Artikel Berita

Untaian Kisah Pemira KM ITB 2017

Kemeriahan pesta demokrasi tidak pernah absen dari berbagai agenda yang berlomba-lomba menarik perhatian massa kampus. Pemilihan Raya (Pemira) tahun 2017 pun memberikan warna tersendiri bagi pelangi kemahasiswaan kampus ITB. Bermacam-macam kegiatan menyatu padu menjadi sebuah pesta besar demokrasi tahun ini. Lantas, sudah sampai manakah jejak Pemira saat ini?  Simak untaian kisah perjalanan Pemira KM ITB tahun 2017.

Pawai
Pawai atau arak-arakan kedua kandidat  yang dilakukan dengan menyinggahi sekretariat setiap Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) menjadi awal dari rangkaian kisah untuk Pemira tahun ini. Pawai merupakan inovasi dari Pemira tahun ini. Tujuannya adalah untuk meningkatkan partisipasi massa kampus dalam penyelenggaraan Pemira. “Pawai merupakan inisiatif yang bagus dari panitia PEMIRA karena dengan pawai itu sendiri, massa HME bisa mengenal para calon apalagi untuk personality-nya yang harus dilihat secara langsung oleh massa,” ujar Rangga (EL’14) selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Elektroteknik (HME).

Namun, beberapa menganggap bahwa kegiatan terobosan ini masih belum siap. Ketua Himpunan Mahasiswa Desain Produk atau INDDES, Georgieno Karyadi (DP’14), mengungkapkan, “Pawai kandidat K3M beberapa waktu lalu kurang sesuai dengan ekspektasi. Saya mengira akan ada pawai yang lebih meriah lengkap dengan slogan pemira ‘mari berpesta’ yang heboh, dan pada kenyataannya pawai terkesan biasa saja dan membuat saya tidak bersemangat ketika menghadirinya.” Tak hanya itu, pawai untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pun gagal diselenggarakan.

Uji Dengar HMJ
Berbeda dengan tahun sebelumnya, uji dengar atau hearing HMJ kali ini hanya dibagi dalam 4 zona, termasuk zona Jatinangor, dan ditambah dengan 1 hearing terpusat. Zona uji dengar untuk himpunan yang  berlokasi di kampus Ganesha terdiri atas zona timur, zona tengah, dan zona barat. Kemudian, untuk HMJ yang bertempat di Jatinangor, hearing diadakan langsung di Jatinangor dalam satu waktu menimbang jumlah himpunan yang berada di sana tidak sebanyak himpunan di Ganesha.

Uji Dengar TPB G-agal
Sebuah wadah bagi mahasiswa tahun pertama untuk mengenal dinamika perpolitikan dalam KM ITB. Hearing yang sudah menjadi agenda utama tiap tahun ini dibagi menjadi Hearing TPB-G untuk mahasiswa TPB Ganesha dan TPB-J untuk mahasiswa TPB Jatinangor. Hearing TPB seharusnya memiliki potensi yang besar untuk memantik sudut pandang demokratik dan jiwa kemahasiswaan dari  para anggota baru di KM ITB. Nyatanya, uji dengar TPB Ganesha yang pertama harus dibatalkan melihat minimnya massa TPB yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Akhirnya, uji dengar TPB Ganesha dapat terselenggara dengan lancar pada hari Senin (27/9) lalu. Keadaan seperti ini harus menjadi catatan bukan hanya untuk Panitia Pelaksana (Panpel) Pemira dan kandidat Ketua Kabinet KM (K3M) ITB, tetapi juga untuk massa KM ITB sendiri yakni dalam merangkul anggota-anggota barunya. Sebab menurut Malik (FT’14), Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT), gagal terlaksananya hearing TPB yang pertama merupakan suatu kondisi yang parah. “Biasanya, hearing TPB itu lebih ramai daripada hearing zona untuk HMJ,” sambung Malik.

Uji Dengar Jatinangor
Kondisi ITB sebagai multikampus menuntut semua kegiatan diadakan tak hanya untuk penghuni kampus Ganesha, tetapi juga untuk penghuni kampus Jatinangor. Berhubung jarak kedua kampus yang terhitung jauh, sebuah forum terpusat diselenggarakan untuk massa KM ITB di Jatinangor merupakan pilihan yang terefisien. Namun, Hafizh Rizqullah (PG’15) selaku Ketua HMPG menyatakan bahwa uji dengar yang dilaksanakan di Jatinangor tidak efektif dan tidak maksimal. “Suasana Pemira di sini kurang,” tambah Hafizh. Pernyataan Ketua Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan (KMIL), Christopher Handino (RIL’14), pun selaras dengan Hafizh. “Hearing Pemira di Jatinangor terlalu mendadak. Terlebih juga semua HMJ dijadikan satu dalam sekali hearing. Padahal HMJ di sini ada 9, dan di Ganesha dibagi beberapa zona yang terdiri dari 3-4 himpunan. Panitia jadi terlihat tidak fair,” ujarnya.

