Artikel

MWA WM: Saatnya Mahasiswa Memengaruhi Kebijakan

Tahukah Anda bahwa saat ini sedang berlangsung pemungutan suara untuk ketua MWA WM ITB? Pernah datang ke salah satu hearingnya? Atau bahkan mungkin Anda belum mengenal, apa itu MWA WM?

Oleh: Margareta Vania Stephanie dan Nurina Maretha R.

Tahukah Anda bahwa saat ini sedang berlangsung pemungutan suara untuk ketua MWA WM ITB? Pernah datang ke salah satu hearingnya? Atau bahkan mungkin Anda belum mengenal, apa itu MWA WM?

Sejak tahun 2013, ITB telah ditetapkan sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH). Ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri dimana ITB menjadi kepercayaan untuk menjadi perguruan tinggi yang mandiri. ITB mulai merintis sebagai Badan Hukum Milik Negara sejak tahun 2000 sebagai implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Indonesia No 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri sebagai Badan Hukum. Perintisan ini memberikan efek yang cukup besar kepada kemahasiswaan ITB saat itu yaitu, lahirnya Majelis Wali Amanat – Wakil Mahasiswa (MWA-WM).

Pasal 23 pada PP No. 155 Tahun 2000 tentang Penetapan Institut Teknologi Bandung sebagai Badan Hukum Milik Negara, menyatakan bahwa Majelis Wali Amanat (MWA) adalah organ tertinggi institut yang mewakili kepentingan pemerintah dan masyarakat, yang bertanggung jawab kepada menteri. Keanggotaan MWA ITB  sendiri terdiri dari satu orang yang mewakili menteri, satu orang yang mewakili Pemda Jabar, rektor ITB, enam orang yang mewakili senat akademik, satu orang yang mewakili alumni, delapan orang masyarakat umum, satu orang yang mewakili pegawai non-akademik, dan satu orang yang mewakili mahasiswa.

Melihat keanggotaannya yang bukan orang biasa-biasa saja, tugas MWA ITB tentu cukup berat yaitu beberapa diantaranya adalah memelihara kondisi keuangan ITB, menetapkan kebijakan umum institut dalam bidang non-akademik, mengangkat dan memberhentikan pimpinan institut serta menangani penyelesaian tertinggi atas masalah-masalah dalam institut.   Maka, mahasiswa yang terlibat dalam MWA ITB punya suara penting untuk ikut mengontrol keberjalanan institut. Sejak saat itu, perwakilan mahasiswa di MWA ITB dipilih dengan mekanisme pemilu raya KM ITB. Mulai dari tahun 2001, KM ITB selalu mengirimkan wakilnya di MWA ITB, diawali dari Ryan (IF’97) yang menjabat sebagai perwakilan pertama mahasiswa di MWA ITB pada perioda kepengurusan 2001/2002.

MWA ITB merupakan organ yang dinamis dimana setiap tiga tahun sekali hal-hal yang dicapai MWA ITB berbeda-beda, misalkan pada tahun 2001-2003, MWA ITB menetapkan aturan dasar dan keorganisasian. Kemudian 2003-2006, MWA ITB berhasil menyusun konsep pengembangan ITB, penyempurnaan Aturan Tata Kelola, pembentukan dewan audit (DA), satuan usaha komersial (SUK) dan satuan kekayaan dana (SKD). Pada tahun-tahun terakhir yaitu 2009-2012, MWA ITB menyelesaikan penguatan kesehatan sistem keuangan wajar tanpa pengecualian (WTP), penguatan jejaring dan visi masa depan, kebijakan multi kampus, dana abadi dan beasiswa.

PP No. 65 tahun 2013 tentang Statuta Institut Teknologi Bandung sebagai Perguruan Tinggi Badan Hukum (PTN BH) telah ditandatangani Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden Republik Indonesia tahun 2013. Dalam statuta dijelaskan bahwa MWA mendelegasikan penyelenggaraan kegiatan Tridharma perguruan tinggi serta seluruh kegiatan penunjang dan pendukung lainnya kepada rektor. Anggota MWA diangkat untuk masa jabatan 5 tahun kecuali anggota MWA yang berasal dari mahasiswa diangkat untuk masa jabatan 1 tahun.

Pemilu raya untuk memilih dan menentukan MWA-WM dimulai lagi tahun 2014 dengan MWA-WM terakhir adalah Anna Fitriana (Fi’11) pada periode 2015-2016

Massa Kampus tak Menyadari Keberadaan MWA WM

Pemira MWA WM dua tahun lalu dilaksanakan berdampingan dengan Pemira K3M ITB, hasilnya terpilih Aulia Maharani atau akrab disapa Aussi (AE’10). Sedangkan tahun lalu, Anna terpilih sebagai ketua MWA WM dalam FPT bersama Kongres KM ITB. Tahun ini Pemira MWA WM kembali bergema dan berjalan terpisah dengan Pemira K3M.

