Uncategorized

Integrasi dan Festival: Sejarah Baru Kaderisasi Kampus Gajah

Bermula dari Sidang Istimewa Kongres, lalu tercetusnya Student Summit yang sukses diinisiasi oleh kabinet, hingga pembentukan formatur KM ITB dalam membicarakan kaderisasi dan periodesasi di Kampus ITB. Kemudian sedikit banyak dipoles oleh ketua panitia dan jajarannya, Integrasi terbentuk bukan hanya sekedar pergantian nama. Karenanya, dalam persiapan dan keberjalanan sosialisasi segala inovasinya, Integrasi banyak diwarnai pertentangan dari berbagai lembaga kampus.

KISAH DIBALIK PERGANTIAN NAMA

Polemik bermula dari serangkaian agenda formatur yang dianggap tidak representatif karena kehadiran lembaga yang sangat minim. Selain itu beberapa keputusan pun dianggap sepihak mulai dari adanya minimal IPK untuk calon ketua panitia KAT, yang akhirnya tidak diterapkan dipicu dari ramainya massa kampus yang menentang melalui akun media sosialnya masing-masing. Terakhir, keputusan untuk menggabungkan dua acara besar, OSKM dan OHU.

“Sebenarnya baik konsepsi maupun AD/ART tidak menjelaskan OSKM dan OHU, melainkan menjelaskan kaderisasi awal terpusat,”  terang Miqdam Furqany selaku Ketua Panitia Integrasi 2016.

“Saya rasa pembentukan formatur KAT (Kaderisasi Awal Terpusat, -red) ini prematur dan sepihak. Kami yang dulunya bagian dari OHU tidak sama sekali diberitahu. Sehingga mau tak mau aspirasi dari kami sangat minim,” tutur Almo Tarigan, Ketua Panitia OHU 2015, saat diwawancara di tempat lain.

Forum formatur yang cukup panas dan panjang ini memang mempengaruhi keterlambatan dibentuknya panitia KAT. Hal itu diakui Miqdam bahwa lamanya formatur mempersingkat waktu persiapan menuju hari H, “Memang agak sedikit padat di awal, harus mengejar ketertinggalan. Tetapi cukup membantu juga. Forum ini meringkas banyak dokumen penting dalam suatu arahan. Forum ini menjadi kajian yang banyak sumbernya, arahan dari massa kampus, kementrian, presiden. Lalu diintisarikan menjadi lima arahan sehingga kami tak perlu kajian terlalu jauh.”

Selain tidak dijelaskannya OSKM maupun OHU pada dokumen-dokumen legal KM ITB, Kabinet berpikir bahwa dari tahun ke tahun konsep OSKM hanya diterima mentah-mentah oleh panitianya. Karena itu, Miqdam mencetuskan untuk mengganti nama OSKM menjadi Integrasi. “Manusia memiliki mindset yang terprogram jika namanya sama, cenderung nggak ada proses berpikir, hanya meng-copas tahun lalu. Saya ingin kita berpikir, sebenernya dasar hukum dan tujuan yang tertera itu untuk apa,” tutur Miqdam, mendukung pernyataan Kabinet.

Integrasi, atau Inisiasi Terpusat Keluarga Mahasiswa, menjadi pengganti OSKM dengan harapan dapat menjadi wadah untuk mengintegrasikan seluruh lembaga yang ada di Kampus ITB.
Karena Integrasi boleh berbeda dengan OSKM, panitia menawarkan berbagai inovasi agar massa kampus tidak lagi membandingkan keduanya.

Pertama, materi yang dibawa menekankan kata empati. “Saya mengangkat tema empati. Mungkin ini tak bisa dikatakan sebagai inovasi, setiap ketua KAT dari tahun ke tahun membawa materi yang berbeda,” tutur Miqdam.

