Artikel Featured

Kupas Tuntas Pemira 2015/2016: Cerita Mereka

Kedua kandidat K3M bercerita soal hearing, masa, dan harapan mereka untuk masa depan. Buatlah pilihanmu dengan cermat, jadilah pemilih yang cerdas.

Dibalik tingginya ‘nama’ seseorang, biasanya terdapat orang-orang hebat dibaliknya. Angga dan Dhika memiliki kriteria tersendiri dalam menyusun tim. Dhika memiliki 12 orang promotor dan 54 tim sukses yang tersebar dalam 39 prodi. Sedangkan Angga, dia memaparkan bahwa timnya belum lama terbentuk, banyak orang-orang yang baru ia kenal selama proses Pemira. Baginya, salah satu tantangan selama Pemira adalah bagaimana cara untuk memenangkan hati timnya sendiri. Saat hearing zona timur jauh, Angga disindir karena timnya bukan orang-orang yang cukup populer di kalangan massa kampus. Satu hal yang penting baginya saat merekrut orang untuk bergabung, yaitu keinginan untuk sama-sama bergerak.

14487053013352015-12-03_200246

Hearing- hearing yang telah berlalu memberikan kesan tersendiri bagi Angga dan Dhika. Mereka menilai massa dari macamnya pertanyaan yang dilontarkan. Angga menyoroti bahwa masih banyak massa kampus yang lebih senang menyudutkan dibanding saling membangun. Menurutnya, massa kampus juga lebih menekankan pada teknis, padahal konsep adalah hal paling mendasar yang harus dikembangkan semasa hearing. Sementara itu, Dhika mengakui kesulitan dalam mendengarkan pandangan yang beragam dari setiap massa. Menurutnya, sukar untuk mengiyakan dan menyenangkan hati setiap orang. Dhika menambahkan, pertanyaan teknis sulit dijawab dengan konkret, dia merasa lebih perlu menyiapkan gagasan dan strategi agar ada titik temu antara apa yang diinginkan massa kampus dengan apa yang dipersiapkan.

Namun, diluar sikap massa kampus yang sulit ditanggapi, Angga dan Dhika mengaku menggunakan banyak masukan untuk menyempurnakan konsep mereka. Angga menerima satu masukan besar dari seorang mantan ketua unit setelah hearing Sunken. “Dia bilang, pokoknya kamu tuh harus jadi presiden mahasiswa. Rakyat kamu tuh mahasiswa, kamu harus memperhatikan rakyat kamu,” tuturnya. Ketika itu, muncul pertanyaan bagaimana mengatasi birokrasi dengan rektorat, K3L, dan pemutus kebijakan lainnya yang kini semakin rumit. Pada saat itu, Angga dan Dhika memberikan jawaban yang kurang memuaskan bagi massa Sunken. “Masukan-masukan tersebut dikaji kembali untuk menyempurnakan gagasan, tetapi dengan visi dan misi tetap tidak berubah,” tambah Dhika.

Hearing Sunken merupakan salah satu hearing yang cukup disoroti. Jika diamati, kertas-kertas propaganda hearing Sunken tidak memiliki cap Pemira, karena sebenarnya hearing tersebut tidak diselenggarakan oleh panitia pelaksana Pemira. Menurut panitia, tidak semua unit menginginkan adanya hearing. Namun Angga dan Dhika menyadari perlunya diadakan hearing Sunken karena selain himpunan, unit juga memiliki peran yang besar dalam gerakan kemahasiswaan di ITB. Atas alasan ini mereka menyanggupi permintaan beberapa pihak untuk diadakan hearing Sunken.

Selain itu, cerita menarik lainnya pada masa hearing adalah tantangan 1800 massa TPB. Tantangan ini diberikan pada saat hearing zona labtek biru. Seorang massa memberikan tantangan kepada kandidat untuk mendatangkan 1800 massa TPB saat hearing TPB, dan jika kandidat menyanggupi tapi tidak dicapai kuorum, maka kandidat harus mengundurkan diri. Saat itu, yang menyanggupi hanya tim Dhika.

