Berita Featured

Mendidik Televisi, Mendidik Masyarakat

Rabu, 30 Maret 2016 malam, area Teater Terbuka Museum Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dipadati mahasiswa. Angin dingin tak menyurutkan semangat, terbukti dengan kedatangan pengunjung yang terus bertambah seiring waktu. Lampu sorot dinyalakan, tirai panggung terkembang. Ada apa gerangan?

Isola Pos, unit pers mahasiswa UPI menggelar ‘Bincang Isola’ yang keempat pada hari ini. ‘Bincang Isola’ menghadirkan narasumber dari pakar di bidangnya kepada mahasiswa dan pers mahasiswa di daerah Bandung Raya untuk menghidupkan suasana diskusi yang semarak dan mendidik. Sebelumnya, topik yang diusung adalah ‘Buruh Honorer’, ‘Pendidikan Antikorupsi’, serta ‘Pendidikan Profesi Guru’. Untuk bulan Maret, topik terpilih adalah ‘Mendidik Televisi’.

Televisi bukan barang baru bagi masyarakat. Penelitian dari Open Society Foundation dan firma Nielsen menunjukkan bahwa televisi masih menjadi media yang merajai ranah penyampaian informasi di Indonesia, meskipun jaringan internet terus menggempur. Otomatis, sebagai perwakilan utama pembawa nilai, posisi televisi harus ditanggapi dengan cermat dan kritis. Diskusi berdurasi dua jam ini menghadirkan ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar Dedeh Fardia, ketua departemen psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan UPI Engkos Kosasih, ketua Ikatan Jurnalisme Televisi Indonesia (IJTI) Dicky Wismara, ketua Gerakan Masyarakat Peduli Pendidikan (GMPP) Hari Santoni, dan ketua Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Budhi Purnama.

Sekitar pukul 19.00 acara dibuka. Minuman hangat dan makanan ringan diedarkan, MC memecah suasana dengan memperkenalkan acara pembuka malam itu. Lima dara maju ke panggung, masing-masing membawa alat musik. Diperkenalkan sebagai kelompok keroncong Rana Sinar, mereka memukau penonton lewat alunan ‘Pernah Muda’, ‘Bengawan Solo’, dan ‘Cintaku’. Usai tampil, moderator Melanie Agustin mengambil alih forum. Diskusi dimulai.

Moderator melontarkan satu-dua pertanyaan kepada pemirsa untuk mengawali bincang, menggali pendapat umum dari peserta mengenai pandangan mereka terhadap pertelevisian Indonesia. Sayangnya, ada kesan opini tergiring ke arah yang negatif pada bagian ini melalui penyusunan pertanyaan yang seolah memojokkan. Meskipun demikian, semua peserta yang ditanyai memang menanggapi bahwa arah pertelevisian Indonesia tengah berada di kondisi yang buruk.

Selanjutnya, seorang narasumber mengisahkan ulah anaknya yang meniru sinetron ketika berbicara dengan orang tua, sebuah bentuk ketidaksopanan yang mencemaskan. Kesibukan beliau sebagai pendidik membuatnya tidak dapat selalu mengawasi tontonan sang buah hati. Ia berkomentar bahwa tayangan televisi Indonesia sangat tidak baik untuk perkembangan moral dan akhlak anak-anak.

Bapak Engkos Kosasih mengingatkan bahwa sejatinya seluruh tayangan adalah informasi dan seluruh informasi tujuannya bermanfaat bagi masyarakat secara umum. Beliau memberi rekomendasi pada KPI agar membuat regulasi yang mengharuskan setiap tayangan memperhatikan dampaknya pada tumbuh kembang anak dan menanamkan nilai-nilai untuk membentuk manusia secara utuh berdasar Pancasila, terutama sila Ketuhanan. Beliau mengeluhkan bahwa seringkali terlihat tidak jelas posisi yang diambil stasiun televisi dalam hal ini (sehingga menyulitkan kontrol).

Diskusi mengalir hangat, dengan penyampaian ibu Dedeh Fardia mengenai KPI, kewenangannya dalam regulasi, serta kondisi KPID Jabar saat ini. Sebutnya, di Jawa Barat saja ada 532 media penyiaran yang terdiri dari televisi dan radio. Padahal, semuanya harus dipantau 24 jam oleh sumber daya manusia minimal sehingga KPI bergantung cukup kuat pada kerjasama dengan LSM serta aduan masyarakat. Hal ini jugalah yang menurut beliau menjadi alasan KPI cenderung bersikap reaktif, bukan preventif. Mekanisme yang sekarang dijalankan di KPI memungkinkan sebuah tayangan tetap berjalan ketika dianggap bermasalah karena diberi himbauan dan teguran terlebih dahulu. Sepanjang tahun 2015 ada bermacam acara yang ditegur, termasuk berita yang memuat kekerasan berlebih dan penayangan gambar atau rekaman yang tidak etis. Penghentian adalah langkah terakhir, dan sejauh ini sudah ada beberapa acara TV yang masuk daftar cekal akibat pelanggaran berulang.

