Artikel

Guru Cendekia untuk Generasi Cendekia

Konon, tahap yang paling sulit dicapai dalam proses belajar adalah tahap mampu mengajarkannya kepada orang lain. Seseorang yang mampu meneruskan pengetahuannya akan suatu topik dengan efektif dapat dikatakan telah mempunyai derajat penguasaan terhadap materi itu. Atas alasan ini, guru adalah sebuah profesi yang mulia.

Selama berabad-abad, penguasa-penguasa tak lupa meletakkan seorang guru di dekat mereka. Calon penguasa harus terdidik. Bahkan, tak sedikit orang yang mengingat bagaimana pemegang tampuk pemerintahan di Jepang mendeklarasikan untuk memprioritaskan guru pasca perang dunia kedua, sebab merekalah yang memegang kendali atas masa depan bangsa. Inilah guru, dalam potret terbaik mereka.

Pendidikan di Amerika tengah berada dalam masa sulit. Kekacauan kurikulum, hasil pengajaran yang tidak memuaskan, kontroversi sensor topik pengajaran, rendahnya kualitas dan minat profesi guru. Pukulan demi pukulan dilayangkan di wajah negara adikuasa yang kian panik menyelamatkan generasi mudanya ini.

Pendidikan guru dianggap tak layak menyiapkan angkatan kerja yang memadai mengemban tugas. Sebuah lembaga studi independen Kelompok Nasional Kualitas Guru (National Council on Teacher Quality) merilis sebuah riset fenomenal pada November 2014 yang menyatakan bahwa mendapatkan nilai di pendidikan keguruan amatlah mudah, menghasilkan guru-guru dengan nilai tinggi namun kualitas rendah. Temuan ini alot dibicarakan di berbagai media. Bahkan dengan keadaan demikian, negara ini masih juga mengalami kekurangan guru.

New York Times melaporkan bahwa pada tahun ajaran 2015/2016, guru sedemikian langkanya hingga sekolah-sekolah terpaksa merekrut mahasiswa atau pelaku profesi lain yang belum menerima izin dan uji kelayakan mengajar. Negara Paman Sam tengah menghadapi risiko keruntuhan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya, tak jauh beda. Pendidikan marak dinodai dengan campur tangan kepentingan-kepentingan lain, terjadinya krisis moral dan karakter bangsa, dan dari sisi keguruan sendiri sepinya peminat sudah cukup menunjukkan gejala. Sebuah kenyataan yang pahit bahwa menjadi guru bukanlah pilihan utama sebagian besar siswa, bila dilihat dari sedikitnya siswa yang mengajukan diri apabila pertanyaan sederhana ini dilontarkan di ruang kelas. Lebih nyata lagi apabila ditanyakan kepada siswa kelas XII SMA yang bersiap bertolak menuju pendidikan tinggi.

Sedihnya, berdasarkan pengalaman pribadi, ada kesan bahwa jurusan keguruan adalah pilihan terakhir. Apabila jurusan ilmu murni banyak diisi oleh mereka yang gagal mendapatkan jurusan teknik atau kedokteran impian, jurusan keguruan diisi mereka yang gagal meraih ilmu murni pula. Saya rasa, ini adalah pernyataan yang sangat kasar, apalagi tidak dibarengi oleh data yang resmi. Perlu observasi mendalam dan survei yang mumpuni untuk dapat membuat klaim lebih lanjut, namun inilah yang saya temukan berdasarkan angkatan saya sendiri.

Memang, guru bukanlah profesi yang gampang. Sayangnya, kompensasi yang diterima para guru, terutama mereka yang telah berani mengajar ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) yang memang sangat membutuhkan intervensi, masih sangat minim. Sering kita dengarkan kisah para guru yang mengorbankan kehidupan pribadi dan mengucurkan dana dari kantong sendiri untuk dapat meneruskan proses pendidikan. Wajarlah kalau generasi muda yang dituntut orangtuanya, generasi ‘ledakan populasi’ Indonesia, untuk mencapai taraf hidup lebih baik, menghindari profesi ini.