Kedua, alur materi yang dibalikkan, kader diperkenalkan terlebih dahulu realitas bangsa, lalu mengenal identitasnya sebagai mahasiswa. Miqdam menjelaskan, “Karena kita membawa empati, jadi kita membawanya dari luar ke dalam. Dari tahun ke tahun biasanya dari dalam ke luar. Menurut kami itu representasi nilai empati. Bahwasanya empati itu, kita memposisikan diri kita seperti orang lain. Nantinya itu menjadi suatu cara dan masukan kita untuk bergerak keluar.”

Ketiga, tidak ada lagi OSKM dan OHU, begitu yang ditekankan panitia. Lewat beberapa mata acara yang cukup jauh berbeda dari tahun lalu. Interaksi fakultas akan diubah menjadi diskusi bersama yang melibatkan seluruh lembaga.

“Kami ingin menghilangkan kesan senioritas, karena kita itu adik-kakak,” ujar Miqdam. Kemudian kegiatan yang melibatkan lembaga akan diperbanyak, dengan adanya talkshow dari Kabinet, Kongres, dan MWA WM. Lalu menghadirkan unit-unit agama saat Isoma dan mengundang seluruh lembaga saat pembukaan dan penutupan. Mata acara berikutnya yang baru adalah materi PKM.

“KAT tahun ini adalah pertama kalinya ada materi PKM yang terstruktur. Dengan output abstrak yang nanti akan di-follow up oleh kementrian terkait yang bisa dimasukkan ke pimnas.”

Selain itu, Miqdam juga menjelaskan bahwa panitia mencoba mengenalkan mahasiswa baru atas beberapa macam pergerakan. Jika sudah ada pergerakan di bidang karya dalam materi PKM. Panitia pun sedang menggodok materi yang menggambarkan pergerakan di bidang lain, kemungkinan simulasi aksi untuk bidang sosial politik.

“Kami maunya searah dengan Kabinet, karena mereka nantinya akan bergerak diwadahi Kabinet yang diketuai Dhika. Dhika fokus pada inovasi dan sosial politik. Jadi kami pun menggodok metode untuk merepresentasikan pergerakan di bidang itu.”

FESTIVAL SEBAGAI INOVASI TERBESAR

Festival menjadi satu acara yang sangat disoroti dan menjadi perhatian seluruh massa kampus, terutama lembaga unit kegiatan mahasiswa. Karena jika Integrasi dianggap sebagai pengganti OSKM, festival dianggap sebagai pengganti OHU.

“Tujuan, konsep, dan teknis sangat jauh berbeda. Bener-bener baru ada tahun ini. Kami sedang menggodok inovasi baru,” lanjut Miqdam bercerita.

Mengenai pergantian nama, Almo pun mengatakan bahwa metode dan konsep harus diperbaharui. Namun, ia kembali menekankan pada penggabungan OSKM dan OHU, “Latar belakang keduanya berbeda, membentuk gap yang besar antara OSKM dan OHU, hingga bisa fatal eksekusinya jika KAT atau penggabungan ini merujuk atau sama persis pada OSKM,” ujarnya.

Pada forum 24 Juni 2016, M. Hamzah Permana, selaku ketua divisi Festival berkali-kali menekankan agar massa kampus memiliki benchmark bahwa Festival berbeda dengan OHU, bahkan Festival bukanlah OHU. “Kalau dibandingin susah. Yang udah-udah bagus karena udah punya parameter dan evaluasinya tersendiri,” tutur Hamzah saat diwawancara setelah forum usai.

Senada dengan Miqdam di tempat lainnya, “OHU itu satu acara besar, nggak seimbang, sedangkan festival mata acara dari Integrasi.”

Forum yang dilaksanakan di Basement Labtek VII itu sudah lebih tenang dibandingkan forum sebelumnya di Pilotis Geodesi pada Rabu (15/06). Hal itu diakui Hamzah karena di forum 15 Juni itu, ia tidak melakukan framing terlebih dahulu mengenai apa itu Festival.

“Festival ini hanya metode, part of Integrasi, yang menjadi acara puncaknya Integrasi. Yang tadi dijelaskan sebagai interaction day di hari ke-empat. So, gimana caranya kita ngebawa kaderisasi dengan bentuk festival,” jelas Hamzah.

