Bersatu, Berkarya, Menginspirasi dengan hashtag #1 KM-ITB Beraksi. Menurutnya, ini adalah satu kesatuan. Bersatu sebagai KM ITB, lalu berkarya dalam memberikan solusi setiap masalah, hingga akhirnya dapat menginspirasi, menjadi teladan, sehingga dapat benar-benar dikatakan sebagai putra-putri terbaik bangsa. Dhika pun membawa kata Aksi dalam kalimat penyemangatnya ini, dengan jargon Berani Aksi untuk Aksi Berani, “KM-ITB memiliki banyak gagasan dan impian. Hanya keberanian yang membatasi angan-angan itu dengan kenyataan. Oleh karena itu, KM-ITB harus berani beraksi dan bergerak mengaktualisasikan mimpi dan gagasannya,” tutur Dhika.

Menjadi seorang pemimpin berarti harus mengenal lebih jauh objek yang akan dipimpinnya. Karena itu, karakter mahasiswa akan memiliki peranan besar dalam menentukan berhasil tidaknya pergerakan nanti. Menurut Dhika, berdasarkan data-data OSKM, mahasiswa saat ini lebih suka dengan hal-hal yang instan, termasuk saat mendapatkan informasi. Sehingga mereka lebih memilih menatap layar telepon pintar daripada duduk di dalam forum dan berdiskusi. Padahal informasi yang beredar di media sosial tidak cukup untuk menginisiasi sebuah pergerakan.

Senada dengan Dhika, menurut Angga karakter mahasiswa merupakan salah satu masalah utama KM ITB. Menurutnya, karakter proaktif penting ditanamkan dalam diri mahasiswa, sehingga isu-isu yang ada tidak hanya dikritik, melainkan juga dicarikan solusinya hingga tuntas. Selain proaktif, karakter utama yang dibentuk dari mahasiswa adalah sifat rendah hati. Mahasiswa ITB harus menurunkan arogansinya, berpikir setinggi langit tetapi tetap membumi. 

Karakter-karakter ini dibentuk dari kaderisasi aktif dan pasif. Kaderisasi pasif yang diselenggarakan secara eventual dari setiap lembaga, dan kaderisasi aktif ketika mahasiswa benar-benar merasakan proses berkarya di masyarakat.

Selain menganalisis kondisi mahasiswa dan kemahasiswaan ITB, kedua calon juga belajar dari kabinet-kabinet terdahulu, utamanya kabinet dibawah pimpinan Garry,  Presiden KM ITB 2015. Keduanya berpendapat bahwa singkatnya waktu kepengurusan, kabinet Garry sudah memberikan pondasi yang kuat. “GIB (Ganesha Investment Book, -red) dan Open Data adalah pondasi yang baik. Visi Garry semasa kampanye yaitu menjadikan KM ITB sebagai jembatan, saya rasa ini sudah mulai terealisasi, sinergisasi berjalan lewat acara-acara besar dan program kerja yang tujuannya tercapai,” ujar Angga. Senada dengan Dhika ketika diwawancarai di tempat yang berbeda, “Urusan internal kabinet Garry sudah lebih baik daripada kabinet-kabinet sebelumnya.”

Lalu apa yang perlu dibenahi?

Dengan begitu, bukan berarti kabinet Garry adalah kabinet yang sempurna. Dhika berpendapat bahwa forum, diskusi, dan kajian yang diadakan elemen KM-ITB ada banyak, tapi tidak ada output yang dipersembahkan ke masyarakat. Kedua calon mengimplementasikannya ke dalam program kerja unggulan mereka masing-masing.

Angga mengusung GMTT (Ganesha Merangkai Titik Temu). Dalam pelaksanaannya, GMTT akan sejalan dengan Student Summit yang dicanangkan kongres. KM ITB sebagai lembaga sentral mahasiswa akan melakukan pemetaan potensi dari lembaga internal ITB. Lalu dalam pengembangannya, KM ITB akan bekerja sama yang bisa dibangun dengan lembaga eksternal kampus.

Sementara itu, Dhika mengunggulkan Gerigi (Gerakan Sinergi ITB), dengan definisi tak jauh berbeda dengan GMTT dan Student Summit. “Gerigi berusaha mensinergiskan kemahasiswaan di ITB. Sinergis disini berarti adanya kesamaan arah gerak. Dimana pergerakan dilakukan bersama-sama tapi dengan metode keilmuan masing-masing. Dengan menentukan arah gerak yang sama, dampak yang ditimbulkan akan terasa lebih besar,” ujar Dhika. Program kerja lainnya dari kedua kandidat dapat dilihat di sini dan notula-notula hearing.

(bersambung)

Komentar