Artikel Featured

Alfatehan Septianta dan Semangat Komunitarianisme untuk KM ITB

Foto: Rahma Rizky (EB’16)

Mari berpesta. Keluarga Mahasiswa (KM) ITB kini sedang dilanda euforia pesta demokrasi yaitu Pemira. Pemira atau Pemilu Raya adalah rangkaian acara bagi mahasiswa ITB untuk memilih Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) ITB.  Saatnya mereka menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin sekaligus penuntun mereka dalam menggapai tujuan, sebagai seorang mahasiswa dan sebagai bagian dari keluarga mahasiswa.

Alfatehan Septianta atau kerap disapa Titan ialah kandidat dari K3M ITB nomor 2. Sama seperti mahasiswa pada umumnya, mahasiswa jurusan Teknik Mesin angkatan 2014 ini memiliki mimpi-mimpi besar, baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Baginya, pencalonan menjadi K3M merupakan kesempatan sekaligus jembatan dalam mewujudkan mimpi-mimpinya. Sosok yang gigih ini mengaku memiliki semangat dalam komunitarianisme yang secara singkat berarti pemusatan perhatian kepada komunitas dan masyarakat.

Salah satu sumber semangatnya dalam berjuang hingga saat ini adalah sang kakek. Kakeknya adalah sosok yang tegas, gigih, dan disiplin. Sewaktu kecil Titan sering didongengkan tentang Sang Singa Podium alias Soekarno oleh beliau. Menurut kakeknya, Soekarno bukan lagi sosok manusia, namun ia telah menjelma menjadi sebuah ‘gagasan’. Titan merasa bahwa ia juga harus bisa menjadi sebuah ‘gagasan’. Karena dengan menjadi sebuah ‘gagasan’, ia akan menjadi abadi.  Lebih tepatnya, ia ingin mewariskan sesuatu ke dunia atau dalam Islam biasa disebut amal jariyah, baik secara gagasan, konsep, nilai-nilai hidup, ataupun sesuatu yang berbentuk fisik. Bagi Titan, hal tersebutlah yang akan membuatnya abadi di dunia dan orang akan mengenangnya. Satu lagi yang menjadi inspirasi dan penyemangat Titan dalam berjuang adalah buku Revolusi dari Secangkir Kopi. Buku tersebut menceritakan betapa luar biasanya perjuangan dan pergerakan mahasiswa ITB era 90-an. Buku tersebut memberikan pembelajaran bahwa ia harus kembali ke masyarakat.

Dalam pencalonan K3M ini, Titan ingin menekankan pergerakan di bidang pendidikan dan kemasyarakatan. Menurutnya, pendidikan merupakan media yang tepat bagi mahasiswa untuk bergerak bersama-sama untuk melakukan perubahan. Perubahan ini dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada masyarakat dan menunjukan keberpihakan sekaligus kepedulian mereka kepada masyarakat. Sebisa mungkin masyarakat disadarkan bahwa mereka bukanlah objek, melainkan subjek dari adanya sebuah perubahan. Dengan belajar dari masyarakat secara langsung, hal tersebut dapat mempermudah mahasiswa dalam melakukan perubahan. Maka dari itu, Titan sangat berharap mahasiswa dapat menjalin dan memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat. Demi terwujudnya salah satu tujuan nasional Indonesia, yaitu mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Titan berpendapat bahwa Kabinet Suarasa sejauh ini sudah sangat baik. Keberjalanan program kerja (proker) Kolaborasa dan pengintegrasian informasi melalui website merupakan keunggulan dari pemerintahan era Ardhi. Namun, masa pemerintahan Ardhi juga dirasa masih memiliki kekurangan, di antaranya, kurangnya penyebarluasan informasi mengenai apa saja yang sudah ia lakukan untuk KM ITB. Menurutnya, penyebarluasan informasi yang cukup dan terarah sangat penting karena dapat menginspirasi banyak orang. “Ardhi kurang sombong. Sombong dalam hal positif ya,” ujarnya. Titan pun menambahkan, dengan meningkatkan frekuensi blusukan, pemerintahan Ardhi akan lebih mengena di mata masyarakat terutama massa KM ITB.

