Featured

K3M 2017 Terpilih Ardhi Rasy Siap Menggejolakkan Kembali Nasionalisme Massa

Usai sudah penantian Sang Gajah. Kotak suara akhirnya terbuka, memperlihatkan deretan angka- angka di dalamnya. Satu demi satu angka tersusun di depan layar, diawasi dengan deretan pasangan mata yang menanti-nanti. Perhitungan pun rampung, seluruh suara telah didengar. Pesta demokrasi terbesar di kampus ini ditutup dengan diangkatnya Ardhi sebagai Ketua Kabinet KM ITB terpilih.

 

Setiap tahun, Pemilu Raya (Pemira) memiliki cerita tersendiri yang menarik bagi sebagian massa kampus. Akan tetapi, partisipasi massa dalam Pemira mengalami penurunan. Hal ini terlihat dari uji dengar yang semakin sepi dan persentase partisipasi pemilih yang mengecil. Padahal, massa kampus seharusnya dapat lebih antusias mengenal dan memilih nakhoda pergerakan Keluarga Mahasiswa ITB selanjutnya.

Salah satu sosok penggagas pergerakan KM ITB ialah Ardhi Rasy Wardhana. Menjadi ketua acara Eksploraksi FTTM di tahun 2014 juga kegiatan Septem(ber)energi di tahun 2016 tidak membuat Ardhi merasa cukup untuk berkontribusi. Tanggal 21 Oktober 2016 menjadi saksi pengambilan berkas calon K3M oleh mahasiswa Teknik Pertambangan angakatan 2013 ini.

Bermula dari mimpi mewujudkan generasi emas Indonesia, Ardhi menilai bahwa sikap individualisme menjadi hambatan dalam mewujudkan mimpi tersebut. Ia pun terdorong untuk menjadi inspirasi banyak khayalak, khususnya massa kampus, dalam melakukan pergerakan bersama.

Demi merealisasikan mimpinya, Ardhi membawa nilai-nilai nasionalisme yang dituangkan ke dalam visinya, “KM ITB sebagai suar pergerakan gotong royong untuk satu Indonesia”. Maksudnya adalah KM ITB harus baik dan tanggap terhadap isu yang beredar di masyarakat sehingga bisa menjadi pelopor, penggagas, dan penuntun pergerakan lembaga-lembaga di dalam dan di luar KM ITB.

“Untuk meminimalisasi rasa individualisme, kita harus berkontribusi kepada masyarakat dengan menjadi suar pergerakan. Serta untuk menggerus nilai-nilai individualisme, kita harus memiliki nilai gotong royong,” terang Ardhi.

Di ITB sendiri terdapat beragam kepentingan yang perlu diselaraskan agar masing-masing individu atau lembaga tidak bersikap individualistis. “Caranya yaitu menyentuh keilmuan, minat bakat, dan potensi mereka sehingga mau menyelesaikan masalah yang ada sehingga nantinya akan sejalan dan dapat memulai pergerakan.” ujar pemuda berdarah Jawa ini.

Tidak hanya karena mimpi, dorongan orang-orang dengan gagasan dan kemauan gerak yang searah dengan si pencinta alam ini, telah membuatnya yakin untuk maju menjadi calon K3M ITB. Bahkan, ada beberapa orang yang meminta Ardhi secara personal untuk memimpin KM ITB.

Ia menuturkan, “Ketika aku naik, aku harap mereka bisa bekerja denganku karena merekalah yang mengerti gagasanku, benar-benar dari nol. Kalau pun tidak, aku berharap ketika mereka kembali ke lembaganya masing-masing, mereka dapat memberi pemahaman kepada lembaga-lembaga tersebut sehingga tidak ada salah interpretasi.”

Namun, terdapat hal-hal yang harus Ardhi pikirkan seperti isu multikampus dan isu kenaikan UKT, juga beberapa perkerjaan rumah kepengurusan lama yang menurutnya belum terselesaikan. Baginya, kepengurusan Mahardhika Zein (SI’12) memiliki banyak platform yang bagus dan inovatif. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya masih terdapat program-program yang belum memenuhi kebutuhan massa KM ITB secara maksimal.

