Featured

Dualisme Persepsi: Skors untuk TPB FSRD, Pantaskah?

Hari Jumat (28/10/2016) rintik hujan membasahi bumi Ganesha. Sekitar jam tiga sore, Plaza Widya, Tugu Persahabatan, dan Tugu Soekarno diselubungi dengan kain hitam. Beberapa saat kemudian, tampak sejumlah orang menduduki Kolam Indonesia Tenggelam dengan wajah yang juga ditutup kain hitam. Dalam dinginnya hawa Kota Kembang, mahasiswa FSRD berkolaborasi dengan Kabinet KM-ITB melakukan aksi diam memprotes kebijakan-kebijakan sepihak yang dikeluarkan oleh rektorat.

3Orasi oleh Ketua Kabinet KM ITB Mahardhika Zein

Aksi ini dilakukan setelah dikeluarkannya keputusan skors untuk 115 mahasiswa TPB FSRD 2016. Skors diberikan karena mahasiswa TPB FSRD telah melanggar kesepakatan untuk tidak mengikuti rangkaian kegiatan Parade Wisuda Oktober. Keputusan ini dianggap sebagai keputusan sepihak oleh kalangan mahasiswa ITB mengingat tidak diberikannya surat skors oleh dekanat FSRD.

Hamzah Pramana, DP’14, yang ditemui Boulevard di sela-sela aksi menuturkan bahwa ada lima hal yang ingin disampaikan pada aksi hari itu. Kelima hal tersebut adalah memprotes penskorsan yang diberikan FSRD ITB kepada 115 mahasiswa ITB, memprotes pembatasan kebebasan berkarya karena larangan mengikuti kegiatan Parade Wisuda Oktober, memprotes kebijakan jam malam yang diberlakukan rektorat, memprotes ketidakmerataan fasilitas multikampus, dan memprotes kebijakan kaderisasi NKRI-P (Nasionalis, Kreativitas, Respek, Integritas, dan Prestasi) yang dirumuskan rektorat.

Kata mereka yang terhukum

1Orasi oleh Mahasiswa FSRD

Di lain kesempatan, salah satu mahasiswa TPB FSRD yang tidak ingin disebutkan namanya membenarkan adanya penskorsan yang disebabkan keikutsertaan mereka saat Parade Wisuda Oktober. Sebelumnya, memang sudah ada peringatan untuk tidak mengikuti arak-arakan wisuda yang dikeluarkan fakultas. Bahkan, sebelum hari pelaksanaan arak-arakan, mahasiswa TPB FSRD juga sudah mendapatkan imbauan bahwa akan ada sanksi yang dikeluarkan jika mereka tetap mengikuti kegiatan arak-arakan wisuda.

Lantas, apa yang membuat Mahasiswa TPB FSRD tetap ingin berpartisipasi dalam kegiatan parade wisuda? Menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa TPB FSRD yang Boulevard temui mengatakan bahwa pada dasarnya FSRD adalah fakultas yang menjunjung nilai-nilai seni dan kreativitas. Parade Wisuda Oktober adalah salah satu ajang yang mewadahi kreativitas mereka. Ironis sekali jika pihak fakultas mengekang kebebasan berekspresi mahasiswanya.

“Kami sadar, peristiwa ini menunjukan bahwa ITB tidak bermain-main dalam membuat peraturan. Hal ini tentunya membuat saya dan teman-teman untuk lebih berhati-hati lagi. Akan tetapi, kami justru merasa dipenjara karena tidak diperbolehkan berkarya. Jika memang kami tidak diperbolehkan berpartisipasi dalam arak-arakan wisuda, setidaknya berikan kepada kami wadah lain untuk berkarya,” ujar narasumber dari TPB FSRD 2016.