Di samping itu, kualitas guru yang sudah ada juga masih bermasalah. Guru dipaksa mengikuti arus zaman, mengikuti perkembangan teknologi, dan menghadapi siswa-siswi yang menuntut alur timbal-balik bukannya ceramah satu arah. Masih banyak guru yang menetapkan pola pikir ‘kebenaran mutlak di tangan guru’ dan sulit menerima perbaikan. Salah-salah, pelajar yang berani menunjukkan kesalahan dianggap menghina. Di luar kelas, guru juga terlibat serangkaian urusan yang kian mencemarkan nama baik profesi. Di bawah tekanan meluluskan siswa, nilai dikatrol, kunci dibagikan, kejujuran dinomorduakan. Di bawah tekanan ekonomi dan jam mengajar yang ketat, kenaikan pangkat diperoleh melalui pemalsuan karya ilmiah. Belum lagi, masih diharuskan memperkaya bahan ajar dengan belajar berkelanjutan…

Untuk benar-benar dapat memberi gambaran masalah dan mencanangkan perubahan, kita membutuhkan informasi. Ketika mengumpulkan data untuk esai ini, saya terbentur pada suatu fakta. Sayangnya, sulit sekali mendapatkan data kinerja guru yang berasal dari institusi resmi terpercaya. Penelitian mengenai persebaran prestasi guru juga masih sangat kurang. Statistik dari pusat data Kemdikbud tertinggal lima tahun.

Jadi, bagaimana sebaiknya? Di sinilah mahasiswa semestinya berperan. Mungkin, memang mahasiswa belum dapat mengubah apa yang terjadi di atas mereka secara besar-besaran. Namun, ketika generasi berganti, merekalah yang akan maju mengambil alih. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran diri untuk menanamkan nilai-nilai profetik semenjak masih berstatus pelajar.

Mengharapkan lembaga pendidikan keguruan untuk berubah sama saja mengharapkan perubahan yang datang dari atas. Oleh karena itu, menurut hemat saya, jauh lebih baik apabila setiap pelajar yang tengah mengenyam ilmu ke arah keguruan untuk paham posisi mereka yang unik. Mereka tengah mempersiapkan diri untuk menjadi guru cendekia untuk generasi masa depan yang cendekia pula. Tentu saja, secara umum ini juga berlaku pada mahasiswa non- keguruan yang berharap atau hendak menjadi seorang guru. Fokus diletakkan pada mahasiswa keguruan sebab mereka memang dilatih untuk tujuan itu.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat definisi cendekia sebagai salah satunya, tajam pikiran, lekas mengerti, dapat mencari jalan keluar masalah, serta terpelajar. Berdasarkan definisi ini dapatlah kita turunkan beberapa modal dasar yang patut dimiliki oleh seorang guru. Pertama, penguasaan ilmu. Kedua, kemampuan berkomunikasi. Ketiga, kerajinan dan ketekunan. Keempat, moral dan etika. Berdasarkan keempat modal ini dapat kita dapatkan lagi karakteristik yang perlu dikembangkan.

Penguasaan ilmu tentunya adalah syarat mutlak. Pepatah lama mengatakan bahwa informasi setengah-setengah jauh lebih membahayakan dibandingkan tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang guru harus membudayakan gemar membaca dan haus informasi. Dengan kemudahan yang ditawarkan teknologi masa kini, sama sekali bukan alasan bahwa waktu yang dimiliki kurang. Setidak-tidaknya, rajin mengikuti perkembangan dan mengevaluasi bahan bidang pelajaran yang diampu. Jangan sampai ada lagi penemuan bahwa guru mata pelajaran kesulitan lulus uji kompetensi, terutama yang akan memegang sekolah dasar. Konon, dasar adalah segalanya. Bahkan, di negara yang diakui keberhasilan pendidikannya seperti Filipina, yang diperbolehkan mengajar SD adalah guru dengan kualifikasi terbaik.

Kemampuan berkomunikasi mencakup bagaimana seseorang dapat mengemas apa yang ingin disampaikannya agar dapat mencapai pemirsanya sebaik mungkin. Mungkin sering ditemui, seseorang yang sangat pintar, namun tidak mampu membagikan pengetahuannya pada orang lain. Karena ini, penting adanya usaha seperti berbagi saran dan simulasi ajar di kalangan pendidik. Jenis murid yang beragam menjadi tantangan pula di aspek ini, maka kesabaran untuk mengenal setiap siswa sebagai individu, bukan sekadar nama di buku absen, amat esensial. Tercakup pula di sini kebesaran hati untuk menerima kritik dan saran, baik dari rekan kerja maupun peserta didik.

