Berita Featured

Inaugurasi K3M dan PJS MWA-WM ITB 2017: Sang Garuda Bukan Tanpa Cela!

“Fauzan Makarim! Ardhi Rasy Wardhana! Sang Garuda bukan tanpa cela!” Seru seorang mahasiswa berpakaian jaket almamater ITB dari kerumunan. Sebelumnya beberapa mahasiswa membacakan puisi Wiji Tukul yang berjudul “Ucapkan Kata-Katamu” pada acara Inaugurasi K3M dan PJS MWAWM ITB Jumat(17/02) sore. Apa makna dibalik orasi tersebut?

Sinar matahari senja menghiasi Jumat sore, 17 Februari 2016. Suara perempuan yang tak lain adalah Andriana Kumalasari (SI’14)  berseru dan meminta massa kampus untuk rehat sejenak dari kegiatan untuk menyaksikan seraha terima tongkat estafet kepimipinan kemahasiswaan ITB  dari tengah Plaza Widya. Dibawah langit cerah, Plaza Widya kini dipenuhi oleh warni-warni mahasiswa dengan jaket himpunannya masing-masing. Udara yang cukup panas pun tidak menghalangi niat mereka untuk hadir dalam acara Inaugurasi K3M ITB dan PJS MWA-WM ITB terpilih.

Pelaksanaan inaugurasi yang direncanakan untuk dimulai pukul empat sore mengalami keterlambatan sehingga acara baru dimulai satu jam kemudian. Acara diawali dengan pembacaan doa oleh Aditya Punomo Aji (PL’13) lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh massa kampus yang hadir dan dipandu oleh Paduan Suara Mahasiswa ITB.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan TAP Kongres KM ITB nomor 006 Tahun 2017 Tentang Pengesahan Ketua Kabinet KM ITB Periode 2017 dan TAP Kongres KM ITB nomor 007 Tahun 2017 Tentang Pengesahan PJS MWA Wakil Mahasiswa ITB Periode 2017 oleh Mohammad Andi Setia Negara (MG’14) sebagai PJS Ketua Kongres KM ITB. TAP 006 berisi keputusan penurunan Mahardhika Zein (SI’12) dari jabatannya sebagai Ketua Kabinet periode 2016 dan mengangkat Ardhi Rasy Wardhana (TA’13) sebagai Ketua Kabinet periode 2017. Sedangkan, TAP 007 menetapkan untuk menurunkan Muhammad Arya Zamal (TI’12) dari jabatannya sebagai Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB periode 2016 dan mengangkat Fauzan Makarim (TM’13) sebagai Penanggung Jawab Sementara Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa ITB periode 2017.

Setelah pembacaan TAP Kongres, tak lupa, Sandro Mihradi selaku ketua Lembaga Kemahasiswaan memberikan sambutannya. Beliau memberikan selamat kepada Ardhi dan Fauzan selaku pemangku jabatan K3M dan PJS MWA WM periode sekarang serta menyampaikan rasa terima kasihnya kepada K3M dan MWA-WM sebelumnya atas segala macam pengorbanan yang telah diberikan.

Pada pukul lima lebih tujuh menit, dari atas Plaza Widya, prosesi penyerahan jabatan secara simbolis dilakukan. Dhika sebagai K3M periode 2016 menyerahkan bendera biru KM ITB kepada Ardhi sebagai Presiden Kabinet yang baru. Bersamaan dengan itu, Zamal secara simbolis juga ikut menyerahkan jabatannya kepada Fauzan dengan memberikannya bendera kebanggaan Rakyat Indonesia, bendera Merah Putih.