Seperti Ksatria Ganesha yang belum menanamkan nilai dasar, Students Summit yang hanya menyamakan timeline tanpa penyepakatan peran lembaga-lembaga, serta Anmategra dan Data Publik yang belum dimanfaatkan dengan baik. Walau begitu, Ardhi tetap mengakui beberapa sisi positif kabinet Dhika. “Satu lagi nih tapi, positifnya di kepengurusan periode ini adalah kita kembali menemukan mass power yang sempat hilang,” ujarnya.

Selain itu, penggemar literasi ini menganggap ada kebutuhan yang sampai saat ini belum terjamah, yaitu kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri teruntuk mereka yang memiliki minat bakat unik. Lewat program Apresiasi Kita, Ardhi ingin menunjukkan pada massa kampus bahwa berkontribusi tidak hanya dapat dilakukan melalui prestasi akademik, organisasi-organisasi, atau karya-karya keilmuan.

Supaya pemenuhan kebutuhan dapat berjalan, diperlukan pemahaman mendasar terhadap objek yang kebutuhannya akan dipenuhi. Sebagai Koordinator Lapangan Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB 2015, Ardhi mengenal mahasiswa ITB sebagai pribadi yang kritis dengan sense of crashes yang tinggi, dan sistematika berpikir yang terbilang mapan. Sayangnya, masih terdapat kesenjangan antara implementasi dengan hasil-hasil pemikiran sehingga sering ditemukan kebuntuan apabila kenyataan tidak sesuai dengan perencanaan.

“Lewat program Eksploraksi, akan membuat mereka menjadi ‘orang lapangan’ sehingga kesulitan mentransfer gagasan ke aplikasinya dapat terselesaikan. Simple kok, cukup dengan tahu tentang kondisi dirinya dan lingkungannya itu berarti sudah menjadi ‘orang lapangan’,” jelasnya.

Meskipun tujuannya sama, menjadikan KM ITB lebih baik, antara Ardhi dan Aditya Purnomo yang merupakan kompetitornya,   memiliki gagasan yang berbeda sehingga diperlukan sinkronisasi gagasan. “Aku sejujurnya adalah orang yang suka ngobrol. Jadi, sebagai wadah dan supaya lebih dekat dengan massa kampus, caraku untuk merangkul massa Adit adalah dengan pendekatan kultural. Dengan mendatangi sekre-sekre HMJ, mengajak ngobrol. Intinya menarik simpati mereka dan meyakinkan kalau hal yang kita bawa itu sama baiknya,” ungkap calon K3M nomor dua tersebut.

Ardhi berpendapat bahwa pendekatan kultural adalah cara ampuh untuk menangani segala permasalahan di kampus gajah, pun untuk menghadapi orang-orang yang bertolak belakang dengannya.

Ketika ketika diwawancarai boulevard  pada bulan Desember hal apa yang pertama kali akan dilakukan jika terpilih menjadi K3M, Ardhi menjawab, “Aku ingin istirahat dua hari dulu, pulang bertemu keluarga. Setelah itu, mendapatkan calon-calon menko dan menyamakan suhu dengan calon-calon menko. Kemudian, melakukan pendekatan kultural ke calon-calon kahim atau kahim yang baru terpilih. Lalu, internalisasi dengan menko, menteri, dan kahim. Baru menjalankan program yang bisa dibilang paling urgent, Super KM ITB.”

Peristiwa kegagalan Ardhi menjadi ketua HMT terbutkti tidak membuatnya menyerah berkontribusi untuk KM ITB. Tidak pula membuatnya berhenti memercayai bahwa pemuda Indonesia saat ini bisa menjadi pemuda yang nasionalis. Justru Ardhi dapat membuktikan bahwa kegagalan bisa menjadi pengalaman berharga untuk terus melangkah maju.  Dengan gagasan nasionalismenya, Ardhi siap berupaya mewujudkan Garuda Indonesia Emas 2045 melalui KM ITB. []

Artikel sebelumnya diterbitkan dalam majalah digital Selasar Boulevard ITB 31, Januari 2017 dengan beberapa pengubahan.

Penulis: Rahma Rizky Alifia
Editor: Juang Arwafa Cita

Komentar