Artikel Featured

Ahmad Wali Radhi dan Rahim Pelayanannya untuk KM ITB

Foto: Christie Stephanie (SF’17)

Pemilihan Raya (Pemira) yang sudah tidak asing lagi di kalangan mahasiswa ITB, selalu meninggalkan jejak yang berkesan, baik bagi para calon, panitia, maupun mahasiswa itu sendiri. Kini, Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) membutuhkan wajah baru untuk memimpin pergerakannya. Dengan dua orang kandidat K3M, kepengurusan Kabinet Keluarga Mahasiswa (KM) ITB siap membuka lembaran kosong lagi. Salah seorang kandidat tersebut adalah Ahmad Wali Radhi (TA’14).

Ahmad Wali Radhi, akrab disapa Wali, adalah kandidat K3M nomor urut 1. Pria yang lahir di Medan, 8 Maret 1996 ini merupakan mahasiswa S1 Teknik Pertambangan angkatan 2014. Hobi membaca dan menulis yang ia miliki mengantarkan Wali menjadi seseorang yang cukup mahir dalam menguasai berbagai bahasa, yakni bahasa Inggris, Arab, Prancis, Jerman, dan Turki.

Di matanya, Kabinet KM ITB bukan hanya sekadar keluarga yang merangkul semua elemen-elemen mahasiswa di ITB, tetapi juga seharusnya bisa menjadi rahim pelayanan. Dengan visinya KM ITB sebagai Rahim Pelayanan dalam Pergerakan Indonesia Madani, Wali siap menjadi pemimpin konsolidasi pergerakan yang memberikan ruang lebih luas bagi setiap elemen kemahasiswaan di ITB untuk bergerak tanpa hambatan.

Semenjak TPB, Wali cukup aktif dalam berkegiatan kemahasiswaan di dalam Kabinet KM ITB. Pengalaman yang cukup banyak mengantarkan dirinya bertemu dengan orang-orang baru yang mempunyai kepribadian berbeda-beda. Hal ini membuatnya mendapatkan motivasi, nasihat, dan pembelajaran yang bermakna dari kakak-kakak tingkatnya, serta dari orang-orang yang pengalamannya sudah cukup beragam.

Selain aktif dalam Kabinet KM ITB, Wali juga aktif dalam berbagai kegiatan himpunan dan unit. Hal ini terbukti dalam track record-nya yaitu sebagai staff of essay division dalam unit Lingkar Sastra tahun 2014/2015, staff of KSSEP division dalam Majalah Ganesha tahun 2014/2015, dan saat ini ia menjabat sebagai Ketua Gamais ITB tahun 2017. “Dalam hal ini, saya ‘terciduk’ juga oleh kakak-kakak di Kabinet KM ITB itu untuk memberikan kontribusi yang besar dengan saya mencalonkan diri sebagai presiden KM,” jelasnya saat ditanyakan apa motivasinya mencalonkan diri dalam Pemira K3M tahun ini.

Ia juga mengungkapkan alasan dirinya untuk maju dalam pesta demokrasi ini adalah adanya dorongan dari rekan-rekan yang yakin bahwa Wali akan mengemban tanggung jawab ini dengan penuh amanah.“Karena saya punya prinsip, ‘Bagi seorang individu, kalau dia mencari-cari amanah, jabatan, posisi atau apapun itu, maka bisa saya katakan dia adalah orang yang hina. Tapi lebih hina lagi, ketika dia sudah dikasih amanah, kepercayaan, dikasih posisi, tapi dia tidak menjalani sebaik mungkin.’ Maka saya menanggapi kepercayaan ini dengan saya mencalonkan diri jadi Presiden KM ITB ini, menawarkan narasi nurani saya,” lanjutnya.

Dalam menjalankan visinya, Wali menawarkan empat misi, yaitu menanamkan semangat pelayanan dalam kemahasiswaan KM ITB, memperkuat sinergisasi pergerakan antarelemen KM ITB, harmonisasi pergerakan mahasiswa dalam karya inovasi, sosial masyarakat, dan sosial politik, dan misinya yang terakhir adalah mengembangkan kemahasiswaan multikampus yang berkelanjutan. Selain empat misi tersebut, Wali juga menawarkan empat program unggulan, yaitu Punten Jatinangor, Kun! (Karya Untuk Negeri), Lantang Bersuara, dan Sinergi Satu Negeri.

Bukan Pemira namanya jika jalan yang dilalui calon-calonnya mulus-mulus saja. Berbagai pahit manisnya pemira pun dirasakan oleh Wali. Lelah fisik dan batin dirasakan oleh Wali beserta promotor dan tim suksesnya. Akan tetapi, Wali tidak menganggap hal tersebut sebagai perintang jalannya, melainkan sebuah tantangan yang harus dipecahkan. Mulai dari kegiatan akademik yang harus dikorbankan hingga melimpahkan wewenang Ketua Gamais kepada juniornya dialami Wali dalam rangkaian proses pemira ini.

Akan tetapi, Wali mempunyai cara tersendiri untuk mengatasi kendala tersebut. Setelah penat dan jenuh atas segala yang terjadi, ia memilih untuk menyendiri sembari me-recharge dirinya dengan rehat sejenak. Selain itu, mengobrol dengan orang tua dan orang-orang terpercayanya membantunya dalam melupakan sejenak betapa melelahkannya proses pemira tersebut.