Video Orasi Fauzan Makarim PJS MWAWM 2017
Di tempat yang sama Fauzan menyampaikan orasinya tentang untuk mengajak mahasiswa ITB bersama MWA-WM mengawal keberjalanan ITB sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum ( PTN-BH). Dengan statusnya sebagai PTN-BH artinya ITB bisa berdiri sendiri sehingga kaki dan tangannya dapat bergerak bebas. Hal itu berakibat mahasiswa dapat ikut menentukan arah gerak ITB. Fauzan juga menuturkan bahwa ia ingin membuat MWA-WM lebih terlihat, terdengar dan terasa, agar bisa hadir diantara mahasiswa dan memperjuangkan mahasiswa. Untuk itu, Fauzan ingin membawa MWA WM menjadi lembaga yang edukatif, representatif, dan aspiratif dalam mengawal kebijakan ITB secara nyata.

Video Orasi Ardhi Rasy Wardhana K3M ITB 2017

Ardhi yang memang dikenal akan kampanye-kampanyenya yang membawa nasionalisme, membuka orasinya dengan mengutip isi dari tugu yang ada di tengah massa kampus saat itu.

“…Semoga lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan,tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.”

Ardhi menuturkan bahwa menurut konstitusi yang berlaku di KM ITB, tugas insan akademis adalah mengemban amanah untuk mengkritisi kondisi masyarakat dan  mau turut serta merubah tatanan masyarakat ke kondisi ideal atau masyarakat madani. Menurut Ardhi, jika mahasiswa hanya diam dan belajar tanpa berbuat untuk masyarakat itu adalah suatu kesalahan. Massa yang hadir kemudian menyorakkan sumpah mahasiswa Indonesia dengan pengubahan yang dipimpin oleh Ardhi sambil mengacungkan telunjuknya ke udara.

Suara dari Kerumunan

Tanpa diduga, dari arah Timur Plaza Widya seorang mahasiswa naik ke salah satu undakan yang ada di Plaza Widya dan mulai membacakan puisi yang berjudul “Ucapkan Kata-Katamu”

Jika kau tak sanggup lagi bertanya
Kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

Jika kau tahan kata-katamu
Mulutmu tak bisa mengucapkan
Apa maumu terampas
Kau akan diperlakukan seperti batu
Dibuang dipungut
Atau dicabut seperti rumput
Atau menganga
Diisi apa saja menerima
Tak bisa ambil bagian

Jika kau tak berani lagi bertanya
Kita akan jadi korban keputusan-keputusan
Jangan kau penjarakan ucapanmu

Jika kau menghamba pada ketakutan
Kita akan memperpanjang barisan perbudakan

Empat orang mahasiswa bergantian membacakan puisi yang ditulis oleh aktivis Wiji Thukul itu. Diantara empat orang mahasiswa yang membaca puisi, terdapat juga empat orang mahasiswa lainnya yang menampilkan aksi teatrikal. Satu orang menutup mulutnya dengan kain, satu lagi menutup telinga, seorang mahasiswi menutup mata dan seorang lagi mengikat tangannya.

Tepat ketika baris terakhir dari puisi itu dibacakan, dari tengah kerumunan massa, sambil menghadap ke utara, Alfatehan Septianta (MS’14) berseru dengan lantangnya,

“Fauzan Makarim! Ardhi Rasy Wardhana! Sang Garuda bukan tanpa cela!”

Alfatehan Septianta kemudian meninggalkan Plaza Widya bersama para pembaca puisi dan pelaku aksi teatrikal. Aksi yang cukup mengundang perhatian itu, membuat masa kampus yang hadir cukup terdiam, tapi menjadi riuh ketika HMT (Himpunan Mahasiswa Tambang) ITB menyuarakan jargon kebanggaan mereka mengingat kini Ketua Kabinet KM ITB berasal dari himpunan yang sama dengan mereka. Inaugurasi kemudian ditutup dengan dikumandangkannya Salam Ganesha oleh seluruh massa kampus yang hadir dan dipimpin oleh Ardhi. 

Makna Dibalik Orasi PSIK

Ketika ditemui Boulevard di sekretariat PSIK ITB (Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB), Alfatehan Septianta menuturkan maksud dari perkataannya tentang Sang Garuda bukan tanpa cela pada saat Inaugurasi. Pemuda yang biasa dipanggil Titan ini menginterpretasikan Garuda dengan merujuk kedua entitas yang berbeda, yang pertama entitas  garuda sebagai negara atau pemerintah dan yang kedua Ardhi sebagai seorang Panglima Garuda saat OSKM 2014.

