Sastra

Makan Malam Maut

Judul The Deadly Dinner Party & Other Medical Detective Stories
Pengarang Jonathan A. Edlow, M.D.
Tahun 2009
Penerbit Yale University Press

Oleh: Lisa Santika Onggrid

Terlepas dari judulnya, kumpulan cerita, buku ini bukanlah fiksi. “The Deadly Dinner Party” mengetengahkan dua belas kasus medis yang unik dan mencengangkan hasil kurasi sang pengarang yang juga merupakan seorang lulusan sekolah kedokteran. Buku ini membawa jiwa yang sama dengan buku Berton Roueche pada tahun 1980, The Medical Detectives, yang memperkenalkan masyarakat pada kejadian-kejadian mencengangkan yang ditemui, ditangani, dan dipecahkan oleh para dokter dan petugas epidemi layaknya sekelompok detektif.

Terbagi atas tiga kelompok kisah, buku ini memuat 15 cerita secara keseluruhan. Bagian pertama, Human Meets Pathogen, terdiri atas lima kasus pasien terinfeksi bakteri dan virus secara tidak sengaja dari elemen yang terkontaminasi, misalnya minyak bawang, air mandi, hingga jus apel. Bagian kedua, The External Environment, memuat empat cerita penyakit yang diawali oleh lingkungan yang tidak baik, dan membawa pembaca lebih jeli mengenali bahaya pekerjaan yang kadang luput dari pengamatan. Enam cerita terakhir menjadi bagian kelompok ketiga, The Internal Milieu, yang mengisahkan penyakit yang terjadi karena permasalahan dalam kerja fungsi tubuh.

Banyak pelajaran yang bisa didapat dari buku ini, terutama dalam hal persiapan makanan karena banyak kejadian dimulai dan tersebar melalui medium ini. Ditekankan secara khusus adalah pentingnya memastikan tanggal kadaluarsa ketika membeli barang, memastikan proses memasak selalu dilakukan dengan baik agar pemanasan membunuh patogen yang masih mungkin melekat pada bahan mentah, dan teliti membeli barang, hal-hal yang biasanya masih dianggap sepele (The Deadly Dinner Party). Penting pula agar orang yang berada di sepembacar makanan untuk menjaga kebersihan diri agar tidak menularkan penyakit pada makanan yang menjadi tanggungjawabnya (Everywhere that Mary Went).

Bagi pelaku bisnis, beberapa kejadian dalam buku ini memperingatkan untuk memberi perhatian lebih dalam proses manufaktur. Kontaminasi dalam benda yang dijual bebas menimbulkan banyak korban dan lebih sulit dihindari. Dalam salah satu kisah, polusi sungai di pabrik pengalengan daging menjadi penyebab. Dalam kisah yang lain, penanganan proses yang kurang baik menyebabkan bakteri menghinggapi produk. Ada pula kasus kurangnya aliran udara pada sebuah kantor yang menyebabkan sebagian karyawannya jatuh sakit, dan pekerja pabrik yang keracunan senyawa yang dipakai dalam proses karena bercampur dengan kebiasaan merokok di lokasi rawan (An Airtight Case dan Monday Morning Fever).

Terakhir, buku ini memperingatkan untuk perhatian pada kesehatan pribadi karena gejala yang terlihat wajar ternyata mampu menyembunyikan penyakit berbahaya. Apabila terlambat ditangani, bisa fatal akibatnya. Berbohong atau menyembunyikan sesuatu dari dokter juga menghambat penyelesaian masalah. Namun, disorot pula sisi lain dari mereka yang tidak mawas kesehatan diri. Beberapa kasus berkutat pada penggunaan produk kesehatan berlebihan yang menyebabkan keracunan vitamin dan masalah fisiologis lainnya (Feeling His Oats, Little Luisa’s Blinding Headache, Too Much of a Good Thing).

Membaca buku ini mungkin dapat menyebabkan seseorang menjadi takut berlebihan. Terasa ada begitu banyak hal sederhana yang dapat mendekatkan manusia pada penyakit sehingga pembaca seharusnya bersyukur akan tubuh yang sehat. Namun demikian, perlu dicatat bahwa penyakit-penyakit yang disorot dalam buku seperti ini sebenarnya tergolong jarang di kehidupan nyata, dikenal dengan sebutan zebra. Tetapi, saran pencegahan yang diberikan bersifat umum.

Pengarang berusaha menjelaskan sebanyak mungkin dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat awam, namun pada beberapa bagian akan sulit diikuti tanpa pengetahuan dasar karena banyaknya jargon kedokteran yang dipakai. Selain itu, usaha pengarang untuk memberi informasi latar belakang dan sejarah suatu penyakit dapat membuat pembaca malah melupakan kasus utama yang tengah dibahas karena demikian panjangnya. Kecenderungan pengarang untuk memulai suatu kasus, lalu meninggalkannya untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan, baru kembali lagi untuk mengakhirinya, adalah pendekatan yang mungkin akan disukai sebagian pembaca dan dihindari oleh pembaca lainnya.

Saya menyarankan buku ini bagi orang-orang yang tertarik dunia medis, pelajar kedokteran dan farmasi, serta penggemar kisah misteri. Terlepas segala kekurangan naratifnya, “The Deadly Dinner Party” cukup layak dibaca. Setidaknya, setelah membaca buku ini, pembaca dapat memberi apresiasi lebih pada para praktisi kesehatan, dan mengerti bahwa dokter pun punya batasan dalam memberi diagnosis. Apabila menyukai buku ini, dokter Oliver Sacks juga menulis buku serupa berjudul “The Man Who Mistook His Wife for a Hat” yang memuat kasus-kasus yang ditemuinya sebagai seorang spesialis saraf, namun dengan muatan medis dan filosofis yang lebih berat. Sebagai informasi, materi dalam kedua buku ini mengilhami serial televisi medis Amerika yang cukup terkenal, House.

Sumber gambar: workingnurse.com

Komentar