Artikel Featured

Rencana Besar Rektorat untuk Kaderisasi di ITB

Baru saja massa kampus dikagetkan dengan munculnya pedoman umum orientasi studi himpunan prodi. Mayoritas himpunan pada awalnya menolak. Diplomasi, advokasi, dan negosiasi dilakukan. Akan tetapi, pihak rektorat tetap bergeming. Mengapa pihak rektorat diam saja melihat hal ini? Apakah ini hanyalah awal untuk sebuah program yang dicanangkan lebih jauh?

Berbincang dengan wakil retor bidang akademik dan kemahasiswaan, Prof. Ir. Bermawi P. Iskandar, M.Sc., Ph.D.,  kami mendapatkan bocoran mengenai rencana rektorat terkait pengembangan karakter mahasiswa. Bersumber dari DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri), yakni sebuah survei yang dilaksanakan oleh CDC (Career Development Center) ITB, memetakan kepuasan pengguna lulusan ITB (perusahaan). Pada survei ini, CDC menemukan adanya 5 karakter mahasiswa ITB yang di bawah keinginan pengguna. Karakter tersebut dari yang terburuk adalah loyalitas, etika, EQ (Emotional Quotion), kejujuran dan teamwork. Menurut Bermawi, lulusan ITB terkenal kutu loncat dan hal ini menjawab mengapa loyalitas berada pada tingkatan terendah.

Menimbang banyaknya karakter mahasiswa yang mempunyai nilai di bawah yang diinginkan perusahaan dari DUDI, Rektorat membentuk sebuah tim yang berfokus pada pengembangan karakter mahasiswa ITB. Tim ini diketuai oleh kepala Komisi Penegakan Norma Akademik dan diwakili oleh kepala LTPB dengan anggota UPT Asrama dan Lembaga Kemahasiswaan. Dari tim ini, tercetuslah istilah NKRI-Prestasi (NKRI-P). Menurut Bermawi, NKRI-P ini menjadi jawaban atas kurangnya beberapa profil dari lulusan ITB.

Apakah NKRI-P? ‘N’ adalah nasionalisme. Nasionalisme yang ingin dibangun oleh tim ini adalah kepedulian terhadap tanah air. ‘K’ adalah kreativitas. Pihak rektorat menimbang bahwa mahasiswa ITB dinilai nomor satu dalam hal akademik. Oleh karena itu, apabila dipadukan dengan kreativitas tinggi maka akan tercipta inovasi-inovasi dengan kualitas tinggi. Sikap kreatif ini berlawanan dengan plagiarisme, sebuah sifat yang ingin dihapus oleh pihak rektorat dalam semua hal termasuk tugas. ‘R’ adalah respek. Pihak rektorat melihat bahwa mahasiswa ITB memiliki kemampuan akademik yang tinggi akan cenderung untuk mempunyai kepercayaan diri yang tinggi yang mengarah pada arogansi. Data-data karakter negatif yang diambil dari perusahaan pengguna lulusan ITB secara kasual mencantumkan karakter arogansi ini.  Berdasarkan pengamatan Bermawi, alumni ITB unggul apabila parameternya hanyalah hadskill. Akan tetapi, bila dipadukan dengan softskill, alumni ITB sering kali kalah dengan alumni kampus lainnya, dan arogansi ini adalah penyebab utamanya. Dengan respek, diupayakan arogansi mahasiswa ITB dapat berkurang.. ‘I’ adalah integritas yang menyangkut pada kejujuran. Menurut Bermawi, menimbang bahwa mahasiswa ITB adalah mahasiswa yang mempunyai potensi tinggi dan berpeluang menempati kedudukan yang tinggi pada dunia kerja, kejujuran dalam diri mahasiswa ITB sangat penting. Jangan sampai ketika mendapatkan power, kekuatan itu disalahgunakan. Dengan daya kreatif, kemampuan, dan dengan integritas yang tinggi, diharapkan mahasiswa ITB mempunyai ‘P’, yaitu prestasi.

Berdasarkan penuturan beliau, implementasi dari kebijakan ini adalah akan adanya surat edaran mengenai penerapan karakter NKRI-P kepada seluruh civitas ITB termasuk karyawan. Selanjutnya dilakukan integrasi pada UPT Keasramaan dalam hal penerapan pada acara keasramaan dan pada pengembangan karakter TPB. Beliau merencanakan untuk berbicara dengan unit setelah membicarakan hal ini dengan Himpunan Jurusan-Jurusan (HMJ) dan mendiskusikan kepada dosen baru terkait konsep NKRI-P.

Ketika ditanya keterkaitan NKRI P dengan surat pedoman OS, beliau mengatakan bahwa ingin menjadikan NKRI-P sebagai karakter utama mahasiswa ITB yang terlebih dahulu di bentuk. Karena itu rektorat meminta agar mahasiswa membiasakan respek (lebih berat kepada kesetaraan), kreatif, dan integritas kepada sesama mahasiswa pada tingkatan apapun. Apabila telah terbentuk karakter tersebut, maka nilai-nilai lainnya dapat diberikan kepada mahasiswa dengan tidak melupakan NKRI P.

Cita-cita dari program ini hanyalah memenuhi kepuasan pengguna lulusan ITB yang artinya adalah perusahaan. Ketika dasar dari pembentukan karakter ini adalah pemenuhan kepuasan perusahaan, apakah bisa nanti lulusannya dapat menjadi pelopor pembangunan dan persatuan & kesatuan bangsa? Atau hanya menciptakan robot-robot siap kerja?

Oleh : Izudin Prawiranegara

Sumber : Majalah Boulevard ITB Edisi 78

Komentar