Dengan adanya pemira kembali, kehadiran MWA WM lebih tersuasanakan di kampus ITB. Namun tetap saja mayoritas massa kampus masih tak mengenal MWA WM. “Menurut saya sendiri lebih baik disatukan dengan Pemira K3M karena kebanyakan orang lebih kenal K3M, sehingga lebih mudah mempopulerkan MWA WM bersama K3M.” tutur Arief (BA’14), Ketua Panitia Pelaksana Pemira MWA WM 2016. Bagi segmen massa kampus pengamat pergerakan terpusat, Pemira yang terpisah akan lebih terasa pensuasanaan dan penokohan MWA WM-nya. Namun bagi segmen massa kampus yang kurang mengamati, Pemira MWA WM semakin tenggelam tanpa didampingi Pemira K3M.

Berpisahnya dua Pemilu Raya ini sudah dibahas dalam Sidang Istimewa Kongres KM ITB 2015 silam. Bukan tanpa sengaja, Pemira MWA WM dan Pemira K3M dipisah atas isu periodesasi. Periodesasi serentak menghendaki pergantian kepengurusan lembaga di ITB pada bulan Desember. Sedangkan MWA WM sendiri memiliki SK kapan MWA WM diangkat dan diberhentikan. Bisa saja diubah, namun bukan hal yang mudah dalam mengubah SK tersebut, karena dalam forum MWA ITB, hanya elemen mahasiswa yang diduduki selama setahun.

Jika diperhatikan, MWA WM memiliki fungsi strategis yang sangat penting, berbeda dengan Presiden KM ITB, Kongres KM ITB, atau elemen lembaga lainnya. MWA WM menjadi penghubung antara mahasiswa dan elemen-elemen penting penentu kebijakan. Maka, fungsi MWA WM cukup vital. MWA WM yang merupakan representasi mahasiswa memiliki porsi yang sama besar dengan rektor, gubernur dan elemen lainnya dalam menentukan kebijakan yang nantinya akan diterapkan untuk mahasiswa sendiri.

Massa kampus tak menyadari keberadaan MWA WM, hal tersebut menjadi evaluasi tersendiri bagi pengurus struktural MWA WM. Layaknya senator yang membawa suara lembaga himpunannya di forum kongres, MWA WM membawa suara mahasiswanya ke forum MWA. Jika mahasiswanya tidak menyadari keberadaan MWA WM, lantas selama ini MWA WM membawa suara siapa? Apakah suara stakeholder sudah representatif?

Mahasiswa Kembali Memilih MWA WM

Pemira MWA WM diramaikan oleh tiga orang yang mengajukan diri sebagai calon ketua MWA WM ITB. Mereka adalah M. Arya Zamal (TI’12), M. Farhan Basyari (KI’12), dan Alifian Mahardhika (FI’12).

Ketiganya menyadari akan sunyinya nama MWA WM di kalangan mahasiswa. Berangkat dari ketidaktahuannya soal kode etik mahasiswa dan peran MWA WM di dalamnya, Arya yang kala itu menjadi Ketua Himpunan MTI gelisah akan kekrisisan informasi ini.

Sedangkan Farhan, menyadari bahwa upaya untuk ‘menjembatani’ masih saja menghadapi kendala. Menurut Ketua HMK AMISCA 2015-2016 ini, permasalah ini diakibatkan oleh kurangnya partisipasi mahasiswa dalam menyampaikan informasi kepada MWA melalui MWA WM. Berbeda dengan dua calon lainya yang merupakan mantan ketua himpunan, Fian sudah bergelut di dunia MWA WM sebelumnya menjadi Kepala Divis Eksternal dan Lembaga. Namun, dia tak mengelak akan banyaknya evaluasi pada keberjalanan MWA WM dari masa ke masa. Karena kegelisahan demi kegelisahan, dia berniat untuk membuka sejarah baru untuk MWA WM yang lebih baik.

Bagi Arya, keutuhan dan kemajuan ITB berdasarkan nilai luhur ITB perlu dijunjung tinggi. Demi mewujudkannya, Arya menitikberatkan pada sinergisasi, informasi untuk pendidikan politik, aspirasi dengan mekanisme kontrol, dan progresif. Terdapat tiga fokus isu yang akan dibawa, yaitu pengelolaan kekayaan ITB yang akan melingkupi alokasi dana UKT dan riset, pembangunan dan pengembangan ITB utamanya dalam isu multikampus, dan kode etik mahasiswa.

Program unggulan yang diajukan memiliki alur edukasi, kesadaran, pemahaman, hingga tindakan. Arya mencanangkan Senja Bersama Zamal dalam bentuk
sebagai edukasi. Lalu program “Saya Anjurkan Ikut Lomba Debat Deh! (Sayur Lodeh)” dan “Saya Anjurkan untuk Membuat Tulisan Asli dan Bagus Cekali (Sambal ABC)” sebagai sarana menanamkan kesadaran dan pemahaman serta “Bersama Rektor” sebagai tindakan.

