Artikel Featured

SELINTAS GERHANA, MEMBURU TOTALITAS

Gerhana Matahari Total besok (Rabu, 9 Maret 2016) menjadi topik perbincangan hangat akhir-akhir ini. Dari jauh-jauh hari, biro perjalanan sudah menawarkan aneka paket wisata ke berbagai kota yang akan dilintasi jalur totalitas. Riuh-rendah berita beredar dari berbagai arah, mulai dari sumber yang dapat dipercaya hingga bisik-bisik gosip dari mulut ke mulut. Tulisan ini akan berusaha merangkum hal-hal yang mungkin masih menjadi pertanyaan di benak pembaca seputar fenomena ini.

Gerhana adalah sebutan Astronomi untuk keadaan tertutupnya sebuah obyek langit oleh obyek lain. Hal ini melibatkan tiga komponen, yakni benda yang akan menggerhanai, benda yang akan digerhanai, dan benda pengamat. Dalam gerhana matahari, bumi akan berada dalam daerah bayangan bulan sehingga cahaya matahari terhalangi. Syarat terjadinya adalah bulan, bumi, dan matahari berada dalam satu garis lurus dan bulan sedang berada dalam fase bulan baru. Karena memiliki syarat yang tetap, kemunculan gerhana dapat dihitung dalam siklus-siklus, misalnya siklus Saros.

Ada tiga bentuk gerhana yang mungkin terjadi, yakni gerhana total, cincin, dan hibrid. Gerhana total merujuk pada tertutupnya seluruh bagian benda yang dilewati, gerhana cincin merujuk pada bentuk cincin yang terjadi ketika bayangan benda yang lewat terlihat sedikit lebih kecil dari benda yang dilewati sehingga memunculkan ‘lubang’ seperti donat, dan gerhana hibrid merujuk pada gerhana yang berubah jenis dalam lintasannya. Sebenarnya, dibandingkan gerhana bulan, gerhana matahari terjadi jauh lebih sering. Namun, daerah pengamatan gerhana matahari jauh lebih terbatas sehingga seolah menjadi kejadian langka.

Mengapa gerhana matahari menjadi istimewa? Korona matahari hanya dapat diamati dengan mata telanjang pada saat gerhana, sehingga menjadi kesempatan yang sangat baik bagi ilmuwan. Arthur Eddington menggunakan hasil pengamatan pada gerhana matahari tahun 1919 untuk membuktikan teori relativitas umum Einstein. Gerhana matahari 2016 memungkinkan seluruh daerah di Indonesia melihat setidaknya gerhana matahari sebagian dengan persentase gerhana yang cukup tinggi, sehingga menjadi teramat sayang untuk dilewatkan. Gerhana matahari terakhir melintasi Indonesia pada tahun 1983 dan 1995, dan diprediksi akan kembali lagi tahun 2023. Namun, untuk muncul di titik yang sama dengan saat ini, bisa jadi membutuhkan waktu ratusan tahun.

Gerhana matahari sudah sejak lama menuai takjub. Mitologi dari seluruh dunia mencatat cerita yang beredar untuk menjelaskan siang yang seketika berubah menjadi malam. Gerhana adalah bahan dongeng-dongeng dan cerita rakyat dari generasi ke generasi. Di Indonesia, kita mengenal kisah Batara Kala memakan matahari. Kisah ini pula yang diangkat oleh perangko Indonesia edisi Gerhana Matahari Total. Sayangnya, banyak pula cerita yang menjadikan gerhana matahari sesuatu yang menakutkan, kejadian gaib penebar tulah dan bencana di bumi.

Kehebohan Gerhana Matahari Total 2016 seolah menjadi pembalasan atas pembodohan massal tahun 1983. Dr. Hakim L. Malasan, dosen jurusan Astronomi ITB mengisahkan, pada kala itu pemerintah mengeluarkan propaganda dan desas-desus mengenai pengaruh buruk gerhana matahari terhadap manusia, terutama wanita dan janin. Jalanan dijaga oleh tentara. Oleh karena itu, masyarakat dihinggapi ketakutan dan mengurung diri di rumah mereka masing-masing hingga gerhana usai. Beliau menyayangkan gagalnya masyarakat tuan rumah gerhana menikmati peristiwa alam unik ini.

Menanggapi animo masyarakat yang kini berbanding terbalik, Dr. Hakim juga berpesan agar informasi diusahakan tersebar sebaik mungkin supaya masyarakat yang berharap menjadi saksi kejadian ini dapat melakukannya dengan aman.

Aman? Ya. Gerhana matahari memang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia, namun kuatnya pancaran cahaya matahari dapat menyebabkan kerusakan pada mata apabila dilihat dengan mata telanjang. Matahari hanya aman dilihat pada saat totalitas, yang berlangsung amat singkat (paling lama beberapa menit). Filter matahari dapat menurunkan intensitas pancaran, dan baru dikatakan aman apabila sudah dikurangi hingga 1/100000 intensitas aslinya. Untuk pemakaian, biasanya filter matahari dijadikan kacamata, atau dilekatkan pada teleskop dan kamera. Karena filter matahari barangkali bukan benda yang diketahui umum, cara lain adalah dengan memantulkan gerhana ke dinding menggunakan kamera lubang jarum. Kemudian, bisa juga menggunakan masker las (welding mask) 14. Cara lain tidaklah aman.

Sebagai informasi, filter matahari dalam bentuk lembaran dapat dibeli di beberapa toko online, misalnya tokoteleskop.com. Beberapa komunitas seperti Himastron ITB dan Cakrawala UPI menjualnya dalam bentuk kacamata, dan kamera lubang jarum dapat dibuat sendiri dengan peralatan sederhana menggunakan instruksi dari Himastron ITB di tautan ini.

Gerhana matahari kali ini dapat dilihat dari seluruh Indonesia, walaupun hanya daerah tertentu yang dapat menikmati totalitas. Sejumlah organisasi dan komunitas sudah mempersiapkan pengamatan di berbagai titik, diantaranya Ternate, Lampung, Bangka-Belitung, Palangkaraya, dan lain-lain. Di Bandung sendiri akan ada empat lokasi pengamatan yang terbuka untuk umum. Pertama, dari kerjasama Himastron ITB, Cakrawala UPI, dan Kapella Unpad, maka peminat dapat menuju Monumen Perjuangan Dipati Ukur, kampus UPI Setiabudi, dan kampus Unpad Jatinangor. Kedua, dari Observatorium Bosscha, Lembang, yang mengadakan kesempatan kunjungan terbuka khusus gerhana. Gerhana akan dimulai sekitar pukul 6.20, dengan totalitas sekitar pukul 7.19. Bandung akan bisa menikmati gerhana matahari sebagian hingga 88%.

Selain menjadi peristiwa sains unik yang bisa dinikmati segala lapisan masyarakat, gerhana kali ini juga menjadi momentum bagi para penggiat ilmu langit dan alam semesta. Astronomi seketika naik daun. Pemerintah daerah di kota-kota yang dilewati jalur totalitas mengharapkan pemasukan dari kunjungan turis dan dorongan pada sektor pendidikan. Pandangan khalayak ramai tertuju pada eksotisme ilmu astronomi, komunitas saling menemukan satu sama lain, dan utamanya tentu diharapkan sinergi ini dapat berlangsung jauh setelah bulan meninggalkan sang surya.

Oleh: Lisa Santika Onggrid (AS ’13)

Komentar