Sastra

Pada Sebuah Selasa

Pada sebuah Selasa, Mitch Albom menemukan makna hidup.

Oleh Sitti Mauludy Khairina

Judul Buku      : Tuesday with Morrie

Penulis             : Mitch Albom

Tebal Buku      : 200 hlm

Cetakan Pertama : 1997

Penerbit           : PT Sinar Books

ISBN               : 978-0-385-49649-0

Sebelumnya, hari Selasa bagi Mitch Albom adalah hari yang biasa. Mitch terjebak dalam kemonotonan di setiap rutinitasnya. Mitch banyak menghadapi kegagalan dan keputusasaan. Ditambah lagi, Mitch dibayangi oleh kematian pamannya yang semakin membuatnya semakin terpukul. Semuanya berubah sedikit demi sedikit setelah pertemuan rutinnya dengan Morrie Schwartz, salah satu professor favoritnya saat menjadi mahasiswa, satu kali per pekan, di hari Selasa.  Morrie merupakan seorang professor di bidang Sosiologi yang didiagnosa mengidap penyakit ALS ( Amyotrophic Lateral Sclerosis) yaitu gangguan karena kematian sel-sel saraf (neuron). Kesulitan bicara, kesulitan menelan, dan akhirnya kesulitan bernapas mungkin bagi kita adalah penderitaan. Namun tidak bagi Morrie. Morrie tidak menganggap hal tersebut sebagai halangan untuknya bermanfaat terhadap orang lain. Manfaat itulah yang benar-benar dirasakan seorang Mitch Albom. Morrie memang tidak tahu obat dari penyakitnya, tetapi ia tahu obat dari keputusasaan Mitch. Pembicaraan penuh makna mengenai kasih sayang, pekerjaan, keluarga, permintaan maaf, penyesalan, respek, sampai kematian mampu mengobati Mitch dan mengubah cara pandangnya terhadap hidup ini.

Teratur. Mungkin kata tersebut tepat untuk mendeskripsikan buku ini. Mungkin keteraturan itulah yang akan membuat pembaca ingin terus membalik lembar berikutnya. Walaupun alurnya maju-mundur, pembaca tidak akan merasa kebingungan saat membaca karena keapikan Mitch Albom dalam menulis buku ini. Penulisan setiap kalimatnya pun sangat sederhana sehingga mudah dimengerti oleh semua kalangan usia. Pembaca akan dengan mudahnya mendapatkan maksud dari setiap paragraf. Kadang sebagian buku dapat membuat kita jenuh karena terlalu banyak yang disampaikan dalam satu bab. Namun, Mitch Albom membuat setiap bab menjadi singkat, padat, dan jelas.   Bagaimana Mitch mendeskripsikan segala hal dalam buku dengan detil inilah yang membuat buku ini  tetap jelas secara singkat dan padat. Mitch benar-benar ingin membuat pembaca berada di tempat ia berdiri dan melihat bagaimana keadaan yang sebenarnya.

Jika dilihat dari tanggal terbitnya, buku ini termasuk buku lama. Namun, tema yang diangkat cukup universal yaitu mengenai hidup sehingga tak akan lekang oleh waktu. Masih banyak orang yang belum
bisa memaknai hidup, masih banyak orang yang terombang-ambing kebingungan akan tujuannya, mungkin inilah yang membuat Morrie ingin berbagi dengan pembaca melalui Mitch. Entah bagaimana, Mitch Albom dapat membuat halaman demi halaman cukup emosional sehingga tak jarang bibir mulai tersenyum atau air mata menetes di pipi pembaca. Pembaca akan seringkali berhenti sejenak untuk merenungkan hal-hal yang baru saja dibacanya karena memang cukup banyak kalimat-kalimat yang mengharuskan kita merenunginya.

Menyelesaikan buku ini itu ibarat kita sedang berjalan di suatu gua yang sangat gelap. Tidak tahu arah, tidak tahu tujuan. Buku ini mengajarkan apabila kita tetap diam karena takut, tentunya kita akan berada di tempat yang sama sepanjang hidup kita. Sebaliknya, apabila kita tetap berjalan, ada harapan di setiap langkah kita. Tak peduli seberapa takut, bingung, dan ragu, selama kita terus berjalan pada akhirnya kita tiba pada suatu titik terang. Pembaca akan menemukan pencerahan dan (semoga) berubah menjadi orang yang lebih baik.

Komentar