Wali mengakui jika dibandingkan dengan lawan tandingnya, pengalaman dalam kemahasiswaan lebih banyak sehingga ia memiliki jaringan yang lebih luas, bahkan sampai keluar kampus ITB. Selain itu, ia meyakini bahwa timnya lebih kompak karena ia telah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari sebelum pemira dilangsungkan.

Ada langit dan ada bumi. Jika ada keunggulan, maka tentu ada juga kekurangan. Terkait sebuah post di salah satu media sosial yang dianggap menjatuhkan beberapa orang kandidat K3M, Wali menuturkan bahwa lawannya sudah diuji mentalnya. Itulah yang menjadi kekurangannya, yaitu bahwa ia belum teruji mentalnya secara langsung. Itu pula yang dilihatnya di mata lawannya, bahwa lawannya tersebut mempunyai kekuatan yang tidak dimilikinya dalam menghadapi ujian mental tersebut.

Dalam hal menarik perhatian tim lawan, Wali tidak ambil pusing. Ia tidak ‘bermanis-manis’ kepada tim lawan agar mau mendukungnya. “Ketika sudah ada massa yang dukung kandidat lain ya silakan saja dukung. Saya mencari massa kampus yang masih mengambang,” begitulah pendapat yang dipegangnya.

Student Summit yang selama ini belum berjalan dengan optimal pun membuat Wali merasakan keinginan untuk memperbaikinya. Menurutnya, tidak ada follow up yang jelas dari Student Summit yang dibuat kemarin. Ia menuturkan bahwa pelibatan lembaga selain Kabinet KM ITB itu tidak hanya di Student Summit, tetapi juga ketika musyawarah kerja kabinetnya agar arah gerak yang terjadi nantinya bisa sinergis.

Dengan berbagai “serangan” dari luar yang ingin menggantikan sistem KM ITB, Wali berkata bahwa itu hanyalah pendapat dari sebagian kecil orang. Ia bukan merupakan orang yang menolak perubahan. Jika memang ada sistem yang lebih baik, ya mengapa tidak. Akan tetapi cara yang dilakukan pun harus dilakukan dengan pantas. “Maka jadilah anggota himpunan yang baik, jadilah senator yang bisa memberikan pemikirannya terhadap KM secara menyeluruh,” pesannya. Karena yang punya kewenangan adalah Kongres KM ITB, ia berpesan kepada siapa pun yang ingin mengubah tatanan KM ITB cobalah untuk masuk ke Kongres KM ITB lalu sampaikan ide-ide dan kegelisahannya dengan cara-cara yang sepantasnya.

Terkait lembaga-lembaga di KM ITB, peran masing-masing lembaga tak bisa tergantikan oleh lembaga yang lain. Layaknya tubuh yang lengkap dengan segala organnya, jika salah satu organ tersebut diambil atau tidak dapat berfungsi dengan maksimal maka akan mempengaruhi kinerja organ yang lainnya.

KM ITB juga telah menyediakan wadah bagi para mahasiswa untuk melakukan pergerakan baik dalam bidang karya, sosial masyarakat, maupun sosial politik. “Tetapi kembali ke diri mereka masing-masing. Mereka yang memilih untuk menjadi orang yang seperti itu. Bagi saya ya silakan saja. Yang pasti mereka sadar apa yang mereka lakukan selama perkuliahan ini adalah cara mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia, jangan sampai menyesal,” tuturnya saat ditanya tentang mahasiswa “kupu-kupu”.

Ia menekankan bahwa pilihan orang yang satu dengan orang lainnya tidaklah sama. Oleh karena itu sepatutnyalah pilihan mereka dihargai. Tidak ada salahnya menjadi mahasiswa “kupu-kupu”, siapa yang akan menyangka bahwa ke depannya mahasiswa yang seperti itu akan menjadi dosen yang dituntut harus memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk diajarkan kepada para mahasiswa.

Jika Wali terpilih nanti, ia akan mengadopsi program-program yang telah mencapai kesuksesan saat kepengurusan K3M sebelumnya. Ia akan melanjutkan 3 program, yaitu Kolaborasa, Evaluasi Reformasi, dan Pasar Ide. Di lain sisi, jika Wali tidak terpilih sebagai K3M, maka visi dan misi yang telah ia buat akan ia kembalikan kepada latar belakangnya di Gamais. Selain itu, karena ia gemar membaca dan membuat tulisan, ia juga akan berkarya secara individu. Namun demikian, apabila lawannya memberinya tawaran sebuah posisi di Kabinet KM ITB, maka ia akan menerimanya dengan senang hati sesuai kesepakatan yang telah dibuat.

Dengan rekam jejaknya sebagai Ketua Gamais 2017, Ahmad Wali Radhi siap memimpin dan mewujudkan Kabinet Keluarga Mahasiswa yang bernarasi nurani sebagai rahim pelayanan dalam pergerakan merangkai Indonesia Madani.

Penulis : Adella Nur Apriati (FMIPA’17), Hanif Arfani Rahman (FTTM’17)
Reporter : Adella Nur Apriati (FMIPA’17), Hanif Arfani Rahman (FTTM’17), Ardhy Nur Ekasari (FI’16), dan Christie Stephanie (SF’17)
Editor : Ardhy Nur Ekasari (FI’16)

Komentar