Berita

Satwikasunda: Cermin Persatuan Lingkung Seni Sunda se-Bandung Raya

“Di zaman serba modern ini, kami merasa kesenian Sunda sudah mulai meredup. Oleh karena itu,  bersama teman-teman dari universitas lain, kami berupaya menyatukan kekuatan dalam satu bingkai budaya sunda. Inti utama dari lustrum kali ini adalah kolaborasi”

Minggu siang (28/05) sesosok maung (harimau) berdiri gagah di depan jam gadang ITB. Panggung telah terpasang, tenda-tenda telah disiapkan. Di hari itu, Lingkung Seni Sunda (LSS) ITB bekerja sama dengan 10 lises (Lingkung Seni Sunda) dari berbagai universitas se-Bandung Raya, menggelar acara Lustrum Satwikasunda. Acara tersebut merupakan agenda 5 tahunan dari LSS ITB, yang pada perhelatan ke sembilan ini mengusung konsep bersatunya unit-unit seni Sunda se-Bandung Raya.

“Di zaman serba modern ini, kami merasa kesenian sunda sudah mulai meredup. Oleh karena itu, bersama teman-teman dari universitas lain, kami berupaya menyatukan kekuatan dalam satu bingkai budaya sunda. Inti utama dari Lustrum kali ini adalah kolaborasi” ujar Lazuardy Fajar Pratama, TG’14, Sekretaris Umum Lustrum-IX LSS, ketika ditanya latar belakang konsep pagelaran LSS tahun ini.

“Kalau tahun ini konsep acaranya tuh kita ingin menyatukan unit-unit UKM Kesenian Sunda Universitas se-Bandung. Di sini yang ikut acaranya ada 10 universitas, dari LSS ITB, Unpad, Unpar, Unpas, UPI, Unikom, Itenas, Telkom, STKS, Polban, dan Unisba” lanjut Lazuardy.

Setelah dibuka secara resmi oleh Kadarsah Suryadi, Rektor ITB, pertunjukan pertama dibawakan oleh Listra Unpar yang menampilkan tari Samarupa. Selanjutnya, penampilan kesenian Calung dari Sawanda Telkom sukses mencuri perhatian dan gelak tawa penonton. Para pemain Calung itu menyajikan penampilan yang tidak biasa, dengan memadukan komedi dan kesenian tradisional Calung Sunda. Pertunjukan-pertunjukan selanjutnya juga tak kalah menarik. Sadaya Unikom mempersembahkan orkes angklung, LSBS Unisba mempertontonkan tarian Surya Nyaangaan, dan Lisenda Itenas menampilkan tari kontemporer yang berpadu dalam tabuhan gamelan Sunda. Guyuran hujan di sore hari tak menyurutkan animo penonton yang terus berdatangan untuk menikmati persembahan dari lises-lises lain.

Selain pagelaran tari, lagu, dan orkes khas sunda, Satwikasunda juga menyajikan wahana-wahana susundaan bagi para pengunjungnya. Pengunjung dapat mencoba memainkan alat musik tradisional khas sunda serta melihat berbagai kerajinan buatan tangan di stand-stand Lises.

Selepas adzan Isya, acara utama pun dimulai. Cuaca yang bersahabat mendorong warga Bandung dari berbagai kalangan untuk ikut duduk bersama memadati kawasan Boulevard ITB, beberapa yang tak kebagian tempat lesehan memilih berdiri disekitar panggung.

Tabuhan gamelan memulai penampilan LSS ITB yang telah ditunggu-tunggu. LSS ITB mengawali rangkaian persembahannya dengan upacara pembukaan yang mempertontonkan pertunjukan wayang orang. Selanjutnya, nyanyian merdu sinden sunda dalam pertunjukan Kecapi Suling Kawih memperindah suasana malam yang dingin kala itu. Suasana mulai menghangat saat tempo tabuhan gamelan dipercepat dan tari Darmayu ditampilkan. Tari Jaipong juga tak ketinggalan memeriahkan panggung, diiringi dengan Longser, lakon komedi khas Sunda, yang mengundang gelak tawa para penonton yang semakin menyemut.

Lewat dari jam sepuluh malam, pagelaran ini hanya tinggal menyisakan satu pertunjukan lagi. Diiringi kemeriahan musik sunda, pemain Rampak Kendang satu persatu naik keatas panggung. Tepuk tangan penonton menyambut kedatangan mereka-mereka yang telah dinanti. Semangat para penabuh kendang terpancar dari penampilan mereka yang membuat beberapa penonton menghentakkan kaki. Malam semakin larut, dan dalam semarak tabuhan kendang dan gamelan, pagelaran Lustrum-IX LSS ditutup.
Oleh: Muhammad Ghaffar Mukhlis dan Juang Arwafa Cita

Komentar