Sedangkan Farhan, dalam visinya, dia ingin mengawal ITB menuju World Class University. Misinya adalah dengan menyampaikan informasi, mendorong empati, dan meningkatkan partisipasi  aktif mahasiswa. Fokus isu yang akan dibangun meliputi multikampus, BOPTN, kebijakan akademik, ITB 2025, postur akademik, postur anggaran, dan RKAT 2016.

Demi mendukung langkah-langkahnya, Farhan mengajukan beberapa program unggulan. Diantaranya adalah katalog isu berupa jurnal MWA WM, “Sepucuk Aspirasi” berupa forum komunikasi bersama elemen kampus, “Punten Nya” berupa sarasehan dan survey kondisi mahasiswa ITB menanggapi kebijakan ITB, “Sinema Empati” berupa video seputar opini isu dan hasi keputusan MWA, dan INKUBATOR (Inklusif Kumpul bareng Rektor).

Lain halnya dengan Fian, dia ingin menciptakan MWA WM yang representatif demi terwujudnya ITB progresif-bermanfaat. Fokus pada internal, Fian ingin membentuk MWA WM yang solid, dan inklusif, serta mengoptimalkan perannya. Untuk eksternal, Fian ingin menciptakan mekanisme kajian isu secara kolaboratif dalam rapat kahim, diskusi panel dan kongres, serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa.

Hearing Sebagai Sarana Pengenalan MWA WM

Berbeda dengan hearing K3M yang diwarnai tantangan massa serta pertanyaan-pertanyaan yang terkesan menguji calon K3M. Hearing MWA WM justru terkesan mengenalkan isu-isu yang biasa dibahas di MWA kepada massa kampus. Banyak massa yang mengakui baru mengetahui adanya isu tersebut, banyak pertanyaan yang memang timbul karena ketidaktahuan massa kampus. Namun, tetap masih didapatkan pertanyaan-pertanyaan menguji.

Hearing tidak hanya dilakukan kepada mahasiswa S1 ITB. Karena MWA WM juga membawa suara lain dalam forum MWA, hearing berupa forum sosialisasi juga diberikan untuk mahasiswa D3, S2, S3, dan Profesi.

Jatinangor banyak mempertanyakan isu multikampus. ITB mulai manjadi multikampus sejak didirikannya Jatinangor, dan kini forum MWA banyak membahas akan adanya kampus ITB di beberapa kota lainya. Muncul banyak pertanyaan di hearing Jatinangor seputar isu multikampus, seperti apa sebenarnya masalah konkret sistem multikampus? Apakah MWA WM sudah siap dengan rencana multikampus?

Arya berpendapat bahwa masalahnya adalah hak pemenuhan kebutuhan dasar mahasiswa, namun masalah ini telah diatasi dengan sistem yang mendukung, seperti transnagor. Senada dengan Arya, Farhan juga mengatakan bahwa masalahnya adalah hak akses. Farhan menambahkan bahwa sistem multikampus belum berjalan dengan baik, masih dalam tahap optimalisasi. Lalu Fian menceritakan latar belakang multikampus dibentuk. “Pemerintah pusat meminta ITB membuat sistem multikampus untuk menaikkan PDB di Jawa Barat. Pelaksaannya diharapkan dapat mendongkrak pendapatan daerah-daerah di Jawa Barat,” tuturnya.

Mengenai kesiapan menghadapi sistem multikapus, ketiga calon menegaskan siap, dengan adanya semacam koordinator perwakilan untuk setiap kampus dalam struktur masing-masing.

Hearing Ganesha pun tak kalah seru, ada pembasahan mengenai postur akademik dan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN). Postur akademik bicara soal kurikulum, mata kuliah, serta program studi sedangkan BOPTN membahas anggaran dan alokasi dana untuk biaya pendidikan tinggi di Indonesia. Selain isu-isu, forum-forum hearing juga banyak mengevaluasi kinerja MWA WM selama ini yang dianggap kurang transparan.
Hearing TPB pun tak kalah menarik dengan banyaknya pertanyaan yang mendasar pada apa sebenarnya MWA WM?

Saatnya Memilih

Masa kampanye sudah berakhir, hearing pun sudah dituntaskan. Kini sedang berlangsung pemungutan suara hingga esok hari. Seperti yang mereka katakan, mereka tak bisa bergerak seorang diri, butuh dukungan dan partisipasi massa untuk mencapai apapun visi mereka, karena pada dasarnya MWA WM adalah jembatan antara mahasiswa dengan pihak-pihak penentu kebijakan. Jangan hanya mengeluh pada sistem yang sudah ada, tetapi jadilah salah satu suara yang menentukan terbentuknya sistem dan kebijakan tersebut. Selamat memilih!

Komentar