Berita

Internet of Things Innovation Challenge 2016 : Langkah Menuju Masyarakat yang Cerdas

Kemajuan teknologi tidak terelakkan lagi perkembangannya. Khususnya pada Industry 4.0 atau yang biasa disebut dengan istilah Internet of Things (IoT), hampir semua perusahaan di bidang itu sedang gencar-gencarnya memperbarui dan menginovasi sistemnya sedemikian rupa sehingga semakin mempermudah pekerjaan manusia. Tak mau kalah, Ikatan Mahasiswa Telekomunikasi (IMT) ITB pun turut berpartisipasi dalam isu yang selalu hangat ini melalui kompetisi bertajuk “Internet of Things (IoT) Innovation Challenge 2016”. Mengangkat tema “Future Telecommunication for Smart Society”, ajang ini mengajak para siswa SMA/SMK sederajat dan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk mengambil peran demi terwujudnya masyarakat yang cerdas. Pada Jumat (27/05/16), Aula Barat ITB dipenuhi mahasiswa, akademisi, dan para peserta yang tak sabar menyaksikan seminar dan pengumuman pemenang kompetisi tersebut.
Kompetisi IoT Innovation Challenge mulai dibuka sejak akhir Maret hingga awal April. Shasa Salsabila (Teknik Telekomunikasi 2013) selaku ketua penyelenggara acara menjelaskan bahwa terdapat dua kategori pada kompetisi ini, yakni kategori essay dan karya. Kategori essay dikhususkan untuk siswa-siswi SMA di mana mereka harus membentuk tim yang terdiri atas dua orang. Dari ratusan tim yang mengirimkan naskah essay, terpilih sepuluh tim terbaik untuk selanjutnya mempresentasikan hasil pemikirannya. Lain halnya dengan kategori karya, hanya mahasiswa/umum di seluruh Indonesia yang dapat mendaftar. Peserta pada kategori ini harus mengimplentasikan IoT menggunakan ESP8266 – modul wifi untuk mikrokontroler yang murah. Sepuluh tim terbaik harus merealisasikan ide mereka, mempresentasikannya, dan juga membuat infografis dari karya masing-masing.
Pada kali kedua diselenggarakan, IoT Innovation Challenge menghadirkan hal yang berbeda dengan adanya seminar sebagai puncak acara. Sesi pertama seminar diisi oleh Delegasi Kominfo Indonesia, yaitu Dr. Agung Harsoyo. Beliau memaparkan betapa internet dapat dikaitkan dengan hampir semua hal sehingga sudah saatnya bagi orang-orang meninggalkan paradigma lama. “Seluruh dunia ini sedang belajar, gencar semuanya. Seluruh dunia pengetahuannya sama. Jangan minder!” tegasnya. Sesi berlanjut dengan hadirnya seorang pakar di dunia Telekomunikasi, yakni Dr. Eng. Khoirul Anwar. Bahasannya mengenai perkembangan teknologi IoT semakin membukakan mata para peserta bahwa IoT sebegitu berpengaruhnya pada kehidupan manusia. Pembicara terakhir adalah seorang Project Manager Geeknesia, Yehudha Artha. Geeknesia sendiri ialah suatu platform untuk membuat produk IoT. Yehudha menjelaskan hubungan yang erat antara IoT dan bisnis, juga potensi dari IoT di masa depan. “Apa saja yang bisa kalian pikirkan, bisa kalian buat.” tutup Yehuda dengan penuh keyakinan.
Berakhirnya seminar pertanda semakin dekatnya waktu pengumuman pemenang IoT Innovation Challenge. Raut wajah tegang kian menghiasi para peserta. Dengan pertimbangan dari segi efisiensi, kebermanfaatan, biaya, feasibility, dan presentasi, akhirnya nama-nama tim terbaik pun diumumkan. Untuk kategori essay, Tim Aquaculture Smart System (AQSSYS) dari MA Wahid Hasyim Yogyakarta dengan judul “Pemanfaatan Internet of Things Sebagai Solusi Cerdas Budidaya Ikan” berhasil menduduki juara pertama. Tak hanya itu, Tim BramTy : Your Hydroponic Assistant dari ITB pun meraih posisi pertama pada kategori karya. Tepukan meriah dari pengunjung seminar mengiringi senyuman manis para pemenang.
Selepas acara, Shasa menyampaikan harapan singkatnya setelah IoT Innovation Challenge 2016 terlaksana. “Harapannya, kita ngasih kebermanfaatan ke masyarakat tapi dengan teknologi yang baru. Jadi, kita buat teknologi yang baru tapi nggak cuman untuk yang ahli (teknologi) aja. Kita juga ngebawa masyarakat untuk mengenal internet ini dan menggunakannya dengan bener-bener aplikatif,” ungkap Shasa sekaligus menutup pembicaraan.

Oleh : Sitti Mauludy (FTSL 2015) & Teo Wijayarto (STEI 2015)

Komentar