Berita

Mempertanyakan Sistem UKT Semester 9

Illustrasi: blog.quizzle.com

 

Tepat 4 tahun setelah UKT diterapkan muncul isu baru dengan adanya mahasiswa semester 9 angkatan 2013. Pertanyaannya kali ini adalah “Apakah mahasiswa semester 9 perlu membayar UKT atau adakah sistem lain yang lebih representatif terkait dengan kebutuhan mereka yang berbeda dengan mahasiswa semester 1-8?”

Isu UKT Semester 9 menjadi penting mengingat dalam beberapa jurusan seperti Arsitektur, Teknik Geofisika, dan Teknik Geologi sulit untuk lulus tepat 8 semester (Wisuda Juli). Bahkan tidak ada angkatan 2013 yang lulus pada Wisuda Juli dari 2 jurusan yang pertama disebutkan tadi. Menanggapi hal ini, Kabinet KM ITB pada tanggal 4 Agustus 2017 melalui Kementrian Advokasi Kebijakan Kampus merilis Draft Kajian UKT Mahasiswa Tingkat Akhir.

Cara Kerja UKT Sekarang

Sejak tahun ajaran 2013/2014, ITB telah menjalankan sistem pembayaran BKT (Biaya Kuliah Tunggal) dan UKT. Dalam Permendikbud No. 55 Tahun 2013, BKT adalah keseluruhan biaya operasional per mahasiswa per semester. Sementara itu, UKT adalah sebagian BKT yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kebutuhan ekonominya. Besaran UKT adalah BKT dikurangi dengan Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang ditanggung pemerintah. Penetapan UKT didasarkan pada kemampuan ekonomi dan subsidi silang.

Kebijakan UKT dapat dipahami jika diterapkan untuk mahasiswa semester 1-8. Sebab, mereka umumnya memanfaatkan fasilitas kampus secara penuh. Namun, mahasiswa semester 9 ke atas memiliki kebutuhan yang berbeda. Umumnya mereka tidak mengikuti kelas lagi dan hanya memiliki kebutuhan untuk menyelesaikan Tugas Akhir (TA). Dengan demikian, penetapan UKT yang dipukul rata untuk tiap semester dirasa kurang cocok jika diterapkan juga untuk mahasiswa semester 9.

Mahasiswa semester 9 sendiri terdiri dari 3 golongan, yaitu: (1) Mahasiswa yang hanya mengambil SKS TA (Tugas Akhir) dan 0 SKS mata kuliah lain, (2) Mahasiswa yang masih mengambil kelas di luar TA, dan (3) Mahasiswa yang telah menyelesaikan sidang TA sebelum 21 Agustus 2017 dan hanya tinggal menunggu sidang yudisium.

Surat edaran dari Direktorat Keuangan menyebutkan bahwa mahasiswa golongan pertama dikenakan biaya 50% UKT, golongan kedua UKT penuh, dan golongan terakhir hanya membayar biaya pendaftaran Rp250.000,00 dan harus menyerahkan Surat Keterangan Lulus (SKL) ke Annex.

Sistem Lain

Sebenarnya, sistem UKT bukan satu-satunya sistem pembayaran yang berlaku di ITB. ITB juga memberlakukan sistem pembayaran per SKS pada Semester Pendek (SP). Dalam Draft Kajian UKT, Kabinet menyatakan bahwa kondisi mahasiswa tingkat akhir serupa dengan mahasiswa yang mengambil SP.

Mereka umumnya tidak melakukan praktikum maupun menggunakan gedung perkuliahan dengan sering. Biaya yang diterapkan adalah Rp300.000,00 per SKS sejak angkatan 2011. Untuk mahasiswa tingkat akhir yang hanya mengambil SKS TA atau mata kuliah lain dengan jumlah sedikit, hal ini dirasa lebih adil dibandingkan sistem UKT. Jika terdapat biaya lain yang belum tercakup dalam biaya SKS tersebut, dapat dilakukan verifikasi tiap Program Studi (Prodi) dengan biaya pembayaran yang tergantung jurusannya. Sistem ini telah digunakan di Universitas Brawijaya.

Mengakhiri Draft Kajian tersebut, terdapat pernyataan sikap yang menuntut 3 hal. Pertama, agar ITB mentransparansikan rincian biaya dan alokasi sistem penarikan UKT bagi mahasiswa semester 9 dari Surat Pengumuman Pembayaran Pendidikan Semester I 2017/2018. Kedua, mengganti sistem UKT dengan sistem per SKS untuk mahasiswa semester 9 ke atas dan verifikasi biaya dari tiap Prodi untuk mahasiswa yang mengambil SKS selain TA. Terakhir, memberikan keringanan berupa penyesuain tarif Biaya Penyelenggaraan Pendidikan (BPP) bagi mahasiswa Arsitektur yang telah menyelesaikan sidang TA sebelum 21 Agustus 2017 namun belum mendapatkan SKL.

Melanjutkan kajian atas isu ini, Kabinet KM ITB mengadakan diskusi publik terkait UKT semester 9 dengan mengundang seluruh massa KM ITB. Acara ini dilaksanakan pada 4 Agustus 2017 di Basement Labtek VII pada pukul 19.30-22.45 WIB.

Referensi: bit.ly/UKTSMT9ITB 

Penulis: M. Ghaffar Muchlis (BM’15)
Editor:  Teo Wijayarto (STI’15)

Komentar