Mengenai kegelisahan UKM, Hamzah menggarisbesarkan menjadi beberapa hal, yaitu soal waktu yang mengapa tidak ada jeda seminggu seperti OHU, SDM yang fokus kerjanya terbagi karena beberapa menjadi panitia lapangan, dan porsi yang terasa dikurangi.

Soal SDM di hari Festival, Fadly selaku Kordinator Lapangan telah menjelaskan tiga opsi. Pertama, seluruhnya  adalah panitia lapangan. Kedua, meminta bantuan kepada Menwa. Ketiga, kolaborasi panitia lapangan dan Menwa. Namun sebelumnya Fadly akan melakukan pendataan mengenai distribusi kerja panitia lapangan di hari festival. Jika memang mereka dibutuhkan unit, panitia tersebut tidak akan diturunkan untuk kebutuhan Festival.

Lalu mengenai porsi yang dikurangi, “Kami tidak mengambil hak unit, tetapi menggesernya. Secara kalkulatif, jika dulu unit di OHU 100%, semuanya difokuskan di OHU. Kalau sekarang mungkin, 50% di Festival. Tetapi 50% lagi digeser bukan dihilangkan, 50% itu terbagi di tiga hari Integrasi sebelumnya atau mungkin hari sebelum Integrasi,” terang Hamzah.

Almo kembali menegaskan bahwa OHU adalah apresiasi untuk UKM, “Fungsi OHU sebenarnya untuk menyamaratakan, menjual, dan mempertunjukkan UKM, baik itu UKM kecil atau yang sudah besar. Kita kemas dalam mempertunjukkan tanpa kecuali, sama rata, agar unit kecil juga terlihat sama keren, sehingga ada peningkatan orang yang mendaftar. Karena konsepnya memperkenalkan secara intim. Jika OHU dihilangkan, perlahan unit akan mati. Unit perlu diperkenalkan, sedangkan HMJ tak perlu karena pasti dilalui dan rekrutmennya tidak seenaknya sesuai minat dan bakat.”

Hamzah menyadari bahwa unit sangat bergantung pada Festival. Namun kembali pada konsep yang telah dibentuk panitia, jika OHU all about unit, Festival adalah all about us. Menurut Hamzah, marketing unit tidak hanya dapat dilakukan di Festival atau OHU, “Dari awal Integrasi sudah bisa buka pendaftaran online, lalu panitia memfasilitasi defile, sedang digodok juga iklan unit lewat OA. Bisa saja, lewat pendaftaran online, peserta dapet voucher yang bisa ditukar di stand unit, atau langsung diajak ke sekrenya, lebih interaktif.”

“Festival hanya menunjukkan eksistensi, sedangkan marketing bisa sebelum hari H.” lanjutnya bercerita.

Selain tiga hal yang digarisbesari Hamzah, kekhawatiran unit juga terpusat pada kegiatan unit yang terasa dikesampingkan. Bioskop kampus dan foto studio LFM serta radio OHU dari Radio Kampus dan 8EH terancam kehadirannya.

Irsyad Firsandi, selaku Ketua Bidang Acara menjelaskan, “Kasarnya gini, unit butuh A, kita nggak bisa langsung jawab A. Tapi kita sama-sama pikirkan bersama unitnya. Lalu juga apakah kita sanggup memfasilitasi itu.”

Kini, UKM tak bisa banyak bargantung pada acara sebesar OHU, tapi Integrasi khususnya Festival masih sangat dapat dimanfaatkan. Panitia pun sudah berjanji tidak akan merampas hak unit. Yang perlu dilakukan adalah tidak banyak menuntut tetapi sama-sama berbincang agar kegiatan yang baik dan membesarkan unit masih bisa dipertahankan. Saling menurunkan ego, agar tersentuh hingga ikut berempati dan bergerak bersama-sama. [NMR]

Komentar