Bapak Dicky Wismara dari IJTI, yang juga merupakan awak media MNC, mengakui bahwa TV tidak lepas dari rating. Hukum ekonomi berlaku, permintaan dan penawaran amatlah menentukan. Selain itu, kebutuhan kecepatan informasi saat ini sayangnya tidak selalu diikuti ketepatan. Namun, menurutnya, di stasiun TV tetap ada aturan untuk menentukan apakah suatu konten layak tayang. “Sebisa mungkin, gambar yang dirasa akan di-blur diusahakan untuk tidak diambil.” Selain itu, setiap enam bulan sekali di media tempat beliau bekerja ada pelatihan jurnalis untuk memastikan kualitas.

Afiliasi Pak Dicky dengan MNC sempat menjadi sasaran tembak bapak Hari Santoni dari GMPP. Beliau menyebut judul-judul acara yang menurutnya tergolong tidak sehat bersama dengan saran kepada KPI untuk menghentikannya. Menambah panas suasana, beliau menunjuk penunggangan stasiun TV dan unit media untuk kepentingan politik pemilik konglomerasi, mengingat kondisi media Indonesia yang dimonopoli kelompok-kelompok besar. Penjadwalan program TV amburadul akibat kuasa kepentingan bisnis ini, pendapatnya. “Membuyarkan tataran moralitas yang kita jaga dari dulu.” Sebuah stasiun TV bisa menyajikan ceramah rohani tentang dosa ghibah pada siang hari dan menampilkan acara hipnotis yang membuka aib diri sendiri dan orang lain pada sore hari. Suatu acara diberhentikan KPI, minggu berikutnya acara yang persis sama tampil lagi, hanya berbeda nama. Dikisahkan pak Hari, keadaan dahulu jauh berbeda. Selain mutu tayangan yang lebih baik, bahkan ada pula perhatian untuk tunarungu agar dapat turut menikmati televisi.

Pemirsa ikut sumbang suara. Mahasiswa dengan ragam latar belakang dan asal instansi memberi masukan, walaupun terlihat ada dominasi dari jurusan Ilmu Komunikasi. Ada yang menyarankan KPI agar memastikan acara TV tak lupa menyisipkan nilai budaya, ada yang memuji gerak KPI yang terus berusaha walaupun dihadang beragam masalah, ada juga yang melempar tanya balik seputar penunggang-penunggang kepentingan stasiun TV. Senada dengan para narasumber, pemirsa menyetujui bahwa dalam usaha mendidik pertelevisian Indonesia, yang tak kalah penting adalah mendidik masyarakat.

Kebanyakan konsumen TV adalah masyarakat kelas bawah yang tidak tersentuh pendidikan, sehingga kaum intelektual harus dapat membantu membuat TV yang lebih baik. Apabila penonton tercerdaskan, semua pihak meyakini bahwa TV yang sadar rating pasti otomatis akan membaik. Hanya saja, suara-suara bernada prihatin terus terdengar, yang menyatakan usaha mendidik masyarakat ini hampir tidak ada harapan. Pasalnya, mengutip salah satu hadirin yang berbicara, “Sudah terlambat.” Mereka yang pesimis menyatakan masyarakat sudah terlalu terbiasa dibombardir konten negatif hingga tidak terasa mengejutkan lagi.

Bu Dedeh menegaskan bahwa hal ini masih bisa diperbaiki dengan aduan masyarakat. “KPI tidak berjualan, tidak terima omset,” jawab beliau ketika kenetralan KPI dalam pemberhentian tayangan dipertanyakan. Beliau juga berulangkali mengingatkan KPI sudah biasa dimaki dan dihina dalam menjalankan tugasnya. “Stasiun TV takut kalau masyarakat cerdas. Sebagai buktinya beliau bercerita bahwa saat akan diadakan uji publik tahun 2015 lalu soal stasiun TV yang akan habis masa berlaku izinnya, ada tentangan dari berbagai sisi. Hasil uji publik tersebut sekarang tengah diproses. Sebagai penutup, beliau menunjukkan cara pelaporan yang efektif. KPI dapat dihubungi melalui media sosial, surel, sms, dan kedatangan langsung. Contoh penggunaan media sosial adalah Twitter dengan nama pengguna @kpidjabar1. Dalam laporan usahakan menyertakan informasi sebanyak-banyaknya, termasuk nama acara, adegan yang dianggap tidak patut, waktu penayangan, dan nama stasiun TV yang menayangkan.

Moderator meringkas pendapat yang telah disampaikan tanpa mengambil kesimpulan. Para narasumber diberi hadiah buku “Dari Isola ke Bumi Siliwangi”. Sebelum dibubarkan, MC sekali lagi kembali ke panggung untuk mengumumkan pemenang hadiah kaos dari Doods_ID. Kuis yang dibuka bersamaan dengan awal acara itu mendorong peserta diskusi untuk mengunggah foto atau kutipan di Instagram dengan keterangan gambar seunik mungkin. Bir pletok dan kacang rebus telah habis, begitu pula diskusi yang diiringinya. Kaki-kaki melangkah menjauh dari Teater Terbuka, namun pemikiran yang terbangkitkan di benak sepanjang jalannya acara tentu tidak hilang begitu saja.

Oleh: Lisa Santika Onggrid

Komentar