Ketiga, dengan begitu banyaknya tuntutan, tak pelak lagi seorang calon guru, dan setelah menjadi guru nantinya, mesti rajin dan tekun. Manajemen waktu antara mempersiapkan materi ajar, membina diri, istirahat, dan kehidupan pribadi tidak dapat disepelekan. Saya pernah menemukan sebuah kelas yang ditinggal karena sang guru pergi berbelanja ke pasar atau menjemput anak. Jelas, ini sama sekali tidak memberi contoh tanggung jawab pada siswa.

Terakhir, namun juga yang terpenting, adalah moral dan etika. Ada istilah sokoguru yang berarti percontohan. Di tengahnya, yang paling mendesak adalah kejujuran. Sungguh sederhana, namun seringkali terlupakan. Apalah artinya menyontek pada ujian? Lama-kelamaan, seseorang akan kehilangan sensitivitas pada sesuatu yang dilakukan berulang kali, dan berbohong menjadi sebuah kewajaran, tindakan otomatis yang dilakukan tanpa pikir panjang. Apalah artinya mengubah sebaris angka pada laporan? Jurnal internasional mencatat sebagian besar hasil penelitian sesungguhnya tak berarti karena manipulasi data, sementara hasilnya sudah dikutip dan diimplementasikan di mana-mana. Apabila kejujuran dipandang sebelah mata, siswa akan mengikuti. Miriskah bahwa ujian nasional sampai harus dikawal angkatan bersenjata? Begitu sulitkah siswa kita dipercaya? Guru-guru dalam pelatihan, jagalah kejujuran. Bagaimana berniat menjadi guru yang baik bila masih akrab dengan plagiarisme dan kecurangan?

Apakah cukup demikian? Tidak. Seperti profesi lainnya, belajar untuk menjadi lebih baik tidak pernah ada akhirnya. Di sini pula, saya hendak menunjukkan, guru bukan profesi yang mudah, apalagi murahan. Butuh komitmen dan keinginan untuk terus tumbuh, tak hanya selembar ijazah.

Saya bukan guru. Setidaknya, untuk saat ini. Bagi saya, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar dan sulit, sebuah perjalanan seumur hidup yang tak dapat diperhitungkan dalam lembar-lembar slip gaji. Namun, dengan egois saya ingin membisik pesan pada mereka yang telah berada, atau akan memasuki, dunia yang sarat tantangan ini, entah atas pilihan sendiri atau suratan takdir. Tentu saja, ucapan terima kasih setulus-tulusnya karena telah mengambil pelita. Inilah amanah. Kalianlah sayap-sayap yang akan merengkuh Indonesia dan kepada kalianlah masa depan akan berkaca. Akankah kita melihat saat ini dari langit biru yang luas, atau masih sibuk mengais-ngais tanah?

Selamat hari pendidikan nasional 2016!

(Lisa Santika Onggrid)

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. “KBBI”. 6 September 2015. http://kbbi.web.id/
Kemdikbud. “E-Kinerja Guru”. 6 September 2015. http://ekinerjaguru.org/index.php?class=&file_id=18
Kemdikbud. ”Statistik dan Analisis”. 6 September 2015. http://pdsp.kemdikbud.go.id/?cont=statistik&sub=VFZFOVBRPT0=
NCTQ. 2014. “Training Our Future Teachers: Easy A’s and What’s Behind Them”.
Rich, Motoko.”Teacher Shortages Spur a Nationwide Hiring Scramble (Credentials Optional)”. 6 September 2015. http://www.nytimes.com/2015/08/10/us/teacher-shortages-spur-a-nationwide- hiring-scramble-credentials-optional.html?_r=0
Togala, Zulrahmat. 2013. “Perbaikan Kualitas Pembelajaran Guru, Titik Awal Menuju Pendidikan Berkualitas”.

Komentar