Rilis Pers Kabinet KM-ITB

Demo Mahasiswa FSRD 2Salam Ganesha berkumandang disekeliling kolam Intel

Esoknya (29 Oktober 2016), Kabinet KM-ITB mengeluarkan pernyataan pers terkait aksi yang dilaksanakan hari sebelumnya. Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkannya, Kabinet KM-ITB telah melakukan advokasi kepada rektorat yang buah hasilnya adalah Surat Edaran Rektorat No. 289/11.B01/KM/2016, sehingga seluruh mahasiswa TPB, termasuk TPB FSRD, dapat mengikuti semua kegiatan KM dan UKM. Akan tetapi, ketidakjelasan dasar hukum dan munculnya peringatan dari pihak FSRD membuat Kabinet KM-ITB memilih untuk tidak mengikutsertakan TPB FSRD dalam kegiatan Parade Wisuda Oktober 2016.

Terkait penskorsan yang dijatuhkan pada mahasiswa TPB FSRD, Kabinet KM-ITB mengaitkan isu ini dengan rentetan kasus yang berkaitan dengan pengambilan kebijakan kampus. Kabinet KM-ITB menggolongkan isu ini sebagai bentuk ketidakadilan yang harus diubah.

Jawaban Dekanat

Ketika ditanya terkait pelarangan keikutsertaan mahasiswa TPB di arak-arakan wisuda, Dody Achmad, Koordinator TPB FSRD ITB, mengatakan bahwa peraturan ini dibuat untuk melindungi mahasiswa TPB. Berdasarkan penilaian pihak fakultas, arak-arakan wisuda hanya membuat repot mahasiswa TPB. Atas nama tradisi, kegiatan akademis dikorbankan demi persiapan arak-arakan yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.

“Di rapat pimpinan FSRD, sudah diputuskan sejak awal bahwa kegiatan arak-arakan wisuda dan sejenisnya boleh dilakukan tapi bukan oleh mahasiswa TPB. Silakan oleh angkatan 2015. Angkatan 2016 silakan berkiprah nanti di wisuda Juli dan Oktober 2017, serta April 2018. Jadi bukan dilarang, tapi digeser waktu dan penyelenggaraannya,” tutur Dody.

Menjawab tudingan keputusan sepihak yang diembuskan kalangan mahasiswa, Dody menegaskan bahwa keputusan yang dibuat sudah mengalami proses yang panjang. Pada saat pendaftaran ulang tahun akademik 2016/2017, mahasiswa TPB FSRD 2016 telah menandatangani surat pernyataan bermeterai yang melarang keikutsertaan mereka dalam arak-arakan.

Sebelum hari pelaksanaan wisuda, pihak fakultas juga sudah mengingatkan peraturan yang berlaku. Pihak fakultas mendapatkan informasi bahwa kelompok penampilan mahasiswa TPB FSRD 2016 sendiri juga telah membubarkan diri per 14 Oktober 2016, namun masih ditemukan mahasiswa yang melakukan penampilan di Sabuga. Oleh karena itu, pihak fakultas memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran tersebut.

Dody membantah adanya skors yang diberikan oleh fakultas. “Jangan sampai terkesan FSRD menskors mahasiswanya sendiri. Nggak ada skors, yang ada hanya sanksi internal dan ringan. Yang namanya skors itu berlaku untuk semua mata kuliah dan nggak mungkin cuman empat hari. Ini kan hanya diminta tidak hadir di kuliah studio masing-masing satu kali pertemuan. Kuliah lain tetap mereka ikuti. Orang tua yang bersangkutan juga sedang dalam proses disurati satu persatu,” ujar Dody.

Infografis Aksi Sumpah Pemuda dan Skorsing TPB FSRDInfografis : Joscha Gabriel Tampubolon

Perbedaan Sudut Pandang

Sudut pandang antara mahasiswa dan dekanat jelas berbeda. Idealisme pemuda terbentur langkah taktis dekanat FSRD. Pada akhirnya, entah disebut sanksi atau skors, pantaskah 115 Mahasiswa  TPB FSRD menerimanya?

Tim Redaksi: Amalia Septiani Radiva, Ardhy Nur Eka Sari, Rahma Rizky Alifia, Juang Arwafa Cita,

Reporter: Nida An Khofiyya,Teo Wijayarto, Sista Dyah Wijaya,

Foto : Hana Azalia

 

 

 

Komentar