Berita

Kampus Komersil, Kampus Milik Kita

ITB selalu berprestasi. Ya, siapa yang tidak tahu ITB. Kampus terbaik bangsa ini selalu menelurkan banyak mahasiswa serta dosen berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dirasa kurang, ITB tampaknya sedang mengejar prestasi di bidang lain, yaitu komersil. Mulai dari ITB multikampus, jurusan serta fakultas baru, dan sekarang kenaikan harga parkir.  Mahasiswa bukan lagi civitas akademik melainkan customer. Dimana ada mahasiswa, di situ ada uang. Bagaimana nasib kemahasiswaan? Kemanakah sekarang kampus yang katanya adalah rumah kita?

Berbagai macam respon mahasiswa bermunculan, mulai dari ramainya koar-koar di media sosial hingga penyelenggaraan farewell party untuk ISS inisiatif KMSR mengundang himpunan tenggara, kemarin malam yang rencananya diselenggarakan sesuai magrib. Namun ketika boulevard menyambangi, acara belum ramai, sederhana, dan hanya permainan musik saja.
Begitulah mahasiswa, saat kebijakan mengusik kebutuhannya, mereka akan ramai bersuara. Malam harinya, pukul 23.00, diselenggarakan diskusi bersama. Semula hanya berbentuk rapat ketua himpunan yang mengundang ketua unit media, namun menjadi diskusi yang bertajuk duduk bareng mengundang seluruh customer ITB.

Tepat satu hari yang lalu, ITB dihebohkan dengan perubahan tarif parkir yang cukup memberatkan pihak mahasiswa. Pada jam kerja (06.00-21.00 WIB), tarif parkir motor adalah Rp 1000,-/jam dengan tarif maksimal adalah Rp 5000,- tetapi mulai di atas pukul 21.00 hingga 06.00 WIB, tarif parkir akan dikenakan Rp 10.000,-/inap. Perubahan tarif pun dikenakan pada mobil. Pada jam kerja, tarif parkir mobil adalah Rp 3000,-/jam dengan tarif maksimal adalah Rp 10000,- tetapi mulai di atas pukul 21.00, tarif parkir dikenakan Rp 20.000,-/inap.

Perubahan tarif parkir ini sebenarnya bukan pertama kalinya kasus yang merugikan mahasiswa. Sejak 2012, sudah ada kebijakan-kebijakan sepihak yang membuat mahasiswa kewalahan menghadapinya, misalnya rancangan kaderisasi (baca Rencana Besar Rektorat untuk Kaderisasi di ITB). Massa kampus pun tidak tinggal diam dengan keputusan-keputusan yang dilakukan para pimpinan ITB yang tampaknya tidak melihat dari sisi mahasiswa. Tadi malam pukul 23.00 WIB, akhirnya diadakan duduk bareng massa kampus. Ada sekitar seratus mahasiwa yang terlibat dalam diskusi kemahasiswaan ini. Dalam diskusi, dibahas bahwa ada tiga hal yang ingin disikapi dan dirundingkan ke rektorat yaitu masalah parkiran, mengusahakan keterlibatan mahasiswa dalam kebijakan kampus dan melakukan negosiasi terhadap kebijakan-kebijakan yang merugikan mahasiswa.

Berdasarkan salah seorang petugas Autoparking, yang menentukan kenaikan tarif parkir adalah K3L (Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja Lingkungan) ITB. Sejak 2 minggu lalu, pihak Autorparking sebenarnya sudah meminta pihak K3L ITB untuk mensosialisasikan perubahan tarif kepada mahasiswa. Namun, sampai hari ini, belum ada sosialisasi yang dilakukan pihak K3L.

Beberapa menteri KM ITB sudah bertemu dengan pihak-pihak berwenang, seperti Aban dari K3L dan Yusrizal dari Logistik ITB. Ada tiga alasan kenaikan tarif parkir yaitu adanya kenaikan UMR (Upah Minimum Regional), tarif parkiran yang tidak disubsidi oleh pihak ITB, dan pertimbangan biaya lembur pegawai. Yang lebih mengagetkan lagi, perubahan tarif parkir yang tidak disosialisasikan semata-mata karena mahasiswa dianggap sebagai customer.
Dalam diskusi massa pun, dibahaslah beberapa solusi yang akan dibahas ke rektorat yaitu renegoisasi biaya parkir, keterlibatan mahasiswa dalam menyusun kebijakan, dan mengusulkan re-negoisasi kebijakan satu arah. Diskusi ini pun melahirkan kegiatan Aksi Parkir Gratis yang akan dilaksanakan di depan gerbang ITB pukul 07.00 WIB hari ini (2 Agustus 2016) untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa.

Milik siapakah ITB sebenarnya? Apakah hanya milik rektorat? Siapakah ITB jika tanpa mahasiswa? Supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni dan teknologi; supaya kampus ini menjadi tempat bertanya yang harus ada jawabnya, maka ini adalah momentum yang tepat bagi mahasiswa untuk membalikkan keadaan. Masihkah kita mau menjadi boneka-boneka rektorat?

Oleh: Margareta Vania Stephanie

Komentar