Sastra

Cerita Dari Yang Lalu

Boulevard ITB terlahir sebagai salah satu unit media yang memberitakan pergerakan massa kampus, rektorat dan kemahasiswaan di ITB. Waktu pun terus bergulir. Setelah menginjak usia 22 di tahun 2015, Boulevard ITB mempersembahkan sebuah edisi yang berbeda, berjudul “Cerita Dari Yang Lalu”.

Judul            : Cerita Dari Yang Lalu

Penulis          : Reporter Boulevard ITB 1993 – 1998

Tahun           : 2015

Tebal            : 71 halaman

 

Maraknya pembredelan lembaga pers mahasiswa (LPM) pasca NKK/BKK di masa orde baru tahun 1970-an, telah menghentikan urat nadi beberapa pers mahasiswa saat itu. Kala itu, pers mahasiswa tidak hanya berkutat dengan isu internal kampus, namun juga isu-isu penyelewengan kebijakan nasional. Kegelisahan akan ketidakbebasan pers pun terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun. Namun, masa itu perlahan berakhir dengan bermunculannya pers mahasiswa di kampus masing-masing. Periode bangkitnya kembali pers mahasiswa ini terjadi pada tahun 1985–1998. Boulevard ITB menjadi salah satu pers kampus yang lahir pada periode ini. Lahir pada tanggal 29 April 1993, atas prakarsa beberapa himpunan di ITB dengan misi menciptakan pers kampus yang netral dan objektif.

Boulevard ITB terlahir sebagai salah satu unit media yang memberitakan pergerakan massa kampus, rektorat dan kemahasiswaan di ITB. Waktu pun terus bergulir. Setelah menginjak usia 22 di tahun 2015, Boulevard ITB mempersembahkan sebuah edisi yang berbeda, berjudul “Cerita Dari Yang Lalu”. Kumpulan artikel Boulevard ITB tahun 90-an disajikan pada edisi ini. Kisah kemahasiswaan yang masih memiliki kaitan erat dengan dunia kemahasiswaan saat ini dimuat kembali, setelah satu sampai dua dekade artikel-artikel itu dimuat.

Pada buku ini, artikel-artikel dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama pembaca disuguhkan dengan artikel-artikel tentang kemahasiswaan terpusat di ITB. Artikel yang mengulas organisasi-organisasi kemahasiswaan terpusat ITB dari masa ke masa dimuat pada bagian ini. Selain itu, ada juga artikel-artikel yang menggambarkan lika-liku peristiwa dan urgensi pembentukan organisasi kemahasiswaan terpusat pada tahun 90-an.

Kemudian, bagian kedua memuat artikel-artikel mengenai gerakan kemahasiswaan di ITB. Seperti apa bentuk aksi mahasiswa, hingga kritik antar kelompok-kelompok kepentingan mengenai aksi kemahasiswaan dimuat pada bagian ini. Refleksi kekritisan dan perlawanan mahasiswa ITB, seperti peristiwa Buku Putih 1978 dan gerakan mahasiswa pasca NKK/BKK, juga tak luput dimuat pada bagian kedua ini.

Pemilihan artikel yang baik, mengajak pembaca untuk melihat peristiwa-peristiwa kemahasiswaan yang pernah “hangat” dibicarakan pada masanya. Artikel-artikel yang tajam dan berani untuk mengkritisi pergolakan mahasiswa dan rektorat turut mewarnai buku ini. Perbedaan dan keterkaitan kondisi kemahasiswaan ITB, sebelum reformasi dengan saat ini, bisa dilihat dan dimaknai menjadi pelajaran berharga.

Apabila disandingkan dengan buku sejenisnya, seperti 50 Tahun Kompas Memberi Makna milik salah satu media cetak tersohor di negeri ini, tentu saja buku ini masih memiliki kekurangan. Baik dari segi penyuntingan ataupun tidak adanya penjelasan mengenai artikel-artikel yang ada. Hal ini terkadang bisa membuat pembaca bingung dengan beberapa kejadian atau istilah yang tidak dijelaskan.

Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak menjadi bacaan untuk massa kampus. Perjalanan waktu yang panjang telah dilalui oleh kemahasiswaan ITB. Hal tersebut dikemas dalam tulisan-tulisan di buku ini, agar dapat menjadi edukasi bagi mahasiswa generasi sekarang dan seterusnya. Esensi kemahasiswaan pun perlu kita maknai dan pertahankan, agar sebagai mahasiswa kita bisa menentukan gerakan kemahasiswaan yang lebih berarti kedepannya.

Komentar