Featured

Siwi yang Mencari

IMG_5928
Seorang siwi* tengah cemas mengeja suasana. Dia mendapati dirinya dalam dimensi yang berbeda. Waktunya kini tidak bersenandung semerdu dulu. Ruangnya kini tidak berpendar sedamai yang kemarin. Didapati tubuhnya menggigil di antara jeritnya sendiri. Tidak sesarung pun membebat tubuh mungilnya. Dia papa, pun tidak mengerti apa-apa.

Di dunia barunya, hanya rengek yang terbunyi dari sang siwi. Dia menemukan aksara-aksara asing. Lidahnya tergagap mencari-cari bunyi dan definisi dari kata yang ada. Dia tidak menemukan kata yang akan menerjemahkan rindu pada ruangnya yang dulu. Ruang yang teduh merengkuh tubuh rapuhnya. Tidak seperti hidupnya saat ini. Yang gersang dan penuh dengan kata-kata jalang.

Dirasa dalam hidupnya, kini sang siwi tidak memiliki kata, tidak memiliki siapa.

Sembari dewasa, sang siwi mendapati dirinya semakin sendiri, terkepung dalam durjana yang membendung. Angkara-angkara membahana, menguraikan tiap nista yang ada. Para wajah bersungut mengerut, menyuarakan mimpi-mimpi basi dan dusta-dusta cinta. Sang siwi cuma mangu sambil jenuh. Meratap diri yang semakin kehilangan kata yang seharusnya membawa dia pulang ke ruang yang dulu.

“Aku lelah. Dimana kata yang dapat menafsirkan ruangku yang dulu? Kata yang yang merujuk pada harmoni yang abadi. Penerjemahan atas segala kerinduan. Penyegaran atas semua penat. Kata terindah yang pernah Tuhan dengungkan selama mencipta semesta. Kata yang nadinya dulu berdenyut senada dengan degup jantungku. Kata yang parunya menjadi selang untukku bernapas. Kata yang mulutnya menyuapiku makanan-makanan lezat. Kata yang matanya menceritakan padaku tentang warni dunia yang anggun. Kata yang hatinya membelaiku mesra dengan kasih sayang.”

“Aku rindu pada kata yang dulu menemaniku dalam ruang buaiannya. Kata yang paginya adalah petuah dan malamnya merupa doa. Kata yang rintihnya mertanda asa dan tawanya melarungkan gelora. Kata yang menyimpan sebuah jiwa yang tangguh di dalam kelembutan. Kata yang tak akan membuatku papa sendiri seperti kini.”

Kau tahu? Mana ada seorang siwi yang sendiri? Mana ada seorang siwi yang papa?

Kata itu -yang dicari sang siwi- abadi seperti kasihnya. Memuat intan-intan kehidupan. Tidak pernah hilang di tengah denyut jantung dan napas sang siwi yang kian nyata. Tidak pernah jauh meski sang siwi kini harus bisa mengunyah makanan dan mencerna cahaya dunia seorang diri. Kata itu tidak pernah pergi. Cuma terkadang sang siwi terlalu pelik mencari konotasinya dalam jiwa-jiwa yang lain.

Kata itu abadi seperti kasihnya dan menunggu sang siwi pulang menjemput rindu.

Kata itu
Ibu

*siwi : padanan dari kata ‘anak’ dalam bahasa jawa.

-alcaristia-
221215

Komentar