Berita

Jemari Kriya ITB 2017: Estetika Gubahan Tangan Manusia yang Sarat Akan Makna

Himpunan Mahasiswa Kriya ‘TERIKAT’ ITB, menggelar pameran karya seni tekstil pada Minggu (29/01) pagi pukul 10.00 WIB bertempat di Contrast Coffee Kota Bandung. Pameran bertajuk “Jemari: A Collective Textile Craft Design Exhibition by Kriya Tekstil ITB” tersebut memamerkan sederet gubahan tangan mahasiswa kriya angkatan 2013 hingga 2015 dengan bahan dasar berupa kayu, kain dan untaian benang.

Saat memasuki area bagian depan pameran, pengunjung langsung dimanjakan dengan kehadiran “Hall of Fame” yang berisi pelbagai wujud karya dalam bentuk dekorasi dinding, pakaian, beragam aksesoris, tas, serta alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan karya itu sendiri, seperti pewarna kain (wantex), benang aneka warna, kain sulam dan masih banyak lagi. Selain dipamerkan, beberapa karya pada pameran ini juga sengaja dibuat untuk dijual kepada pengunjung, di antaranya buku agenda dan cincin dengan desain kekinian yang terbilang unik.

DSC00027(1)

Maghfira Maulina selaku ketua Himpunan Mahasiswa Kriya ‘TERIKAT’ ITB menjelaskan, menurunnya minat masyarakat terhadap karya buatan tangan (handmade) yang justru berbanding terbalik dengan meningkatnya popularitas karya seni dalam bentuk digital, melatarbelakangi digelarnya pameran yang menjadi debut annual exhibitions himpunan mahasiswa Kriya ITB tersebut.

“Kriya kan kalau kita lihat memang engga sepopuler desain grafis kayak DKV atau seni di bidang advertising, karena faktor teknologi juga kali ya. Padahal esensi seni rupa tuh bermula dari tangan,” ujar perempuan yang akrab disapa Mafi ini. Saat ditanya mengenai perkembangan kriya di Indonesia dan inovasi yang tengah ditawarkan, Ia menjawab bahwa masa depan kriya terletak di pundak kreatornya, terutama anak muda. Sebuah karya sejatinya memiliki keunikan tersendiri sebab karakteristik suatu karya sangat dipengaruhi oleh karakter penciptanya.

Pameran yang berlangsung selama dua hari, yaitu pada Sabtu (28/01/2017) hingga Minggu (29/01/2017) tersebut turut mendatangkan Meyta Retnayu selaku CEO KAYN dan Anya Kardin, CEO KAR, sebagai narasumber dalam talkshow yang diselenggarakan di akhir sesi pameran. Contrast Coffee yang terletak di wilayah Jalan Anggrek sengaja dipilih sebagai lokasi pameran karena dinilai strategis dan nyaman bagi pengunjung, sekaligus memberi kesan bahwa pameran ini memang diperuntukkan khalayak umum bukan hanya kalangan internal kampus. Saat matahari semakin meninggi, pengunjung dari berbagai kalangan pun satu per satu mulai berdatangan dan memenuhi ruangan, mereka datang dengan tujuan mendukung karya anak bangsa maupun sekedar menikmati estetika yang dipancarkannya.

DSC00004(1)

Mafi mengaku, pameran kriya Indoestri yang sudah lebih dulu berhasil menancapkan eksistensinya di ibukota merupakan salah satu yang telah menginspirasi TERIKAT dalam mewujudkan Jemari. “Finally terselenggara juga. Sengaja bikinnya di luar kampus, biar semua orang bisa menikmati. Kami juga mengadopsi konsep pameran di luar negeri yang cenderung ringan, homey, dengan konsep popular, bukannya kaku dan statis”, ujarnya lega.

Mafi berharap Jemari dapat menjadi tonggak kebangkitan kriya sebagai unsur dalam dunia seni rupa, khususnya di Kota Kembang dan di Indonesia pada umumnya. Mafi menambahkan bahwa sebuah karya yang digubah langsung oleh tangan manusia lebih fasih berbicara mengenai makna kepada penikmatnya dibanding karya yang terlebih dahulu diproses modernitas teknologi.

“Minimal di Kota Bandung dulu lah, baru setelah itu ke seluruh Indonesia, terus menghasilkan karya aja pokoknya karena tak ada yang lebih indah selain Terikat yang berkarya”, tutup Mafi.

Penulis: Amalia Septiani Radiva
Fotografer: Hana Azalia

Komentar