Berita

Indonesia Tetap Bersatu: Kembalikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika!

Bertepatan dengan momen Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2017, KM ITB mengadakan aksi Indonesia Tetap Bersatu pada 31 Mei 2017. Aksi dilaksanakan di Plaza Widya ITB dan diikuti oleh segenap massa KM ITB terutama peserta Diklat Terpusat KM ITB. Aksi ini dilakukan untuk menanggapi maraknya isu perpecahan dan konflik horizontal di kalangan masyarakat. Secara simbolik aksi ini diikuti oleh bebagai unit kebudayaan ITB seperti UKMR (Riau), UKIR (Papua), UKM (Minang), dan lainnya yang masing-masing mengenakan pakaian tradisional khas daerah mereka mengelilingi kolam “Indonesia Tenggelam”.  Kelima unit agama ITB juga turut hadir dalam acara ini, yaitu dari KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik), PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen), KMH (Keluarga Mahasiswa Hindu), KMB (Keluarga Mahasiswa Buddhis), dan GAMAIS (Keluarga Mahasiswa Islam).

Aksi diawali dengan menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” secara bersama-sama yang dilanjutkan dengan orasi oleh presiden KM ITB, Ardhi Rasy Wardhana (TA ’13) di kolam “Indonesia Tenggelam”. Dalam orasi tersebut, Ardhi menyampaikan pentingnya bagi seluruh masyarakat untuk kembali kepada Pancasila. Konflik horizontal yang berbau SARA di masyarakat sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Perbedaan yang ada seringkali dianggap sebagai akar kebencian dan permusuhan. Padahal, Indonesia dibangun dari berbagai suku bangsa dengan bermacam-macam agama yang menyatukan diri sebagai bangsa Indonesia. Menurutnya, dengan adanya wakil-wakil dari seluruh penjuru Indonesia di ITB, sudah pantas dan sah rasanya bagi KM ITB untuk mendeklarasikan kembali persatuan dan kesatuan bangsa.

Ardhi juga menyayangkan banyaknya pemberitaan media baik arus utama maupun alternatif yang memberikan framing dan sorotan yang tidak objektif serta hanya memperkeruh suasana yang ada. Media dirasa ikut menyulut bibit-bibit kebencian yang berujung konflik akibat pemelintiran berita dan penggunaan diksi yang rancu, entah sadar maupun tidak.  Hal ini cenderung dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menawarkan solusi dari paham-paham alternatif dan ekstrem yang justru bertentangan dengan Pancasila.

Oleh karena itu, KM ITB menyatakan untuk kembali menggaungkan Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia serta mengembalikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ke dalam jiwa bangsa Indonesia. Poin-poin sikap KM ITB dalam aksi ini adalah:

  1. Mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kerukunan berbangsa melalui dialog demi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. Mengimbau kepada mahasiswa se-Indonesia untuk menjalankan fungsi kontrol sosial dan menjaga nilai-nilai moral dengan mengadakan gerakan yang menjunjung persatuan bangsa.
  3. Mengajak seluruh elemen masyarakat terutama tokoh masyarakat dan elit politik untuk menghentikan segala bentuk hasutan dan ujaran kebencian yang dapat mencederai persatuan dan kesatuan bangsa.
  4. Meminta pemerintah untuk menindak tegas oknum-oknum yang berupaya memecah persatuan dan kesatuan bangsa sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.
  5. Menyerukan kepada media untuk menghentikan pemelintiran dan pembingkaian berita yang dapat berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan.

Aksi lalu dilanjutkan dengan doa bersama dari 5 agama dipimpin oleh unit-unit agama di KM ITB (KMK, PMK, KMB, KMH, dan GAMAIS ITB). Masing-masing perwakilan dari unit agama tersebut memimpin doa secara bergantian. Dalam doa tersebut, terutama ditekankan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan serta pentingnya menjaga ajaran perdamaian yang ada di semua agama.

Sebelum acara berakhir, Said Fariz Hibban (ME ’14) menginterupsi orasi Ardhi. Menurutnya, seluruh massa kampus yang hadir harus kembali mendeklarasikan Sumpah Pemuda yang mengikat seluruh pemuda Indonesia dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Akhirnya acara ditutup setelah deklarasi Sumpah Pemuda oleh seluruh massa kampus dengan salam Ganesha, memenuhi kampus Gajah dengan gaung “Untukmu Tuhan, Bangsa, dan Almamater”.

Reporter: Muhammad Ghaffar Mukhlis

Komentar