Artikel Sastra

Novel “Ayah”, Obat Rindu dari Andrea Hirata

‘Rindu bukan buatan’, pilihan kata yang kerap kali digunakan Andrea Hirata dalam novel-novelnya, kiranya merupakan ungkapan yang tepat menggambarkan perasaan para penggemar literasi di nusantara akan karya-karya sang maestro.

ayah

Judul :Ayah
Penulis :Andrea Hirata
Tahun Terbit :2015
Penerbit :Bentang Pustaka
Tebal :412 halaman

Dua pohon yang menyendiri
Dua pohon di tepi sungai yang mengalir sepi
Berdiri tegak, muda dan tumbuh
Mereka ingin mengatakan sesuatu
Namun, mereka tetap diam

‘Rindu bukan buatan’, pilihan kata yang kerap kali digunakan Andrea Hirata dalam novel-novelnya, kiranya merupakan ungkapan yang tepat menggambarkan perasaan para penggemar literasi di nusantara akan karya-karya sang maestro. Bukan tanpa alasan, kisah-kisah yang tertuang dalam novel Andrea Hirata memang telah melekat di hati para penikmat sastra sejak peluncuran karyanya yang pertama, “Laskar Pelangi”. Bersih, apa adanya, segar, memukau, menyayat hati, menggelitik, menggugah, adalah beberapa kata yang dapat menggambarkan novel semi-autobiografi tersebut. Sebenarnya, kata-kata tersebut tidaklah cukup, pada kenyataannya terlalu banyak hal di dalam karya-karya Andrea yang tidak dapat dilukiskan hanya dengan perbendaharaan kata yang penulis miliki.

Rangkaian novel-novel semi-autobiografi Andrea Hirata pun kemudian hadir menghibur hati para pembaca yang telah terpikat sejak kali pertama membaca “Laskar Pelangi”. Semua novel-novelnya berlatar belakang sama dan masih berkaitan dengan tokoh utama “Laskar Pelangi” yang telah memaksa pembaca kisahnya terpana akan lika-liku perjalanan hidupnya, Ikal. Kini, enam tahun telah berlalu sejak karya Andrea yang terakhir, Dwilogi “Padang Bulan”. Penantian para penggemarnya pun berakhir dengan peluncuran novel ke-9 Andrea Hirata pada Bulan Mei yang lalu. “Ayah”, begitulah judul karyanya kali ini. Sejak peluncurannya, novel ini telah melalui tiga kali pencetakan ulang. Masih melalui penerbit yang sama, Andrea kembali menuturkan sebuah kisah epik.

Tak pernah mengerti Sabari bagaimana kawan-kawannya, Ukun dan Tamat, dapat jatuh hati kepada banyak gadis. Baginya, perihal perempuan, cinta, dan segala hal yang berkaitan dengan romansa adalah tabu. Cinta adalah racun manis penuh tipu muslihat, begitu kira-kira pandangan Sabari akan cinta. Dahulu. Kini, sirna semua pandangan nyinyir Sabari akan cinta. Semua karena sebuah peristiwa yang mempertemukannya dengan seorang gadis elok nan rupawan bernama Marlena. Sabari bak orang yang terkena sihir semenjak peristiwa itu. Ia bukan lagi bocah culun dari Belantik yang kerap mempersalahkan cinta. Tergila-gila Ia pada Marlena. Cintanya pun kemudian diuji oleh waktu. Sekian lama, Sabari terus berusaha mendapatkan cinta Lena, selama itu pula Lena tak mengindahkannya, menjauhinya, bahkan membencinya. Akan tetapi, semua itu tak menggentarkan cinta Sabari pada perempuan berlesung pipit itu. Ia selalu rindu pada Lena.

Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung. Kalimat yang diajarkan ayahnya itulah yang membuat Sabari teguh memegang cintanya pada Lena. Kesempatan untuk hidup bersama Marlena pun tiba meski tak lama. Kembali ia harus merelakan Lena pergi. Namun, sesuatunya tidak lagi sama. Kini, Sabari memiliki seorang anak lelaki yang kepadanya Sabari membagi cinta. Sabari menemukan sosok baru dalam dirinya, seorang “Ayah”.

Seperti dalam novel-novel sebelumnya, Andrea tetap mempertahankan gaya bahasanya yang sangat khas dengan latar belakang budaya melayu yang sangat kental. Lelucon-lelucon yang ia sisipkan dalam kisah ini terbilang berhasil membuat pembaca terkekeh. Kejadian-kejadian di dalam novel yang satu ini tak lain berpusat pada satu kata ‘cinta’. Dalam novel-novel sebelumnya, Andrea memang kerap menyisipkan kisah cinta. Selain cinta, Andrea pun kembali memunculkan topik-topik dalam karya-karyanya yang lalu. Topik-topik tersebut antara lain mengenai persahabatan, pendidikan, dan petualangan.

Bagi penikmat kisah cinta mungkin kisah di dalam novel ini sekilas memiliki beberapa unsur kesamaan dengan satu kisah cinta yang menjadi legenda dunia, yaitu kisah cinta “Laila dan Majnun”. Bahkan panggilan Sabari setelah ia tergila-gila pada Lena adalah ‘Majnun’ yang memang berarti ‘gila’. Bila di dalam novel ini, digambarkan bahwa Sabari sanggup melakukan hal-hal luar biasa demi Lena dan tidak dapat lepas dari bayangan wajah Lena, begitu pula Majenun dalam kisah cintanya dengan Laila. Meski begitu, terdapat perbedaan jelas bahwa dalam kasus Sabari, Lena sama sekali tidak mencintainya dan bahkan membencinya sedangkan pada kisah cinta “Laila dan Majnun”, Laila tak kalah cinta pada Majnun. Tak meninggalkan ciri lain dari karya-karyanya, Andrea pun menghiasi Novel “Ayah” ini dengan banyak untaian puisi indah nan syahdu. Salah satunya adalah sebait puisi di atas.

Ada yang berbeda dalam karya Andrea kali ini. Pada karya-karya sebelumnya, Ia kerap mengangkat suatu topik khusus yang kemudian dielaborasikan dan dipadukan dengan kejadian-kejadian umum di dalam kehidupan sehari-hari para tokohnya. Salah contohnya adalah dwilogi “Padang Bulan”. Di dalamnya ada dua topik menarik yang dikupas secara rinci namun tidak membosankan, yaitu ‘kopi’ dan ‘catur’. Dalam karya tersebut, Andrea berhasil memadukan suatu topik tertentu dengan kehidupan sehari-hari secara indah dan natural. Akan tetapi, dalam Novel “Ayah” ini pembaca dapat merasakan kurangnya kehadiran topik menarik tersebut. Penyebabnya adalah karena topik ‘cinta’ mengambil peran begitu besar dalam kisah ini. Kurangnya penggalan-penggalan topik lain juga membuat pembaca jenuh melahap kisah cinta Sabari dan Marlena. Unsur komedi pun tidak begitu banyak bila dibandingkan dengan karya-karya Andrea sebelumnya.

Terlepas dari semua hal di atas, buku ini tetap merupakan pilihan yang tepat untuk menikmati kekayaan budaya dan bahasa negeri kita.

(Rayi Ruby)

1 Komentar

Komentar