Forbas(i)
Forbas atau Forum Bersama ini dapat memiliki dampak untuk menyelaraskan semua aspirasi yang disampaikan oleh tiap massa kampus. Namun, sosialisasi yang kurang gencar menyebabkan minimnya partisipasi dari massa sehingga Forbas terkesan basi. Sedikitnya jumlah yang hadir membuat moderator saat itu, Reynaldi Satrio Nugroho (TI’14), menyatakan walk out dan Forbas pun menjadi wacana belaka. Kegagalan terselenggaranya Forbas ini dianggap Rifki (BI’14), Ketua HIMABIO ‘Nymphaea’, dikarenakan oleh publikasi yang kurang serta kandidat yang kurang persuasif. Fahmi (SI’14) juga mengutarakan, “Tipe-tipe kandidat tidak memiliki kemampuan persuasif yang lebih dibanding Presiden KM ITB sekarang.”

Kegagalan Forbas ini pun berimbas kepada massa HMJ, khususnya badan pengurus di dalamnya. “Kaji ulang urgensi dari adanya Forbas tersebut, dan ingat, 1 hari dalam agenda Badan Pengurus (BP) HMJ itu berharga. Bahkan, untuk belajar saja BP sendiri sudah mengagendakan jauh hari.  Apalagi kita mengetahui bahwa HMJ adalah pemegang basis massa di ITB. Jadi, jika akan membuat acara ke depannya, pikirkan dan kaji ulang urgensi dari acara tersebut,” pesan Rangga untuk panpel Pemira.

Uji Dengar Unit
Sebagai wadah meningkatkan minat dan bakat mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) alias unit menjadi bagian penting dari masyarakat kampus. Dengan aktivitas beragam yang diemban masing- masing unit, menjadikan setiapnya memiliki kepentingan sendiri dalam berkemahasiswaan di KM ITB. Uji Dengar Unit sejatinya tidak tertulis di dalam agenda dari pesta demokrasi.  Namun, pada akhirnya, Uji Dengar Unit diadakan sebagai inisiatif oleh kedua kandidat yang merupakan bagian dari massa unit sendiri. Kandidat nomor 1, Wali, ialah Ketua GAMAIS ITB dan Titan, kandidat nomor 2, ialah Presiden PSIK ITB.

Uji Panelis
Kegiatan ini bertujuan untuk menguji wawasan dan kualifikasi para kandidat K3M secara langsung oleh panelis yang tentunya lebih senior dan berpengalaman dalam ber-KM ITB. Panelis yang hadir yakni Ardhi Rasy Wardhana (TA’13) dan Muhammad Ali Nur (MS’12). Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas dari program-program kerja yang diusung oleh kedua calon dalam perwujudannya nanti. Terlepas dari itu, Uji Panelis ditujukan agar massa kampus lebih mengenal kedua calon presidennya.

Debat Kandidat Terpusat
Debat Kandidat Terpusat merupakan agenda terakhir dari rangkaian kampanye langsung pada pesta demokrasi tahun ini. Sebelum memasuki masa reses dan pemilihan, massa KM ITB dan kandidat K3M diberi kesempatan sekali lagi untuk berinteraksi dan saling mengenal.  Debat Kandidat Terpusat sendiri dilaksanakan berdasarkan Konsepsi KM ITB, yakni sebagai kampanye akhir diselenggarakan secara terpusat dalam satu kali sesi.

Kini, KM ITB telah sampai di penghujung dari untaian kisah Pemira 2017. Ibarat sebuah dongeng, banyak konflik telah terlewati hingga menyisakan sebuah epilog untuk dibaca. Namun, bagaimanakah akhir dari kisah ‘Mari Berpesta’ ini? Benarkah rakyat siap untuk berpesta menyambut raja baru dari istana Keluarga Mahasiswa ITB? Mungkinkah akhir pesta ini menjadi awal dari pesta demokrasi yang baru, atau malah diakhiri dengan sebuah kata referendum?

Penulis: Rahma Rizky Alifia (EB’16), Kaiyuma Jabbar Raihan (FTMD’17)
Ilustrasi: Hana Azalia (KR’15)

Komentar