“Dari samping, tim saya sudah bilang untuk tidak mengambil tantangan itu. Perbandingannya tidak apple to apple, kenapa 1800 orang dapat membuat kita turun? Kedua, apakah ketika kita tidak bisa mendatangkan 1800 massa TPB, kita dianggap gagal? Ketiga, soal pendekatan kita ke massa TPB. Apakah hanya lewat hearing? Keempat, apakah tidak ada dampak yang meluas ke KM ITB ketika kita turun? Kelima, kondisi TPB sendiri. Ada yang makrab, TPB Cup, belum malam minggu dan musim hujan. Lebih baik tim kita dibilang penakut tapi berpikir matang daripada kita dibilang berani tapi tidak konsisten,” tutur Angga menjelaskan alasannya menolak tantangan tersebut.

Sedangkan Dhika, dia mengaku gegabah. “Tujuan saya menerima tantangan adalah agar TPB bisa tergerak untuk berpartisipasi. Tahun lalu hanya seratus orang yang menghadiri hearing TPB. Suara massa TPB akan menjadi suara yang ‘mengambang’ karena tidak tahu siapa calon serta bagaimana rekam jejak dan gagasannya. Tetapi saya sadar bahwa keputusan saya untuk menerima konsekuensi mengundurkan diri adalah keputusan yang gegabah. Oleh karena itu, saya meminta maaf kepada massa kampus yang kecewa,” jelasnya.

Selain hearing-hearing yang terasa ‘panas’, ada juga hearing yang berlangsung kondusif dengan jumlah massa yang kuorum. Angga dan Dhika senang berada di tengah-tengah massa Jatinangor karena pertanyaan dan tanggapan mereka sangat membangun. Selengkapnya dapat dibaca dalam liputan tim Boulevard sebelumnya.

Diluar massa kampus dan hearing, Angga dan Dhika juga memberikan kesan terhadap pesaingnya. Mereka sendiri sudah saling mengenal sejak masa TPB. Menurut Angga, “Perbedaan tim saya dengan tim Dhika, Dhika menitikberatkan bagaimana kita membawa kondisi luar (Indonesia yang tidak mandiri) ke dalam. Sedangkan saya, lebih menitikberatkan bagaimana potensi yang ada di KM ITB bisa dibawa keluar saat kita sudah lulus.”

“Saya melihat Angga sebagai orang yang paling bersemangat di KM-ITB. Angga lebih aktif berkegiatan di luar kampus sehingga kurang terlihat di dalam. Kritik saya untuk visi Angga, bagian dari visi Angga yang menginspirasi Indonesia bukanlah tujuan, tetapi dampak. Dan program kerja Angga, ITB Global Fair juga masih kurang jelas, masalah apa yang ingin diselesaikan dan targetnya. Jika Angga dapat mengembangkan program kerja tersebut, ITB Global Fair kelak dapat menjadi senjata ampuh milik Angga,” ujar Dhika.

Lalu bagaimana jika tidak terpilih? Keduanya mengaku akan memberikan hasil pemikiran masing-masing kepada kandidat terpilih untuk dianalisis. Selebihnya, konsep akan diterima atau tidak, itu adalah wewenang K3M terpilih. Mengenai keterlibatan mereka dalam susunan pengurus kabinet jika mereka tidak terpilih, mereka tidak ingin gegabah untuk memutuskan terlibat saat K3M terpilih mengajaknya, namun mereka akan mempertimbangkan.

“Jika tidak terpilih, saya berpikir untuk kembali berkarya di himpunan,” tutur Angga. Sedangkan Dhika, “Jika tidak terpilih, Saya akan mendorong tim sukses saya untuk tetap berkegiatan aktif di kabinet, himpunan, dan unit. Inginnya gagasan yang sudah dibuat tetap tertular pada mereka.”

Kedua kandidat telah berbagi ceritanya. Dari masa ke masa, Presiden KM ITB terpilih selalu membawa ajakan kepada mahasiswanya untuk ikut bergerak aktif dalam dinamika kemahasiswaan di kampus gajah ini. Sekarang saatnya untuk menentukan arah gerak sesuai yang kita butuhkan. Lembaran kertas yang akan membawa masa depan KM ITB menunggu aspirasimu hingga 5 Desember 2015.

Reporter: Juang Arwafa, Teo Wijayarto, Margaretha Vania, Nurina Maretha

Komentar