Titan berpendapat bahwa pemerintah yang ada  sekarang ini bukan tanpa cela, bukan baik-baik saja. Ia juga menambahkan bahwa Ardhi bukanlah orang yang tanpa cela, ia tetap akan mengkritik Ardhi jika ada keputusannya yang tidak sesuai. Apabila KM ITB ingin melaksanakan aksi protes ke pemerintah PSIK siap untuk hadir dan mendukung Ardhi.“Jadi, PSIK bukan hanya berperan sebagai oposisi kabinet, tapi juga pendukung kabinet,” ujar Titan.

Di saat yang bersamaan, Christoforus (ME’15), salah satu mahasiswa yang ikut mempersiapkan aksi pembacaan puisi dan teatrikal pada hari itu, menjelaskan maksud dari aksi tadi. Aksi tadi menunjukkan keresahan-keresahan yang ada dari mahasiswa, keresahan akan posisi KM ITB yang serba diam. Dengan mendapatkan 2.500 suara dari total 16.000 mahasiswa ITB, Christo menggangap naiknya Ardhi sebagai K3M yang baru tidak mencakup satu suara KM ITB.

“Otomatis kalau lu diam-diam aja, lu akan jadi budak-budak  keputusan, atas bilang apa lu ikut. Bagian ‘jika kau tahan kata-katamu’ mencerminkan adanya kecenderungan tertahannya kata-kata atau tidak peduli karena takut akan di DO, kalau gitu kita tidak akan bisa melakukan apa-apa juga” ujar Christo pada wartawan Boulevard ITB.

“Lalu, batu dan rumput adalah benda mati, artinya karena tidak bersuara lu akan menjadi benda mati yang menunggu lu mau diapain. Jangan penjarakan ucapanmu, jika kau menghamba pada ketakutan, lu akan menjadi baris perbudakan. ” 

“Sebenarnya cuman satu inti dari puisi ini, ya lu jangan diam. Kalau lu mau protes, protes lah, kalau lu merasa ada tekanan, proteslah. Jangan takut, lu bisa cari masa untuk ngobrol-ngobrol. Lu nggak akan sendirian, lu pasti punya temen untuk ngumpul-ngumpul dan bergerak”, ungkap Christo saat menjelaskan isi puisi “Ucapkan Kata-Katamu”.

“Tujuan aksi tadi sebenarnya untuk massa kampus, cuman tekanan  lebih besar memang diberikan untuk Ardhi karena dia yang memimpin massa kampus, tapi ya gua cuman punya satu presiden sih, Alfatehan Septianta! Hehe. Kalau untuk Ardhi, semoga selamat Ardhi, semoga selamat dengan pengabdianmu.” canda Christo.

Apa yang disampaikan Fauzan, Ardhi, dan PSIK sejatinya memiliki makna yang sama. Bahwa massa kampus diharapkan tidak hanya diam dengan keadaan masyarakat, diam akan keputusan-keputusan yang ditimpakan terhadapnya. Dengan perannya sebagai Insan Akademis, diharapkan mahasiswa ITB dapat menjadi pion-pion kesuksesan ITB dan Indonesia. Ibarat seorang manusia, Ardhi dan Fauzan bagaikan kepala dan massa kampus KM ITB bagaikan badannya. Dengan resminya Ardhi dan Fauzan menjadi K3M dan PJS MWA-WM, bukan semata-mata hanya mereka berdua saja yang harus bekerja keras merubah KM ITB untuk menjadi lebih baik, tapi massa kampus KM ITB juga harus ikut berjuang untuk mewujudkan cita-cita tersebut. []

Wartawan: Dana Annisa Riefina (MA’15),  Annisaa Auliyaa Rabbani Rahman(MA’15)
Foto: Hana Azalia (KR’15)
Video : Teo Wijayarto (STI’5)

Komentar