Berita Featured

KOTAK: Ketika Obsesi Tak Akur dengan Kenyataan

Bukankah alam semesta diciptakan untuk memenuhi kesejahteraan manusia? Bukankah kami hanya memanfaatkan apa yang alam sediakan untuk kami?

MAIN GEDHE 2015:

KOTAK

Oleh: Nida An Khofiyya 19915122 dan Rayi Ruby 19915006

[URIS id=1192]

Bukankah alam semesta diciptakan untuk memenuhi kesejahteraan manusia? Bukankah kami hanya memanfaatkan apa yang alam sediakan untuk kami?

‘Main Gedhe’ yang diselenggarakan oleh Unit Loedroek kembali hadir pada Sabtu (28/11/15) lalu. Acara tahunan ini ternyata menarik banyak minat pengunjung ITB, baik mereka yang merupakan massa kampus maupun yang berasal dari luar Kampus ITB. Minat penonton yang tinggi terbukti dari ramainya antrean di depan Aula Barat, tempat di mana ‘Main Gedhe’ digelar, beberapa menit sebelum panitia melakukan open gate. Kurang dari 15 menit setelah open gate, Aula Barat sudah dipenuhi oleh para penonton yang ingin menyaksikan pagelaran berjudul ‘KOTAK (Ketika Obsesi Tak Akur dengan Kenyataan)’ ini.

Tidak hanya penonton, semerbak bau roti panggang pun turut memenuhi ruangan Aula Barat yang malam itu hanya bercahayakan lampu-lampu sorot berwarna-warni. Panitia ‘Main Gedhe’ memang telah menyediakan stan-stan makanan bagi para pengunjung yang lapar atau hanya sekadar butuh panganan sebagai teman menonton. Suasana merakyat begitu kental pada acara hiburan yang berasal dari daerah Jawa Timur ini. Penonton yang telah duduk sila di lantai, beberapa mulai menyeduh mie instan yang juga dijual oleh panitia.

Pagelaran dibuka dengan penampilan Tari Remo yang sangat ‘ciamik’, mengutip istilah presenter yang memandu jalannya acara malam itu. Alunan musik gamelan merdu mengiringi gerakan-gerakan lugas penari.

Usai penampilan tari, acara dilanjutkan dengan ‘Kidungan’ yang dibawakan oleh dua lakon bernama Danang dan Rocky. Kidungan yang dinyanyikan kedua lakon berisi isu-isu terkini baik seputar ITB maupun hal-hal di luar Kampus ITB. Lirik-lirik kidung sukses mengocok perut para penonton. Tawa penonton berkali-kali pecah usai Rocky dan Danang menyelesaikan bait-bait kidung yang sangat tajam dan menggelitik. Kidungan usai, Rocky dan Danang pun pamit undur diri.

Untuk memulai acara selanjutnya, pemandu acara mempersilakan seorang wanita berparas ‘cantik’ untuk naik ke atas pentas. Sesaat kemudian muncullah pria berbusana wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Feny Roso, pemandu acara gosip yang sangat populer di zamannya. Feny kemudian mengundang beberapa artis cantik ibukota. Mereka adalah Isyana Saras 008 dan Celsi is Fun yang tak lain juga merupakan pria berbusana wanita. Aksi ketiganya berhasil mengurai tawa penonton. Tak lama, muncul kembali sosok pria berbusana wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Yayu, seorang satpam. Lampu meredup, keempat lakon pun turun pentas.

Acara utama ‘Main Gedhe’ akhirnya dimulai. Sesuai dengan judul ‘Main Gedhe’ tahun ini, acara utama pun berkisah mengenai seorang profesor yang menciptakan alat bernama ‘KOTAK’. Alat ini dapat mengubah benda-benda yang dimasukkan ke dalamnya menjadi benda-benda yang bernilai tinggi. Alat ini kemudian diperkenalkan kepada penduduk suatu desa guna memberdayakan sumber daya yang ada di desa tersebut. Singkat cerita, kerusakan mulai muncul setelah warga desa menggunakan alat tersebut untuk memenuhi kesejahteraan mereka semata-mata. Jin penguasa udara dan jin penguasa tanah datang untuk menghukum para perusak alam tersebut. Warga desa menolak dihukum. Mereka berdalih bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain dan tidak bukan adalah demi kebaikan umat manusia. Perkelahian pun terjadi antara penghukum dan yang dihukum.

Beberapa isu terkini yang dilemparkan pada pagelaran ‘Main Gedhe’ antara lain mengenai pemilihan K3M ITB, ospek jurusan, kegiatan mahasiswa, fasilitas kampus, dan lain sebagainya. Akan tetapi, isu inti yang hendak disampaikan melalui para lakon ‘Main Gedhe’ tahun ini adalah mengenai kerusakan alam yang terjadi di bumi Indonesia, tepatnya tragedi asap di Riau.

Malam semakin larut, jumlah penonton pun kian berkurang. Sepanjang jalannya acara utama banyak tempat-tempat yang awalnya diduduki kini kosong. Aula Barat mulai terasa ‘longgar’ kembali. Sebelum pagelaran disudahi, pemandu acara mengundang dua penonton naik ke atas panggung. Satu di antaranya ternyata berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia. Ini menandakan bahwa ‘Main Gedhe’ berhasil menarik perhatian massa non-Kampus ITB. Pada awal acara, pemandu acara pun mempersilakan seorang penonton yang berasal dari Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran untuk naik ke panggung. Penonton tersebut berujar bahwa dengan menyaksikan ‘Main Gedhe’, sebenarnya ia sedang berusaha mengapresiasi budaya Indonesia.

“Karena denger-denger dari yang udah pernah nonton sih rame, jadi pengen tau dan emang beneran rame,” ujar Mahbub Ridho Maulaa (SAPPK 2015), salah satu penonton pagelaran persembahan Unit Loedroek ITB ini. Ditanyai mengenai kesannya selama pertunjukkan, Mahbub menyampaikan, “Lucu, keren walau agak fail soundnya tapi bisa diatasi dengan baik.” Terakhir, Mahbub berpesan untuk ‘Main Gedhe’ selanjutnya, “Makin rame lagi, makin heboh, makanannya digratisin dong hehehehe.”

Komentar