Sastra

Bumerang di Suatu Petang

Ilustrasi:Hana Azalia

Pada suatu malam, aku berdiri di sebuah dinding. Kupandangi lama selembar kertas yang tertempel di sana. Setelah puas, dalam senyap aku berjalan berbalik arah. Sembari menembus hujan yang masih saja turun, aku melangkah dengan pasti. Tanpa berniat sedikit pun untuk menoleh ke tempat yang baru saja aku singgahi.

***

Derap langkah terdengar tidak beraturan kala kakinya menapak tanah. Ia melihat sekitarnya. Gelap. Melirik arloji yang ada di tangannya, ia merasa jarum yang sedang berputar turut memburu waktunya. Belum lagi bunyi hujan yang turun ketika bersentuhan dengan payung yang sedang dipakainya, seakan ikut mengolok-olok keterlambatannya.

Bagus sekali.  Air yang turun dari langit, yang sama sekali tidak tepat datangnya.

Ia terus saja menyumpah. Entah kepada saja itu ditujukan. Ia berpikir bahwa alam sedang ingin membuatnya kesal malam ini. Cercaan itu berhenti ketika ia mulai melihat sebuah pintu di ujung koridor. Hembusan napas panjang keluar dari mulutnya. Ia akan sampai.

Payung yang ia bawa tadi, ditaruhnya begitu saja di sebelah pintu. Ia memutar knop yang ada di depannya. Menginjakkan kaki pada ruangan yang terang benderang, berbeda dengan temaramnya keadaan luar.

Ia masuk, berdiri sempurna di dalam ruangan. Semua mata tertuju padanya. Membeku. Matanya bergerak liar menjelajahi ruangan. Bingung melanda. Apa yang terjadi? Satu detik dua detik, akhirnya ia sadar apa yang harus dilakukannya.

Mengusap tengkuknya, ia berkata, “Sori, ada masalah tadi jadi ya..”

Tak perlu ia melanjutkan ucapannya, semua orang langsung mengalihkan pandangannya. Fokus tidak ada padanya lagi. Kembali mengerjakan apa yang mereka tinggalkan tadi.

Ia mengedikkan bahu. Sembari membenarkan tas di punggungnya, ia menghampiri sesorang berambut klimis yang ada di pojok ruangan. Tampak asap mengepul dari sana. Matanya memicing, lalu tersenyum tipis. Masih saja orang klimis itu menyulut rokok dan menyelipkan di antara bibirnya.

“Bagaimana tadi?” tanyanya kepada seorang tadi. Ketika bertanya, ia memainkan nametag yang terletak di meja depannya, dan membaca tulisan yang tertera di sana, perlahan di dalam hati. Deka Rasendra¸ calon ketua BEM.

Sambil memainkan rokok, ia mengerjapkan matanya dan menjawab, “Lancar sih. Wilayah tengah lebih aktif ketimbang barat. Visi misi sudah tersampaikan dengan jelas.”

Ia mengangguk. Cukup puas dengan apa yang telah didengarkannya.

Lalu ia duduk di kursi yang ada di dekatnya. Berhadapan dengan si calon ketua. Dilontarkanlah sebuah pertanyaan lagi, “Kalau calon lainnya gimana, bruh?

“Cukup menyenangkan. Melihat si nomor satu kesusahan menampung sindiran yang ditujukan kepadanya. Tembok aspirasi sangat berperan besar dalam menyebarkan sebuah rumor,”

Sebentar, Deka mengetukkan rokoknya ke asbak untuk menjatuhkan abu.

“Haruskah aku berterima kasih kepada siapapun yang menulis berita itu? Massa sangat terprovokasi. Atau perlu kusuruh ia menulis cerita tentang calon yang lain?” Lanjut Deka, tak lupa dengan seringainya.

“Kau mau cerita yang bagaimana memangnya?” Ia merespon.

Dengan suara seraknya, Deka berkata, “Ya tulislah tentang calon nomor tiga yang sering bolos kuliah. Atau apapun. Kita harus mengumpulkan yang banyak untuk kita.”

Setelah itu, hening. Hanya gumaman percakapan dari orang lain yang sedang mengudara. Ia memejamkan mata. Sunyi. Deka tetap dengan aktivitasnya tadi, mengepulkan nikotin dari mulutnya.

Teringat akan sesuatu, ia beranjak dari tempatnya. Meninggalkan Deka tanpa sepatah kata pun.

Woy, mau ke mana lagi?” Teriak Deka saat ia mulai menjauh.

Ia berhenti. Menoleh sebentar, dan, “Udah ah mau keluar dulu. Cari angin.” Jelasnya.

Tidak memedulikan ekspresi Deka, ia terus berjalan menuju pintu. Membuka, lalu pergi.

***

Skala prioritas calon nomor empat:
Menang nomor satu
Nomor dua-nya cerutu
Ketiganya cari sekutu
Eh akhlak baru nomor empat.

Kurapikan selotip yang tertempel pada selembar kertas di dinding itu. Kubaca sekali lagi sebait tulisan yang ada di sana. Sempurna. Setelah itu, aku berbalik pergi. Dinginnya malam dan sisa gerimis tidak kuhiraukan. Itulah aku, seseorang yang pernah kau harapkan. Semoga lisanmu tidak menjadi bumerang yang akan berbalik menyakitimu.

Karya Irza Sanika

Komentar