Berita

Design Project 2015: Desain dari Tiga Perspektif Berbeda

Tema yang dibawa tahun ini adalah Dignify. “Kami memilih tema ini dengan maksud menaikkan derajat Desain Produk, karena di Indonesia Desain Produk belum begitu dihargai. Banyak juga yang belum tahu esensi Desain Produk itu apa,” jelas Riris (DP ‘12) selaku panitia acara.

Oleh Hana Azalia dan Yola Kamalita

Hari Sabtu (28/11), Gedung De Vries OCBC NISP di Jl. Asia Afrika cukup ramai dikunjungi masyarakat yang mayoritas adalah anak muda. Di gedung yang merupakan salah satu cagar budaya di Kota Bandung ini, tengah diadakan pameran desain produk perabotan bernama Design Project 2015. Acara yang diselenggarakan oleh Industrial Design Student Society (INDDES) ITB ini memamerkan karya-karya pilihan dari mahasiswa Desain Produk ITB dan profesional berupa perabotan.
[URIS id=1206] Ketika memasuki ruang pameran, pengunjung disuguhkan terlebih dahulu dengan gambaran desain produk secara umum.  Setelah itu, pengunjung diajak untuk melihat satu demi satu perspektif yang berbeda dari serangkaian karya furnitur yang ditampilkan. Karya-karya perabotan yang dipamerkan memikat mata pengunjung karena rancangannya. Alur pameran ini membawa pengunjung untuk semakin memahami desain produk terutama perabotan, baik dari segi model, fungsional dan bahan yang digunakan.

Tema yang dibawa tahun ini adalah Dignify. “Kami memilih tema ini dengan maksud menaikkan derajat Desain Produk, karena di Indonesia Desain Produk belum begitu dihargai. Banyak juga yang belum tahu esensi Desain Produk itu apa,” jelas Riris (DP ‘12) selaku panitia acara.

Selain memamerkan produk-produk perabotan, acara ini juga mengadakan seminar mengenai Desain, HKI, & Narsisme dalam Bisnis Furnitur pada Sabtu sore. Rizky A. Adiwilaga (Pakar HKI), Redy Handoko (Pakar Strategi Bisnis & Ekonomi), dan Bayu Edward (Asanka) diundang untuk mengupas materi tersebut. Menurut Redy Handoko, narsisme menimbulkan konsekuensi kepada para desainer untuk mendesain produk yang lebih berciri khas bagi para konsumennya.  Rizky A. Adiwilaga menambahkan bahwa dalam dunia desain, HKI itu sangat diperlukan. “Tanpa HKI, orang yang membuat karya bisa saja digugat oleh pembajak karya,” jelasnya. Kursi-kursi yang tersedia pun penuh dengan anak muda yang terlihat antusias untuk menyimak materi yang disampaikan.

Di samping gedung OCBC, terdapat pula Market Corner yang menarik perhatian pengunjung setelah mereka meninggalkan ruangan pameran. Stan ini menawarkan berbagai macam produk dari mahasiswa dan alumni Desain Produk ITB. Produk yang dijual berupa aksesori, jaket, dan peralatan makan. Selain itu, ada juga Food Truck yang menjual makanan dan minuman untuk mengisi perut para pengunjung pameran.

Menurut panitia acara yaitu Ulfa (DP’12), Anisa Putri (DP’13),  tujuan dilaksanakannya acara ini adalah mengedukasi pengunjung mengenai Desain Produk. Selain itu,  untuk menggabungkan pikiran dari sudut pandang mahasiswa dan profesional ke masyarakat umum. Hal ini karena desain produk menimbulkan pandangan yang berbeda-beda pada tiap orang. Salah satu pengunjung, Ibu Dian, mendukung tujuan edukasi dari acara ini. Ia tertarik datang ke pameran ini untuk memperkaya informasi dan pengetahuan. “Desain itu penting, selain dari fungsi, harus nyaman dan menarik, saat dipakai jadi enak. Desain juga membuat produk punya daya saing lebih,“ tambahnya.

Keterangan: berita telah diralat dari sebelumnya menyebutkan sumber sebagai Anisa (DP’12) dan Putri (DP’12) menjadi Anisa Putri (DP’13).

Komentar