Bagi Titan, demokrasi, pancasila, dan budaya merupakan tiga identitas Indonesia yang utama. Apabila diberi kesempatan untuk menjadi K3M 2018, dirinya ingin memperkuat identitas Indonesia, salah satunya dengan cara menanamkan budaya apresiasi. Titan pun memberikan sebuah contoh sederhana, “Ketika dosen memasuki kelas, maka dengan serentak semua mahasiswa berdiri dan memberikan applause. Tunjukkan bahwa hal sekecil apapun perlu mendapatkan perhatian dan apresiasi.” Meskipun bernilai sangat kecil, namun jika dilakukan terus menerus lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan yang dapat memperkuat identitas masyarakat Indonesia.

Tidak hanya itu, ia berjanji bahwa ia akan bersungguh-sungguh dan menggantungkan harapan pada keberjalanan proker Integrated Information System (I3S). Menurutnya, proker ini merupakan sebuah infrastruktur yang bernilai sustainable atau berkelanjutan. Apabila kelak masa pemerintahannya telah usai, proker I3S ini hanya diprediksikan memerlukan sedikit perombakan untuk dapat diterapkan kembali, maka dengan mempertimbangkan berbagai hal, dirinya pun tak segan menobatkan proker sebagai proker paling penting dan sesegera mungkin untuk dilaksanakan.

Banyak pengalaman yang telah ia arungi, di antaranya dalam Deputi Divisi Kaderisasi Tahap Persiapan Bersama (TPB), Diklat Keamanan bidang Materi dan Metode, dan unit Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK) ITB. Bahkan, kini ia menjabat sebagai Presiden PSIK. Mencalonkan diri sebagai K3M merupakan kesempatan tersendiri baginya untuk mempertajam kemampuan berpikir kritis dan meningkatkan kepekaan emosionalnya terhadap lingkungan. Titan pun berpartisipasi aktif dalam Sekolah Hijau Lestari (SHL).

Membangun dari Pinggiran juga merupakan salah satu proker yang juga akan ia lakukan. Ia mengaku prihatin dengan massa TPB yang dianggurkan. Belum ada wadah yang jelas untuk mewadahi kebutuhan mereka. Maka dari itu, Membangun dari Pinggiran akan mulai diterapkan kepada  massa TPB terlebih dahulu agar arah gerak mereka lebih terarah dan tidak terpecah-pecah. Ada pun program ini sejatinya ditujukan untuk menumbuhkan kembali budaya gotong royong, serta untuk lebih mengenal masyarakat.

Titan sendiri tidak pernah sungkan untuk berjuang bersama masyarakat. Ia menjelaskan bahwa selama menjadi mahasiswa ia hampir tidak pernah absen pada agenda setiap 2 Mei, yakni berjuang bersama para buruh. Tak hanya itu, Titan pun turut serta dalam kegiatan gotong royong di lingkungannya, tergabung dalam kegiatan peremajaan ulang (re-branding) beberapa tempat di Bandung, dan mengajar di salah satu desa di Jepara. Pengalaman tersebut memberikan keyakinan bahwa ia tak lagi ragu melakukan aksi nyata langsung kepada masyarakat. Inilah yang ia ingin tekankan jika ia terpilih menjadi K3M, berkarya bersama masyarakat.

Menurut Titan, salah satu bagian tersulit menjadi K3M ialah di awal masa jabatan, yakni dalam menyelaraskan gagasan dan merangkul orang-orang yang berseberangan dengannya. Namun, dengan kemampuan bergaulnya yang baik, Titan yakin dapat mengatasi kesulitan tersebut. Salah satunya adalah dengan pendekatan kultural. Kemudian, ia akan mengintegrasikan gagasan dan mimpi yang ia bawa dengan mimpi orang lain sehingga kelak menjadi mimpi bersama.

Sebagai penutup, ia meminta dukungan kepada massa kampus ITB, “Gua mengharapkan dukungan penuh dari KM ITB, karena sebagus apapun gagasan yang gua bawa gak bakal terwujud tanpa dukungan.” Ia mengharapkan dorongan dan dukungan dari semua pihak agar Pemira kali ini dapat berjalan dengan  lancar dan berlangsung tertib sesuai peraturan yang ada. Masa depan KM ITB kini berada di tangan setiap anggota KM ITB, maka turutlah menjadi saksi dan mengawal keberjalanan Pemira ini. Ingat lah bahwa satu suara begitu sangat berharga sebab hal tersebut lah yang akan menentukan masa depan ITB.

Penulis : Astri Liyawati (SBM’20)
Reporter : Rona Atikah (SF’17), Firda Haifa (FTTM’17), dan Rahma Rizky (EB’16)
Editor : Amalia Radiva (FKK’16)

Komentar