Berita

Ilubiung Project #2: Tonight You Belong To Me

Ada yang berbeda pada Hari Sabtu (19/12/15) lalu di Kampung Kreatif Dago, Bandung. Mengambil lokasi di salah satu gang yang ada di kampung tersebut, tepatnya Gang Mamah Adi, RT 03/RW 03, Ilubiung Project #2 mempersembahkan seni instalasi lampu hasil kolaborasi dengan Lumika Studio.

Oleh:Galih Endrayana, Nida An Khofiyyah, dan Rayi Ruby

[URIS id=1300]

Ada yang berbeda pada Hari Sabtu (19/12/15) lalu di Kampung Kreatif Dago, Bandung. Mengambil lokasi di salah satu gang yang ada di kampung tersebut, tepatnya Gang Mamah Adi, RT 03/RW 03, Ilubiung Project #2 mempersembahkan seni instalasi lampu hasil kolaborasi dengan Lumika Studio. Pameran instalasi lampu yang indah berhasil menarik perhatian pengunjung untuk terus menyusuri gang yang juga berhiaskan berbagai karya-karya seni lainnya. Pengunjung seperti sedang berada di sebuah galeri seni berkelas berkat kesan elegan dan hangat dari rangkaian instalasi lampu yang menghiasi sisi gang. Puisi, foto, mandala, dan lukisan, adalah beberapa karya seni yang pengunjung dapat jumpai di sepanjang Gang Mamah Adi.

Belum sampai ujung gang, sebuah petunjuk berwarna kuning terang mengarahkan pengujung ke acara festival dengan judul “Tonight You Belong To Me” yang digelar pada malam itu. Festival tersebut menghadirkan beberapa seniman dari bidang yang berbeda-beda. Beberapa penampilan seni yang meramaikan festival malam itu diantaranya adalah, penampilan musik oleh komunitas Mu.lut ft. RMHR, The Dew and The Deer, Ilubiung, Tarka Dago Pojok, Orok Wodols, Ini Hari, dan Pak Akim. Selain penampilan musik, acara juga dimeriahkan dengan Stand Up Comedy oleh Adi Ichwan Fauzan. Yang tak kalah menarik adalah penayangan film oleh Interakta ITB serta film garapan Ilubiung dengan anak-anak di sekitar Kampung Kreatif Dago. Festival berlangsung hingga larut malam. Pengunjung yang juga terdiri dari warga sekitar antusias mengikuti rangkain acara yang digelar Ilubiung malam itu.
Selain Festival yang diadakan pada Sabtu malam lalu, pameran karya-karya seni di sepanjang Gang Mamah Adi juga dibuka untuk umum mulai pukul 10.00 hingga 17.00 selama dua hari, yaitu dari Hari Minggu (20/12/15) sampai Hari Senin (21/12/15). Sebagian karya-karya tersebut dibuat oleh anak-anak yang tinggal di Kampung Kreatif Dago. Jiwa polos anak-anak tersebut terpancar melalui karya-karya mereka yang unik, menarik, dan segar. Sebagai penutup acara, diskusi bersama juga digelar pada malam Senin (21/12/15).

Ditemui di ‘markas’-nya, House of Ilubiung, Alfiah Rahdini dan kawan-kawan selaku inisiator dari rangkaian acara Ilubiung Project #2 mengungkapkan hal-hal terkait proyek mereka kali ini. Nama “Ilubiung Project #2” diakui Alfiah beasal dari fakta bahwa acara ini merupakan lanjutan proyek Ilubiung pertama yang diselenggarakan pada tahun 2014 lalu sebagai proyek seni pribadi. Ilubiung sendiri berkembang menjadi sebuah forum dimana orang-orang di dalamnya bekerja secara kolektif pada tahun 2015. Azizi Abdul Majid, salah seorang penggagas acara Ilubiung ini, menyatakan bahwa proyek-proyek yang mereka garap bermula dari satu kata, “gemez”. Azizi beserta penggagas Ilubiung yang lain memaknai kata “gemez” ini sebagai sesuatu yang mereka rasakan ketika melihat potensi dari suatu objek, baik itu berupa, benda, makhluk hidup, maupun lokasi. Berangkat dari rasa “gemez” itulah, pada tahun 2014 Ilubiung pertama diadakan.

Gang Mamah Adi sendiri dipilih karena Alfiah dan kawan-kawan merasa “gemez” akan potensi yang ada pada gang tersebut. Ia merasa dapat memberdayakan gang tersebut dengan mengubahnya menjadi ruang publik. Ide yang terbetik oleh Alfiah dan kawan-kawan untuk mengubah Gang Mamah Adi menjadi sebuah ruang publik adalah dengan menyediakan penerangan yang cukup dan tentu menarik. Oleh karena itu, seni instalasi lampu menjadi inti dari proyek ilubiung kali ini. Selain penerangan, karya-karya seni lain juga dipajang di sepanjang sisi gang agar pengunjung yang datang dapat menikmatinya.

Ilubiung Project #2 ini juga berkolaborasi dengan banyak pihak, baik dengan para seniman maupun mereka yang berada di luar lingkup seni. Sebelum acara Ilubiung Project #2 ini diselenggarakan, serangkaian workshop terlebih dahulu diadakan. Workshop diberikan kepada anak-anak serta warga sekitar Kampung Kreatif Dago. Seniman-seniman yang terlibat dalam workshop ini salah satunya adalah Dian Mayangsari. Dian memberikan pelatihan cara membuat mandala-mandala yang indah dan menarik. Selain Dian, ada pula komunitas seni Kone’ yang turut memberi pelatihan cara membuat bando atau ikat kepala dari kain-kain tidak terpakai. Komunitas Lumika Studio juga terlibat dalam membimbing pembuatan instalasi lampu dari pipa paralon yang menghiasi gang. Beberapa komunitas seni lainnya seperti Mu.lut dan Resolute juga ikut berpartisipasi dalam pemberian workshop ini. Di luar lingkup seni, ada Tarka Dago Pojok, komunitas karang taruna di daerah setempat, yang turut berkolaborasi dengan Ilubiung dalam pembuatan instalasi lampu.

“Biar anak-anak jadi mandiri,” ucap Tatjana Dabita, selaku penyelenggara, ketika ditanya mengenai tujuan awal proyek Ilubing dan harapan dari terselenggaranya acara ini. Selain itu, Ilubiung mengaku proyek mereka ini merupakan cara mereka untuk saling menginspirasi. Muncul pertama kali sebagai usaha untuk memberikan model pendidikan alternatif bagi anak-anak di Dago Pojok, kini proyek-proyek Ilubiung menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu baik oleh warga sekitar maupun pengunjung dari luar. “Kemungkinan akan ada Ilubiung Project #3 dengan bentukan acara yang berbeda,” Alfiah menyatakan. “Lokasinya tidak harus di sini lagi. Mungkin di tempat lain dan dengan cara yang berbeda juga,” tambah Azizi. Alfiah sendiri berharap dapat melakukan roadshow karya-karya yang dipamerkan dalam Ilubiung Project #2 dan mempublikasikan buku pasca acara mengenai proyek Ilubiung.

Komentar