Berita

ITB OPEN XVI 2015: Bukan Turnamen Tenis Meja Biasa

Dinginnya malam setelah hujan terkalahkan oleh semangat menonton pertandingan tenis meja semifinal tunggal putra veteran.

Oleh: Margareta Vania Stephanie
Waktu menunjukkan waktu 7 malam, tetapi masih banyak remaja yang berkerumun di depan Gelanggang Olah Raga (GOR) Tri Lomba Juang. Mereka bercakap-cakap dan tertawa-tawa meskipun wajah menunjukkan kelelahan seusai pertandingan. Keramaian pun tidak hanya terjadi di luar, tetapi juga di dalam GOR. Banyak orang yang tetap setia duduk di bangku penonton, menantikan pertandingan selanjutnya. Dinginnya malam setelah hujan terkalahkan oleh semangat menonton pertandingan tenis meja semifinal tunggal putra veteran.

[URIS id=1217] Begitulah suasana GOR Tri Lomba Juang saat redaksi Boulevard ITB meliput di hari terakhir rangkaian acara ITB OPEN. ITB OPEN merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Unit Tenis Meja ITB atau UATM ITB sejak tanggal 24-29 November 2015. Banyak orang datang berduyun-duyun ke kompetisi ini baik sebagai peserta atau penikmat olahraga tenis meja.

Ketua Acara ITB OPEN, Ichwan dari Teknik Geologi 2013, bercerita bahwa kompetisi ini dipersiapkan sekitar 7 bulan, yaitu sejak April 2015. ITB OPEN merupakan acara yang konsisten dengan selalu diadakan tiap tahun. Biasanya kompetisi ini diadakan tiap bulan November atau Desember, menyesuaikan dengan agenda Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Ada sekitar 600 peserta yang terlibat dalam kompetisi ini dan tersebar di berbagai kategori. Untuk kategori mahasiswa, ada tunggal putra dan putri serta beregu campuran. Kemudian untuk kategori umum atau berdasarkan umur, ada kadet (U-15) putra dan putri; junior (U-18) putra dan putri; senior; veteran (U-50) serta eksekutif atau undangan khusus. Hadiahnya pun berkisar antara Rp 1.000.000 – Rp 8.000.000.

ITB OPEN tidak selalu diselenggarakan di GOR yang terletak di Jalan Pajajaran, Bandung ini. Sejak tahun 1990-an, ITB OPEN selalu diadakan di gedung GSG ITB, hingga akhirnya gedung ini dirubuhkan tahun 2011. ITB OPEN kemudian sempat dilaksanakan di Jatinangor. Akan tetapi setelah evaluasi yaitu jauhnya tempat pertandingan, maka ITB OPEN tahun ini diadakan di GOR Tri Lomba Juang.

Ichwan pun bercerita bahwa antusiasme masyarakat terhadap pertandingan tenis meja cukup bagus. Banyak peserta yang terlibat dalam pada kategori kadet, junior dan senior. Tidak hanya penggemar tenis meja saja yang terlibat dalam pertandingan, tetapi ada juga atlet-atlet tingkat nasional yang ikut berpartisipasi di ITB OPEN. ITB OPEN tentu bukan sembarang kompetisi nasional. “Soalnya ITB OPEN menghadirkan atlet-atlet top nasional. Hampir empat unggulan nasional datang ke sini. Atlet-atlet SEA GAMES juga datang,” jelas Ichwan. Daftar pemenang ITB open dapat dilihat di sini.

Penyelenggaraan turnamen tenis meja tingkat nasional tentu butuh pendanaan yang cukup besar. Bagaimana UATM mengumpulkan dana yang besar tersebut? Ichwan pun mengakui bahwa tantangan yang paling besar di ITB OPEN adalah mencari sponsor. Pada kenyataannya tenis meja tidak sepopuler olahraga lain. Untuk olahraga yang cukup populer, seperti contohnya basket, cukup mudah untuk mencari dananya. Hanya sedikit pihak yang mau mendanai turnamen tenis meja.  Dana yang terbatas pun membuat panitia harus “memutar otak” dalam mengatur finansial.

Selain dana, tantangan yang cukup besar juga ada di masalah sumber daya manusia. Turnamen ini diselenggarakan selama enam hari pada saat kegiatan perkuliahan masih berlangsung. Tentu saja panitia cukup kerepotan dalam mengatur waktu kuliah dan waktu untuk mengurus ITB OPEN. Berbekal dengan 40 orang panitia, ternyata jumlah ini masih belum cukup untuk mengatasi masalah sumber daya manusia. “Pernah waktu pagi cuma ada tiga orang panitia dan mereka harus mengurus semuanya mulai dari pendaftaran, registrasi, verifikasi peserta dan pertandingannya,” cerita Ichwan.

Selain itu, UATM tidak bekerja sendirian tetapi bekerja sama dengan PTMSI se-Jawa Barat, terutama di bagian penjadwalan dan wasit-wasitnya.  Wasit-wasit dalam pertandingan tidak boleh dipilih asal, minimal harus punya sertifikat se-Jawa Barat. Ichwan juga menambahkan bahwa wasit-wasit ini juga harus dibayar cukup besar dan cukup menguras dana.

Kekonsistenan ITB OPEN ternyata  memberikan pengaruh luas di masyarakat. ITB OPEN adalah turnamen yang ditunggu-tunggu banyak pihak. Ichwan menyatakan bahwa jumlah peserta meningkat dari tahun lalu. Selain itu, ada pihak-pihak yang ingin mengadakan kompetisi sejenis ITB OPEN.”Banyak unit di luar yang mau nyaingin UATM, pengen ngadain kaya ITB OPEN. Bahkan ada yang sampai minta list pendaftar di ITB OPEN,” tutur Ichwan

Hal positif juga disampaikan salah satu peserta ITB OPEN, Ibu Wiwik, peserta kategori veteran. Menurut Beliau, acara ini terselenggara dengan baik dan penyelenggaraannya cukup rapi.  Ibu yang berprofesi sebagai paramedis di Rumah Sakit Hasan Sadikin ini merupakan salah satu penggemar olahraga tenis meja sejak muda dan sudah sering mengikuti kompetisi.  “Tujuannya untuk silaturahmi, bukan kalah dan menang, tetapi senang bisa ketemu dengan komunitas yang menyukai bidang yang sama,” cerita Ibu Wiwik. Setelah mengikuti beberapa kali ITB OPEN, beliau menyatakan bahwa ITB OPEN selalu ramai. Beliau juga lebih menganjurkan agar acara ITB OPEN selanjutnya diadakan di GOR Tri Lomba Juang karena transportasinya lebih mudah. Beliau sempat menyayangkan adanya jadwal yang tertunda dalam turnamen ini. Selain itu, beliau juga memberi kritik bahwa info turnamen ini agak telat, di website awalnya tidak mencantumkan kategori eksekutif. Info turnamen diharapkan lebih jelas dan disampaikan lebih awal sehingga tidak bentrok dengan turnamen tenis meja lainnya.

Komentar